Telur Terbang 1
Kaviar telur ikan terbang sturgeon, harganya Rp 500.000 per kg.

Kaviar telur ikan terbang sturgeon, harganya Rp 500.000 per kg.

Kaviar dari Makassar? Bukan, di sana orang menyebutnya telur ikan tuing-tuing. Itulah yang sering dibanggakan sebagai kuliner paling eksotis di Sulawesi Selatan. Jadi masuk akal ketika Menteri Kelautan dan Perikanan, Susi Pujiastuti, berkunjung ke Takalar, pejabat setempat dengan bangga menyiapkan hidangan paling mewah itu. Persiapannya pun menjadi berita besar: jamuan telur ikan terbang untuk Menteri.

Namun, bagaimana kelanjutannya? Apakah telur ikan yang harganya berkisar antara Rp350.000—Rp500.000 per kg itu mendapat acungan jempol? Untuk menteri yang sudah melarang perburuan kepiting telur, tentu perburuan ikan telur juga memerlukan kebijaksanaan. Kita tahu bagaimana sejarah konsumsi kaviar. Telur ikan memang sudah lama menjadi santapan raja-raja.

Pelopornya Italia
Sejak abad ke-14 monarki Inggris melindungi ikan petelur di perairannya. Dekritnya jelas, hukumnya tegas, dan dijunjung tinggi sampai sekarang: semua ikan turgeon adalah milik baginda raja dan ratu Inggris. Peraturan itu dikeluarkan oleh Raja Edward II pada 1324.

Hasilnya, sampai sekarang Inggris menjadi produsen kaviar yang berkelanjutan. Ikan turgeon adalah jenis ikan bertulang yang menghuni laut, danau, dan sungai.

Telurnya disebut kaviar dan menjadi makanan mewah di seluruh dunia. Telur ikan bermacam ukuran dan warna, ada telur salmon, ada telur ikan capelin atau shisamo yang membanjiri pasar swalayan di Jakarta. Kita menyebutnya ikan telur capelin. Harganya berkisar Rp50.000—Rp80.000 per kemasan kecil yang dijual beku berlabel “Omega 3” produk Kanada.

Jadi agak lucu. Indonesia penghasil telur ikan terbang yang mahal, dan pengimpor ikan telur yang murah. Termasuk ikannya juga seperti dori, salmon, gindara, dan seterusnya. Telur ikan terbang yang dalam bahasa Jepang disebut tobiko wasabi dibaderol Rp167.000 per satu pak pada September 2015. Bagaimana cara menikmatinya? Resep menikmati telur ikan pertama kali terbit di Italia pada awal abad ke-16.

Sejak itu Sungai Po dikenal sebagai penghasil telur ikan turgeon, sampai dinyatakan punah pada 1972. Ternyata kenikmatan yang tak terkendali selama empat abad, membuat hilangnya ikan petelur kesayangan. Italia adalah penggemar telur ikan selain Rusia. Sentra penghasil kaviar yang diajarkan di sekolah adalah Laut Kaspia. Namun, sejak 2005 Rusia juga membeli 20 ton telur ikan terbang dari Makassar senilai Rp10-miliar.

Baca juga:  Nirwana Para Kukila

Berburu telur
Perburuan telur ikan terbang pun makin menggairahkan. Inilah yang perlu diantisipasi dengan riset mengenai pembenihan dan penangkaran. Di seluruh dunia dewasa ini terdaftar 200 peternakan ikan petelur yang legal dan mendapat sertifikat berkelanjutan. Indonesia memasok telur ikan ke Hongkong, Jepang, dan negara-negara di Eropa. Jangan heran kalau ada nelayan menjadi jutawan dalam sekali pelayaran.

Anda juga bisa meraup Rp30-juta dalam 2—3 hari turun ke laut pada musim ikan bertelur antara April—September. Itulah penuturan seorang nelayan muda, bernama Sahabuddin Beta, kelahiran Bontoa-Botonompo, Kabupaten Gowa, Sulawesi Selatan, pada 1993. Penghasilan besar juga memerlukan modal sampai Rp20-juta untuk operasional kapal. Ia meneruskan bisnis penangkapan ikan yang dirintis oleh orangtuanya.

Cara sederhana mendatangkan ikan terbang adalah meletakkan daun kelapa yang diperlukan untuk menempel telurnya. “Setelah sehari disebarkan daun kelapa kering di dalam laut, hari berikutnya dapat dipanen,” katanya. Sahabuddin Beta memasarkan produknya sampai Taiwan, Vietnam, Jepang, dan Korea Selatan. Pasaran dalam negeri terbatas pada restoran mewah di Makassar dan Papua Barat. Teristimewa dihidangkan dalam sushi gulung, masakan khas Jepang.

Perairan Makassar dihuni 11 dari 18 macam ikan terbang yang hidup di lautan Nusantara. Lebih dari 30% panen telur ikan berasal dari Sulawesi Selatan. Maka jangan heran kalau disuguhi panggang ikan terbang yang sudah berlubang perutnya, karena telurnya diekspor ke luar negeri. Tempat lain yang juga banyak menghasilkan jenis ikan pelagis itu adalah Laut Flores, Laut Natuna, Laut Aru, dan Laut Arafura di Papua.

Eka Budianta

Eka Budianta

Perlindungan laut
Ikan terbang anggota famili Excoetidae termasuk jenis pelagis hidup di permukaan air, dan cenderung mengembara. Oleh karena itu salah satu cara yang paling diharapkan adalah zonasi daerah penangkaran dan budidayanya. Khusus untuk perairan Sulawesi Selatan dan Flores, perburuan ikan terbang perlu lebih diawasi. Bila penangkapan besar-besaran berlanjut terus, dikhawatirkan pada 2030 ikan terbang punah. Begitu kata peneliti perikanan Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Augy Syahailatua.

Baca juga:  Mendamba Laba Lada

“Kemungkinan ikan terbang akan berpindah tempat dari perairan Sulawesi Selatan, tetapi bisa juga populasinya berkurang drastis, bahkan beberapa spesies telanjur punah atau hilang.” Pembenihan ikan terbang sejak 2011 dipacu di Takalar disertai penyuluhan dan penyebaran petunjuk teknis perlindungan, pemeliharaan, dan pemanenan.

Warga setempat menggantungkan kehidupannya pada tiga jenis ikan terbang, yakni torani, caruda, dan banggulung.
Perniagaannya dilakukan sebagai ikan segar, diasapi maupun dikeringkan sebagai ikan asin. Salah satu sebab punahnya bermacam ikan di laut adalah dampak polusi industri. Berita yang memprihatinkan datang dari Tiongkok, akibat semakin jarangnya ikan sturgeon petelur di Sungai Yangtse. Ikan itu diyakini hidup dan berkembang di Tiongkok sejak 140- juta tahun yang lalu.

Dalam setahun terakhir, kantor berita Xinhua di Wuhan mengabarkan tidak tampak lagi ikan itu beriringan di sungai. Kelangkaan ikan semakin dipercepat oleh kemajuan industri yang menimbulkan polusi dan pembangunan bendungan pembangkit tenaga listrik. Padahal, pada 1980-an masih dapat dilihat iring-iringan beribu-ribu ikan sturgeon di sungai itu. Di Sulawesi Selatan juga dirasakan penurunan drastis dalam produksi ikan yang biasanya di atas 600 ton pada 2009, menjadi 400 ton setelah 2010.

Untuk menegaskan perlindungannya, daerah konservasi perlu semakin ditegaskan agar tidak terganggu Alur Lintas Kepulauan Indonesia (ALKI). Jangan sampai perniagaan laut yang semakin sibuk membuat ikan petelur terbang untuk selama-lamanya. Sudah saatnya kita mencanangkan budidaya perikanan laut yang lestari. (Eka Budianta*)

*) Budayawan, kolumnis majalah Trubus sejak 2001, pengurus Tirto Utomo Foundation dan Mitra Utama Senior Living @ D’Khayangan.

Sumber : t r u b u s – o n l i n e . c o . i d

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *