Teknik Hazton: Hasil Padi Belasan Ton

Budidaya padi dengan metode hazton meningkatkan panen hingga 41%.

Budidaya padi dengan metode hazton meningkatkan panen hingga 41%.

Cara baru budidaya padi: metoda hazton

Cara Tambah Rejasemita menanam padi di luar kelaziman. Petani di Desa Pegalongan, Kecamatan Patikraja, Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah, itu menggunakan bibit berumur 25 hari. Perbedaan paling mencolok Tambah membenamkan 20 bibit di setiap lubang tanam. Padahal, petani lain biasanya menancapkan maksimal 5 bibit. Jarak tanam juga lebih longgar, 30 cm x 40 cm, sedangkan petani lain memakai jarak tanam 20 cm x 20 cm.

Pada Februari 2014 itu Tambah membudidayakan Oryza sativa di lahan pribadi seluas 1.400m2. Petani padi sejak 2007 itu menanam varietas mekongga yang lazim digunakan. Petani lain menertawakan cara tanam padi ala Tambah. “Tanam padi seperti itu tidak efektif karena nanti bulirnya kecil,” kata Tambah menirukan ucapan tetangga. Meski kesal ia bergeming.

Penemu hazton Ir H Hazairin MS (kanan) dan Ir Anton Kamarudin MS.

Penemu hazton Ir H Hazairin MS (kanan) dan Ir Anton Kamarudin MS.

Metode hazton
Pada Mei 2014 petani yang meragukan cara Tambah bertani tersadar. Saat itu Tambah menuai 1.190 kg gabah kering panen (GKP). Sebelumnya ia hanya menuai 840 kg GKP. Artinya produksi padi Tambah meningkat 41%. Saat itu harga GKP Rp4.000 per kg sehingga Tambah meraih omzet Rp4,76-juta. Setelah dikurangi ongkos produksi Rp1,68-juta, ia mendapat laba Rp3,08-juta.

Menurut Tambah ongkos produksi bertambah. Sebelumnya ia hanya mengeluarkan maksimal Rp1,4-juta. “Saya tetap untung meski ongkos produksi bertambah. Sebab hasil panen lebih tinggi,” kata pria berumur 48 tahun itu. Penambahan ongkos produksi terutama untuk pembelian bibit dan pemupukan. Harap mafhum populasi yang semakin banyak tentu saja menambah kebutuhan bibit.

Tambah memerlukan 14 kg bibit saat itu, lazimnya 6 kg bibit. Artinya kebutuhan bibit meningkat 2 kali lipat lebih dari semula. Cara bertanam padi ala Tambah itu sohor dengan nama hazton. Kepala Dinas dan Kepala Seksi Tanaman Buah Dinas Pertanian Kalimantan Barat, Ir H Hazairin MS dan Ir Anton Kamarudin MS yang kali pertama mengembangkan metode hazton pada 2012.

Bibit berumur 25 hari lebih adaptif.

Bibit berumur 25 hari lebih adaptif.

Sebutan hazton berasal dari gabungan nama Hazairin dan Anton. “Ada juga yang mengartikan hazton, hasilnya berton-ton,” kata Anton. Hazton muncul karena Hazairin dan Anton “galau” produksi padi di Kalimantan Barat rendah, 3,1 ton per ha. Menurut mereka hasil panen padi utamanya berasal dari indukan, bukan anakan. Oleh karena itu mereka menduga makin banyak indukan, semakin tinggi panen.

Percobaan sederhana pun dilakukan. Mereka menanam padi dalam pot. Beberapa pot berisi 1—2 bibit, sedangkan sisanya ditanam 20—30 bibit. Hasilnya malai keluar serempak pada pot yang berisi banyak bibit. Sementara malai padi dalam pot berisi 1—2 bibit tidak serempak. Dimulai dari indukan, lalu anakannya terakhir bermalai. Dampaknya gabah yang dihasilkan tidak seragam. Ada yang terlalu tua hingga mengeras, yang lainnya masih kehijauan.

Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia Purwokerto Rahmat Hernowo (kanan) dan Manajer Unit Komunikasi dan Koordinasi Kebijakan Djoko Juniwarto memberdayakan buruh tani menanam padi dengan metode hazton.

Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia Purwokerto Rahmat Hernowo (kanan) dan Manajer Unit Komunikasi dan Koordinasi Kebijakan Djoko Juniwarto memberdayakan buruh tani menanam padi dengan metode hazton.

Sumbang inflasi
Mereka mengulangi percobaan itu dua kali lagi menggunakan 40 pot dan 960 pot dengan beberapa varietas padi berbeda. Agar lebih meyakinkan mereka menerapkan hazton langsung di lahan. Hasil percobaan semakin meneguhkan hazton mendongkrak hasil panen. Menurut Anton keunggulan lain hazton yakni tanaman bebas serangan keong mas. Sebab pada umur 25 hari batang tanaman keras sehingga tidak disukai hama bercangkang itu.

Tags:
Subscribe
Notify of
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments
0
Would love your thoughts, please comment.x