Temulawak Cegah Pikun 1
Rimpang temulawak kini terbukti berkhasiat mengatasi demensia atau pikun.

Rimpang temulawak kini terbukti berkhasiat mengatasi demensia atau pikun.

Riset ilmiah mengungkapkan temulawak berkhasiat antidemensia.

Apakah Anda sering lupa nama seseorang padahal baru bertemu beberapa menit? Atau mungkin Anda kerap lupa meletakkan barang di suatu tempat. Waspadalah bisa jadi itu salah satu gejala awal demensia. Anggota staf pengajar di Program Studi Ilmu Kesehatan Masyarakat, Fakultas Kedokteran, Universitas Andalas, Idral Purnakarya SKM MKM, mengatakan demensia merupakan suatu kondisi penurunan dan gangguan kognitif meliputi penurunan kemampuan mengingat dan berpikir, gangguan perilaku, serta suasana hati.

Kejadian demensia di Indonesia relatif tinggi. Access Economics PTY Limited memprediksi prevalensi demensia di Indonesia mencapai 1.016 kasus pada 2020. Jumlah itu meningkat tajam dibandingkan pada 2005 dengan prevalensi 606 kasus. Selama proses penuaan, seseorang tidak dapat menghindari demensia karena berkaitan dengan berbagai faktor gaya hidup terutama diet. Faktor risiko lainnya meliputi genetik, umur, jenis kelamin, tingkat pendidikan, dan defisiensi atau kekurangan riboflavin (vitamin B-12).

drh Sapto Yuliani MP meriset temulawak untuk demensia.

drh Sapto Yuliani MP meriset temulawak untuk demensia.

Temulawak
Lazimnya peningkatan prevalensi demensia terjadi bersamaan dengan pertambahan umur dan peningkatan umur harapan hidup. Salah satu cara mencegah demensia adalah dengan mengonsumsi suplemen neuroprotektor. Ternyata salah satu bahan alami yang berfungsi sebagai pelindung saraf terdapat di dapur. Riset terbaru mengungkapkan temulawak dapat mencegah demensia. Itu hasil penelitian drh Sapto Yuliani MP dan Didik Yuni Prasetya.

Periset dari Fakultas Farmasi, Universitas Ahmad Dahlan, Yogyakarta, itu bermaksud mengetahui aktivitas ekstrak etanol rimpang temulawak terhadap fungsi memori pada tikus model demensia yang diinduksi trimetiltin (TMT). Penilaian terhadap fungsi memori dilakukan melalui pengamatan uji radial arm maze dan passive avoidance test. Mereka melibatkan 42 tikus jantan galur wistar sebagai hewan uji dan membaginya ke dalam enam kelompok—setiap kelompok masing-masing 7 tikus.

Baca juga:  Andalan Baru Trio Cursina

Kelompok I sebagai kelompok sehat, tidak menerima asupan temulawak dan TMT. Adapun grup II sebagai kontrol negatif mendapatkan 0,5% larutan Natrium-Carboxymethyle Cellulose (CMC-Na). Peneliti memberikan 120 mg, 240 mg, dan 480 mg suspensi ekstrak etanol rimpang temulawak —semua per kg bobot tubuh—kepada kelompok III, kelompok IV, dan kelompok V. Sementara kelompok VI sebagai kontrol positif menerima 500 mg larutan pirasetam.

Hewan percobaan mendapat perlakuan itu selama 8 hari. Pada hari ke-9 Yuliani dan Didik melakukan uji belajar kepada tikus. Caranya mereka memasukkan hewan pengerat itu ke dalam alat uji menghindar pasif. Alat terdiri atas 2 ruangan yaitu ruangan kecil dan besar. Ruangan kecil berukuran 30 cm x 40 cm, transparan, dan diterangi lampu 25 watt.

Lampu menggantung setinggi 50 cm dari lantai yang terbuat dari besi yang disusun paralel. Ruangan besar berukuran 50 cm x 50 cm x 50 cm. Lantai terbuat dari besi yang disusun paralel juga berjarak 1 cm dan dialiri listrik 5 mA. Kedua ruangan terhubung dengan pintu berukuran tinggi 15 cm dan lebar 20 cm. Pengukuran terdiri atas uji belajar dan uji retensi. Peneliti meletakkan tikus ke ruang terang dan secara pasif diharapkan memasuki ruang gelap.

Rimpang temulawak mengandung zat kurkumin sebagai antioksidan.

Rimpang temulawak mengandung zat kurkumin sebagai antioksidan.

Efek antioksidan
Waktu yang diperlukan tikus untuk berpindah dari ruang terang ke ruang gelap dicatat sebagai waktu belajar. Waktu maksimal dalam pengukuran ini adalah 600 detik. Setelah itu peneliti menyuntikkan 12mg per kg bobot tubuh TMT dan pada hari ke-10 dilakukan uji retensi. Caranya sama dengan uji belajar. Variabel yang menggambarkan kemampuan fungsi memori adalah lama retensi, yaitu selisih waktu retensi dan waktu belajar.

Baca juga:  Kevin Hillarius

Hasil uji menghindar pasif menunjukkan perbedaan signifikan lama retensi tikus antara kelompok II dengan kelompok III—V. Lama retensi masing-masing kelompok dengan perlakuan temulawak yaitu 578 detik, 593 detik, dan 575 detik. Artinya pemberian 120 mg, 240 mg, dan 480 mg ekstrak rimpang Curcuma xanthorriza mencegah penurunan fungsi memori tikus. Bagaimana cara kerja temulawak mencegah demensia?

Yuliani menduga kurkumin dalam temulawak bersifat antioksidan dan neuroprotektif. Antioksidan berperan menangkal radikal bebas pemicu stres oksidatif. “Salah satu penyebab demensia adalah stres oksidatif,” kata alumnus Fakultas Kedokteran Hewan, Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta, itu.

Guru besar Fakultas Farmasi Universitas Padjadjaran, Prof Dr Sidik Apt, menyarankan memarut temulawak segar seukuran jempol kaki. Campur hasil parutan dengan gula jawa, asam jawa, dan kayu manis sesuai selera. Lalu rebus semua bahan dengan 2 gelas air hingga mendidih.

Sebaiknya gunakan wadah tertutup saat merebus. Tujuannya agar minyak asiri tidak hilang. Setelah mendidih, dinginkan, lalu minum sekali sehari saat pagi. Menurut pria kelahiran Bandung, 20 September 1936 itu kurkumin bisa digunakan untuk mengatasi beragam penyakit. Keruan saja termasuk demensia alias penurunan memori. (Riefza Vebriansyah)

Sumber : t r u b u s – o n l i n e . c o . i d

0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments