Durian kakung, biji maksimal hanya sebesar petai

Durian kakung, biji maksimal hanya sebesar petai

Durian tanpa biji, berdaging tebal, dan manis.

Begitu Iwan Supriyanto membuka durian berukuran sedang itu tampaklah daging buah yang kuning cerah. Warnanya amat seronok. Daging buah tebal itu membangkitkan selera. Trubus mengambil sepongge dan menggigit bagian ujungnya. Wuih… rasanya paduan manis, gurih, dengan sedikit pahit yang pas. Ketika gigitan mencapai bagian tengah, tak menemukan biji dalam bungkusan daging buah itu.

Kebetulan? Iwan, Amin Hartoyo, dan Muhammad Jupri yang menikmati durian itu juga tak menemukan biji. Itulah durian kakung hasil panen dari pohon milik Amin Hartoyo di Desa Sidomulyo, Kecamatan, Salaman, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah. Masyarakat menyebut durian tanpa biji itu kakung. Dalam bahasa Jawa, kata itu bermakna kakek, merujuk pada pemiliknya yang kini berusia 72 tahun.

Amin Hartoyo: “Sejak tahun 60-an sudah ada yang menjadi pelanggan durian saya.”

Amin Hartoyo: “Sejak tahun 60-an sudah ada yang menjadi pelanggan durian saya.”

Turunan induk
Pohon durian berumur 15 tahun itu tumbuh di tepian sawah milik Amin Hartoyo. Tinggi pohon anggota famili Bombacaceae itu 15 meter. Menurut Amin pohon itu berbuah perdana pada umur 10 tahun. Buah berukuran sedang, lingkar buah 56 cm dan panjang 25 cm. Produksi rata-rata 50—60 buah per tahun. Sejak berbuah perdana hingga kini memang tanpa biji. Jika ada biji paling hanya hanya seukuran biji petai pada 1—2 buah.

Amin mengatakan pohon berdiameter 26,5 cm itu hasil okulasi. Batang atas berasal dari sebuah pohon yang tumbuh di lahan Amin. Ia terpaksa menebang pohon besar itu karena posisinya di tepi pekarangan. Sebab, seorang tetangga akan membangun rumah di dekat pohon. “Padahal buahnya bagus,” kata Amin. Buah bagus itu antara lain berdaging tebal, beraroma khas, memiliki rasa manis gurih dengan sedikit pahit yang pas, dan berbiji kempis.

“Meski batang terlihat kecil, teksturnya terlihat seperti pohon tua,” ucap Iwan Supriyanto

“Meski batang terlihat kecil, teksturnya terlihat seperti pohon tua,” ucap Iwan Supriyanto

Ketika Amin memutuskan untuk menebang, ukuran pohon dua pelukan orang dewasa. Pada dekade 1960, kelegitan durian dari pojok kebun itu sohor di Magelang dan sekitarnya. Setiap musim durian, seorang penggemar durian dari Kabupaten Temanggung yang berjarak 40 km rela menempuh perjalanan bolak balik hanya untuk mencecap sensasi istimewa durian tanpa biji itu. Itulah sebabnya Amin enggan kehilangan durian istimewa.

Baca juga:  Si Jangkung pun Merunduk

Ia menyelamatkan durian dengan menempel ujung tunas durian itu. Kebetulan ia memiliki sebatang lagi yang tumbuh di pinggir sawah. Amin tak mengetahui jenis durian yang akhirnya menjadi batang bawah. Yang pasti tunas itu menempel baik dan tumbuh sempurna menjadi batang kokoh. Selang 10 tahun, pohon di tepi sawah itu memunculkan buah untuk kali pertama.

Ukuran, bentuk, dan rasanya sama persis dengan induknya yang sudah ditebang. Termasuk biji hanya sebesar petai, bahkan kerap nihil. Setiap tahun pohon itu selalu berbuah. Artinya hingga 2015, pohon berumur 15 tahun itu baru lima kali berbuah. Sayangnya, produksi buah dua tahun terakhir turun. “Buah rontok ketika baru terbentuk pentil, mungkin karena cuaca yang tidak mendukung,” kata Iwan Supriyanto, putra bungsu Amin.

Menurut peneliti buah di Balai Penelitian Tanaman Buah Tropika di Solok, Sumatera Barat, Panca Jarot Santoso SP MS, durian tanpa biji atau berbiji kempis lantaran inkompatibilitas alias ketidak cocokan putik sebagai organ betina dengan tepung sari sebagai organ jantan. Inkompatibilitas itu menyebabkan perkawinan tidak menghasilkan biji, kempis, atau tidak sempurna.

“Aswi mempunyai tekstur sedikit bertepung,” ujar Nodi Fajar

“Aswi mempunyai tekstur sedikit bertepung,” ujar Nodi Fajar

“Efeknya perbanyakan buah dengan biji nyaris tidak mungkin,” kata Jarot. Penyebab inkompatibilitas antara lain genetik, anatomi, atau pengaruh lingkungan. Secara genetik ketidakcocokan terjadi karena tanaman tidak mampu menghasilkan lembaga biji atau steril. Pengaruh anatomi antara lain berupa keragaman ukuran putik atau perbedaan waktu kematangan putik dan polen. Adapun pengaruh lingkungan antara lain berupa ketersediaan nutrisi, air, atau sinar matahari.

Irigasi pipa
Selain kakung, durian kempis lain adalah aswi yang bercitarasa manis pulen, gurih lengket, dan sedikit pahit. Daging buah tebal, bertepung, berwarna kuning cerah, biji kempis kering dan Setiap juring berisi 3—4 segmen. “Aromanya khas durian kampung: harum menyengat,” kata pengusaha kuliner di Balikpapan, Kalimantan Timur, Nodi Fajar, yang mengoleksi durian aswi.

Bibit kakung lebih kokoh dan tahan penyakit

Bibit kakung lebih kokoh dan tahan penyakit

Bentuk buah bulat sempurna dengan duri lebar. Buah matang pohon berbobot rata-rata 2,3 kg dan tahan simpan 3—4 hari. Pria 36 tahun itu mendapatkan aswi di Desa Semoi, Kecamatan Sepaku, Kabupaten Penajam Paser Utara, Provinsi Kalimantan Timur. Nodi memberi nama durian itu aswi sesuai nama pemilik pohon induk. Kelebihan-kelebihan itu membuat Nodi tertarik mengoleksinya.

Baca juga:  Ilmuwan Muda Alltech

Kini pohon induk berumur 13 tahun dan empat kali panen dengan bentuk dan produktivitas stabil, mencapai 100 buah per musim. Tajuk kokoh dan percabangan kuat. Di tempat asalnya pohon durian itu dibiarkan begitu saja tanpa perawatan, besar pohon sepelukan orang dewasa. Nodi mengokulasi dari pohon induk dan menempel pada bibit durian yang tumbuh di kebunnya. Kini tingginya 2 meter dengan perawatan minim.

Setiap tahun Nodi memupuk saat awal musim hujan dengan 25 kg pupuk kandang fermentasi, yang ia benamkan di lingkar tajuk. Ayah 4 anak itu mengandalkan pipa irigasi untuk merawat semua tanaman di lahan 1,8 ha itu. Nodi menyemprotkan pestisida hanya jika terjadi serangan hama atau penyakit. (Muhammad Awaluddin)

Sumber : t r u b u s – o n l i n e . c o . i d