Budidaya krisan tanpa greenhouse lebih menguntungkan

Budidaya krisan tanpa greenhouse lebih menguntungkan

Panen krisan kualitas super meski tanpa greenhouse.

Meski tanpa greenhouse, Junaidi Ketaren bisa memanen krisan berkualitas super, yakni berpenampilan bersih tanpa noda bekas serangan hama dan penyakit fusarium, karat daun, serta virus mozaik. Menurut pemilik toko bunga di di Makassar, Sulawesi Selatan, Yeni Ariani krisan berkualitas bagus tampak segar dan bertangkai besar. “Saya mensyaratkan panjang tangkainya minimal 60 cm,” ujar Yeni.

Dari total produksi 100.000 tangkai per siklus tanam atau 6—7 bulan, Junaidi memperoleh 75.000 tangkai krisan kualitas super dari lahan 5.000 m2. Menurutnya biaya produksi per tangkai krisan tanpa greenhouse hanya Rp700. Untuk membudidayakan 100.000 tangkai, pekebun berusia 38 tahun itu menghabiskan Rp70-juta. Harga setangkai krisan kualitas super di tingkat petani di Berastagi kini Rp1.500, sementara kualitas biasa Rp750.

Junaidi Ketaren mendapatkan krisan berkualitas super meski membudidayakan tanpa greenhouse

Junaidi Ketaren mendapatkan krisan berkualitas super meski membudidayakan tanpa greenhouse

Varietas lokal
Bandingkan jika menggunakan greenhouse berukuran 18 m x 15 m, petani krisan Chrysanthemum sp perlu menginvestasikan minimal Rp15-juta. Di lahan 5.000 m2, petani bisa membangun 18 greenhouse yang mampu bertahan 5 tahun.

Menurut Junaidi biaya produksi krisan di dalam greenhouse di Indonesia mencapai Rp885 per tangkai—belum memperhitungkan biaya pengadaan lampu, instalasi irigasi, dan listrik. Dengan pemilihan varietas krisan unggul ditambah budidaya intensif, menanam krisan tanpa greenhouse terbukti sangat menguntungkan karena biaya produksi lebih rendah dan tetap mampu menghasilkan bunga bermutu tinggi.

Tekwa putih salju jenis krisan lokal yang sudah adaptif

Tekwa putih salju jenis krisan lokal yang sudah adaptif

“Kuncinya ada dua, varietas yang digunakan dan teknik budidaya yang intensif,” ujar pekebun di Kutagadung, Kecamantan Berastagi, Kabupaten Karo, Provinsi Sumatera Utara, itu. Pemulia krisan di Balai Penelitian Tanaman Hias (Balithi), Prof Dr Budi Marwoto, mengungkapkan lazimnya budidaya krisan di Indonesia menggunakan greenhouse.

Baca juga:  Seruni Tanpa Rumah

Petani dapat mengadopsi inovasi ala Junaidi. “Syaratnya varietas yang digunakan krisan lokal unggul dan teknik budidaya juga harus intensif, terutama pencegahan hama dan penyakit,” ujar Budi. Junaidi menggunakan krisan lokal jenis tekwa kuning dan tekwa putih salju. Tetua krisan itu berasal dari Belanda yang kini tersebar luas dan berkembang di Berastagi.

Itu karena petani menanam krisan lokal secara turun-temurun. “Pada krisan lokal Berastagi, petani lokal telah membudidayakannya sejak 1960-an,” tutur Budi. (Baca: “Seruni Tanpa Rumah”, Trubus edisi Februari 2015). Selain itu Junaidi Ketaren membudidayakan krisan secara intensif. Dengan budidaya intensif, 75% krisan Junaidi masuk kualitas super. (Bondan Setyawan)

Sumber : t r u b u s – o n l i n e . c o . i d