Namanya Tarzan. Usianya 50 tahun. Kecintaan bapak lima orang anak pada dunia pertanian mengantarkan dirinya menjadi ketua kelompok tani dan ketua Lumbung Pangan di dusun I, Desa Sukajadi, Kec. Muara Kuang, Kab. Ogan Ilir, Sumatera Selatan.

Berkat kerja keras dan keuletan petani teladan tersebut, produksi pertanian di wilayahnya pun tercatat meningkat.

Kerja keras dan keuletannya dimulai dari mengikuti kegiatan orangtuanya saat muda. Saat usianya 21 tahun, ia memulai mengelola sendiri 2 hektar lahan dengan menanam padi. Selain itu, ia juga mengelola 2 hektar lahan palawija dan sayuran serta 7 hektar tanaman karet.

Sebagai Ketua Kelompok Tani Bina Warga yang beranggotakan 21 petani, Tarzan selalu memberi motivasi kepada anggotanya agar berusaha dengan semangat. Dalam menjalankan usaha tani dan organisasinya, pihaknya selalu dibantu Nasrudin, Tenaga Harian Lepas Tenaga Bantu Penyuluh Pertanian (THLTB PP).

Selain sebagai ketua kelompok tani dan lumbung pangan, Tarzan juga dipercaya sebagai anggota Gapoktan Cahaya Tani dan pengurus Kelompok Kontak Tani Nelayan Andalan (KTNA) Kab. Ogan Ilir.

Beristrikan Arjuna, Tarzan selalu mendapat dukungan penuh dari istrinya. Arjuna sebagai istri pun beraktivitas sebagai Ketua Kelompok Wanita Tani Harapan Maju. Suami istri ini terkenal berkat kegiatannya membantu pemerintah memajukan dan meningkatkan pertanian di Desa Sukajadi.

Selain itu, Tarzan dan Arjuna pun dikenal senantiasa memberikan pengertian kepada masyarakat untuk mengubah perilaku ketika melaksanakan usaha taninya. Mereka menginginkan petani berpikir cerdas dan bekerja keras guna mencapai hasil produksi tinggi.

Tarzan menyatakan, tidak mudah menggerakkan anggota kelompoknya agar bekerjasama mengikuti kegiatan. Namun, ia selalu memberi motivasi pada para anggotanya untuk berkembang.

Baca juga:  Dominggus Nones, Petani Pala Beromzet Rp 31,5 Miliar

Pengembangan kelompok tani pun diarahkan pada peningkatan kemampuan kelompok dalam melaksanakan fungsinya, peningkatan kemampuan para anggota dalam mengembangkan agribisnis, dan penguatan kelompok tani menjadi organisasi petani yang kuat dan mandiri.

Untuk itu, Tarzan senantiasa menggerakkan anggotanya agar mengadakan pertemuan/rapat anggota secara berkala dan berkesinambungan. Hal itu dilakukan agar permasalahan yang ada dapat segera dipecahkan secara partisipatif.

Dalam pertemuan tersebut, disusun juga rencana kerja kelompok secara bersama, agar kegiatan dapat dilaksanakan anggota sesuai kesepakatan bersama, dan setelah akhir pelaksanaannya dapat dilakukan evaluasi. Kegiatan kelompok yang senantiasa dilakukan antara lain tanam bersama, pemeliharaan saluran irigasi, gropyokan hama tikus, dan sebagainya.

Sebagai Ketua Kelompok Lumbung Pangan yang beranggotakan 42 petani di Desa Sukajadi, Tarzan sangat yakin petani memegang peranan yang sangat strategis dalam kedaulatan pangan. Pemantapan kedaulatan tersebut harus dilakukan dengan peningkatan ketersediaan di tingkat rumah tangga dengan mengembangkan komoditas lokal.

Komoditas pangan pun bersifat musiman, sementara pendapatan masyarakat sangat fluktuatif, sehingga menuntut perlunya cadangan pangan.

Di samping itu, kondisi iklim yang tidak menentu sering menyebabkan terjadinya pergeseran penanaman, masa pemanenan yang tidak merata sepanjang tahun, serta bencana tidak terduga seperti banjir, longsor, kekeringan, dan gempa.

Atas dasar itu, sistem percadangan pangan yang baik sangat diperlukan. Lumbung pangan yang terletak di setiap desa pun dibangun mengantisipasi kejadian-kejadian tersebut.

Sebagai petani pemilik dan penggarap dengan komoditi utama padi—di samping komoditi karet, kedelai, mentimun, tomat, cabai dan lainnya yang dijalankan sang istri—Tarzan dan Arjuna dapat memberi pendidikan yang memadai bagi kelima putra-putrinya.

Baca juga:  Suwarno, Petani Teladan yang Tak Pernah Berhenti Berusaha

Hal tersebut tidak mengherankan. Sebab, setiap hektar lahan yang ditanami padi dapat menghasilkan 4 ton gabah kering panen setiap satu musim tanam; sementara dari tanaman karet yang dikelolanya dapat menghasilkan 50 kg getah karet setiap minggu; dan dari tanaman sayuran yang ditanam dengan pemeliharaan yang intensif dapat memberikan hasil sekitar 9 ton dalam waktu 3 bulan.

Tarzan melakukan usaha tani itu semua dengan berpedoman pada 4 tepat: tepat bibit, tepat tanam, tepat panen dan tepat harga. Tidak heran, jika dari hasil panen ia hidup berkecukupan.

Namun, kekayaan itu tidak membuat Tarzan dan keluarganya menjadi orang sombong. Kehidupannya tetap saja bersahaja.

Kunci dari keberhasilan Tarzan adalah adanya kesahajaan, rasa kebersamaan, kekeluargaan, serta keuletannya mengembangkan usaha, baik secara individual maupun berkelompok. Hal tersebut mengantarkan Tarzan meraih penghargaan yang cukup bergengsi, yaitu Petani Berprestasi tingkat Kabupaten, tingkat Provinsi dan tingkat Nasional.

Semua usaha dan kerja kerasnya tersebut mengantarkan dirinya menjadi tamu Presiden Susilo Bambang Yudhoyono di Istana Negara, beberapa tahun lalu.

Sumber : t r i b u n n e w s . c o m