Teknologi Hidroponik 4 Negara 1
Budidaya tomat ceri madu di Belanda menggunakan teknologi hidroponik dilengkapi penggunaan lampu ultraviolet sebagai pengganti sinar matahari di musim dingin.

Budidaya tomat ceri madu di Belanda menggunakan teknologi hidroponik dilengkapi penggunaan lampu ultraviolet sebagai pengganti sinar matahari di musim dingin.

Teknologi hidroponik memungkinkan menanam sayuran di ruangan tanpa sinar matahari atau membudidayakan sayuran dataran tinggi di tepi pantai.

Dalam dunia pertanian, hidroponik muncul sebagai jawaban terhadap keterbatasan lahan dan air bersih. Penanaman cabai secara konvensional sampai berbuah menghabiskan lebih dari 10 liter air per tanaman. Dengan hidroponik, kebutuhan air dalam budidaya tanaman kurang dari separuhnya, hanya 4 liter. Penerapan teknologi hidroponik bertingkat memungkinkan produktivitas melonjak signifikan.

Panel surya menjadi solusi sumber energi untuk berhidroponik.

Panel surya menjadi solusi sumber energi untuk berhidroponik.

Itulah sebabnya Badan Pangan Dunia FAO mendapuk sistem hidroponik model akuaponik sebagai sebagai jawaban atas kebutuhan gizi masyarakat di negara miskin atau usai dilanda perang. Contohnya Bostwana, Etiopia, Jamaika, Libya, atau Palestina. Sistem itu irit lahan, irit air, dan efektif. Di Belanda, teknologi hidroponik yang dilengkapi dengan penggunaan lampu ultra violet dan LED (light emitting diode) membuat pekebun bisa bercocok tanam sepanjang tahun, bahkan ketika musim salju saat matahari jarang bersinar. Di Jepang bahkan tanaman selada dapat dibudidayakan secara hidroponik dalam bangunan tertutup rapat mirip pabrik dengan penggunaan lampu LED sebagai pengganti sinar matahari. Di tanahanir teknologi lampu LED mulai diperkenalkan walaupun masih pada tahap skala hobi. Teknologi hidroponik juga hemat energi sebagaimana pengalaman Muhammad Iqbal dan Andriyan Fatchurohman di Sleman, Yogyakarta.

Hidroponik tak melulu sayuran, pekebun di Thailand membuktikan bertanam melon hidroponik menguntungkan sebab terhindar layu bakteri.

Hidroponik tak melulu sayuran, pekebun di Thailand membuktikan bertanam melon hidroponik menguntungkan sebab terhindar layu bakteri.

Mereka mengantisipasi pemadaman listrik dengan memasang panel surya berkapasitas 100 watt. Iqbal mengatur pompa berdaya 38 watt agar bekerja otomatis pada pukul 06.00—18.00. Penggunaan panel surya mampu memotong 80% ongkos produksi. Sebelumnya Iqbal harus mengeluarkan biaya Rp200.000 per bulan untuk biaya listrik di kebun dan penerangan rumah. Kini, ia cukup membayar Rp70.000.

Baca juga:  Kampiun di Kolam Ikan Mas

Dengan inovasi Tatag Hadi Widodo, pekebun hidroponik di Sidoarjo, Jawa Timur, berani menurunkan tomat ceri dari lokasi berketinggian 1.000 meter di atas permukaan laut (m dpl) ke area berketinggian 6 m dpl. Ia menggunakan irigasi tetes untuk mengalirkan air dan nutrisi ke 3.500 tomat ceri varietas supersweet asal Kanada. Tanaman tumbuh dalam kantong berisi media tanam berupa sabut kelapa dan arang sekam.

Berhidroponik di dalam ruangan dengan bantuan lampu LED (Light Emitting Diode).

Berhidroponik di dalam ruangan dengan bantuan lampu LED (Light Emitting Diode).

Produksi setiap tanaman paling sedikit 6 kg. Dengan harga jual Rp30.000 per kg, Tatag meraup laba Rp140-juta. “Metode hidroponik memudahkan budidaya tomat ceri di dataran rendah,” ujar Tatag. Di Provinsi Nakhonratchasima, Thailand, Tongtana Jarukitpanit mengebunkan melon tanpa tanah sejak 2008. Ia menanam melon dalam 2 rumah tanam berukuran 130 m2, dengan setiap bangunan berisi 500 batang tanaman.

Pria ramah itu melengkapi setiap rumah tanam dengan 10 perangkat hidroponik, masing-masing berukuran 0,5 meter x 5 meter. Ia menyusun kerangka besi setinggi 40 cm dari permukaan lantai untuk menopang selang-selang penyalur air dan nutrisi. Menurut Dr Arief Daryanto MEC, direktur program Sekolah Bisnis Institut Pertanian Bogor, produk-produk hidroponik digemari kalangan menengah ke atas. Pekebun juga peduli terhadap kualitas tanaman sehingga produknya lebih bersih, sehat, dan berpenampilan menarik. (Andari Titisari)

Sumber : t r u b u s – o n l i n e . c o . i d

0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments