Tanpa Atap Laba Berlipat 1
Sayuran hidroponik lebih segar dan bercitarasa renyah

Sayuran hidroponik lebih segar dan bercitarasa renyah

Berkebun hidroponik tanpa atap alias di ruang terbuka kini kian marak di berbagai kota. Laba pekebun lebih besar karena tanpa investasi greenhouse.

Papan nama berukuran 7 cm x 5 cm bertangkai plastik setinggi 30 cm itu menyembul di antara hijaunya daun selada. Tepat di tengah papan kedap air itu tertulis nama Java Paragon. Di papan-papan lain tertera nama berbeda: Shangri-La, Pancious, U-Cafe, Bakerzin, dan Igor. Nama di setiap papan merupakan pemesan sayuran hidroponik. Padahal, sayuran anggota famili Brasicaceae itu baru berumur 10 hari.

Di kebun hidroponik terbuka milik Venta Agustri di Surabaya, Jawa Timur, itu terdapat 12 papan dengan nama berbeda-beda. “Artinya sayuran itu sudah dipesan sehingga tidak bisa dibeli pihak lain,” kata pemilik Kebun Sayur Surabaya itu. Kini Venta melayani 8 pelanggan tetap, yakni hotel, restoran, dan kafe. Sarjana Teknik Sipil alumnus Institut Teknologi Sepuluh Nopember itu memanen 20—25 kg sayuran setiap hari yang semuanya terserap pasar.

Kebun hidroponik Venta Agustri seluas 600 m2

Kebun hidroponik Venta Agustri seluas 600 m²

²

Permintaan tinggi
Menurut Venta harga jual sayuran hidroponik di tingkat pekebun Rp50.000—Rp70.000 per kg. Dengan begitu omzet pria 41 tahun itu mencapai Rp1.750.000 per hari setara Rp52,5-juta sebulan. Venta tetap panen pada hari libur sekalipun, termasuk Sabtu dan Ahad. Belum juga panen, para pembeli antre di kebun Venta. Mereka inden karena kualitas sayuran hasil budidaya tanpa atap itu sangat tinggi.

Sekadar menyebut contoh, selada romaine, oakleaf, dan leaf lettuce berpenampilan mulus, tanpa bekas gerekan serangga, dan citarasanya amat renyah. Pantas para konsumen berebut sayuran hidroponik dari kebun Venta. Menurut pekebun yang berhidroponik pada Juni 2014 itu total permintaan sayuran mencapai 40 kg per hari. Satu kilogram berasal dari 10 sayuran.

Teknologi budidaya tomat dengan sistem irigasi tetes

Teknologi budidaya tomat dengan sistem irigasi tetes

Untuk menutup kekurangan 15–20 kg sayur ia bekerja sama dengan 2 pekebun lain di Kabupaten Pasuruan dan Kotamadya Batu, keduanya di Provinsi Jawa Timur, yang juga berkebun hidroponik terbuka. Kebun hidroponik milik Venta semula rumah yang dirobohkan. Kerabatnya, pemilik rumah itu, hendak membangun penginapan. Venta menyewa lahan itu untuk berbisnis hidroponik.

Pantas jika lokasi kebun strategis karena dikelilingi rumah tinggal. Menurut Venta, lokasi kebun di tengah kota Surabaya sangat menguntungkan. Itu karena, “Selama ini banyak hotel yang mengambil pasokan sayuran dari Malang. Jarak Surabaya—Malang hingga 98 km membuat sayuran itu layu sehingga penampilannya kurang cantik. “Dengan hadirnya kami di sini sayuran pun lebih segar,” kata Venta.

Banyak juru masak di hotel dan restoran yang tertarik dengan sayuran hidroponik milik Venta. “Mereka semringah melihat sayuran kami sebab bagus dan beragam sehingga dapat diolah menjadi aneka menu italia, jepang, dan lainnya,” tutur pehobi mancing itu. Pengguna jalan juga acap mampir begitu melihat beragam sayuran di atas talang di kebun Venta. “Mereka datang karena tertarik dan penasaran dengan sayuran yang saya tanam. Setelah melihat sayurannya bagus, mereka pun tertarik membeli untuk dibawa pulang,” kata Venta.

Venta Agustri memanen rata-rata 25 kg sayuran daun per hari

Venta Agustri memanen rata-rata 25 kg sayuran daun per hari

Tren
Venta bukan satu-satunya yang merasakan tingginya permintaan sayuran hidroponik. Pekebun sayuran hidroponik di Cileunyi, Kabupaten Bandung, Jawa Barat, Roni Hartanto Gunawan, menerima permintaan 10 ton sayuran hidroponik per bulan untuk memenuhi beberapa pasar swalayan di Bandung dan Jakarta. Sayang, permintaan itu belum terpenuhi lantaran kapasitas produksi pekebun hidroponik sejak 2010 itu baru 6—8 ton per bulan.

Baca juga:  Suji Lawan Wasir

Roni menanam beragam sayuran seperti kailan, caisim, dan pakcoy dengan sistem hidroponik di lahan seluas 5.000 m2. Alumnus Universitas Padjadjaran itu mengatur pola tanam sedemikian rupa agar mampu panen rutin setiap hari rata-rata 200—250 kg. Masih di Bandung Eva L A Madarona juga menanam sayuran daun dan buah secara hidroponik terbuka sejak awal 2013.

Dua tahun terakhir pekebun hidroponik beratap langit alias tanpa greenhouse seperti Venta Agustri dan Roni Hartanto Gunawan bermunculan di berbagai daerah. Sebut saja Rubeni Hutagalung di Pekanbaru, Provinsi Riau, yang membuka kebun hidroponik seluas 270 m2 sejak Juni 2014. Agus Riswanto di Kabupaten Batang, Jawa Tengah, juga menerapkan sistem hidroponik di lahan 1.000 m2 sejak Oktober 2013.

Eva LA Madarona menanam sayuran daun dan buah secara hidroponik terbuka sejak awal 2013

Eva LA Madarona menanam sayuran daun dan buah secara hidroponik terbuka sejak awal 2013

Pehobi hidroponik tanpa atap pun muncul dari berbagai kalangan dengan profesi berbeda. Contohnya Bupati Bandung, Dadang M Naser, yang menaman sayuran hidroponik terbuka sejak 2012. Sementara aktor film Mark Sungkar serius menekuni hobi bertanam sayuran tanpa tanah itu sejak setahun silam (baca: Mereka Bertanam Tanpa Tanah halaman 26—28). Meski demikian bukan berarti berkebun hidroponik tanpa atap bagai kisah dari surga. Beragam hambatan bakal menghadang para pekebun (baca boks: Aral Beratap Langit halaman 16)

Lebih hemat?
Mengapa mereka terpincut hidroponik tanpa atap? Roni Hartanto mengatakan, ”Hidroponik tanpa greenhouse dipilih karena hemat biaya investasi.” Menurut pekebun hidroponik terbuka sejak 2010, Ir Kunto Herwibowo, biaya investasi berkebun hidroponik tanpa atap memang lebih murah. Ia menggambarkan biaya investasi di lahan 500 m2

sekitar Rp169-juta. Bandingkan jika pekebun hidroponik itu mendirikan greenhouse, maka membutuhkan biaya tambahan Rp120-juta.
Biaya untuk membangun greenhouse saat ini mencapai Rp240.000 per m2. Jika produksi sama, yakni 760 kg sayur, maka keuntungan hidroponik terbuka lebih tinggi dibandingkan dengan naungan. Dengan harga jual Rp40.000 per kg, pekebun hidroponik tanpa naungan memperoleh keuntungan Rp7-juta per bulan. Sementara, keuntungan pekebun hidroponik dalam greenhouse hanya Rp5-juta per bulan.

Artinya, laba hidroponik terbuka lebih tinggi Rp2-juta per bulan dibandingkan dengan yang menggunakan greenhouse. Minimnya biaya investasi dan untung lebih tinggi itu pun mendorong munculnya pekebun hidroponik terbuka di berbagai daerah. Lagi pula para pekebun tetap dapat menghasilkan sayuran berkualitas tinggi meski menanam di lahan terbuka.

Sayuran hidroponik tersedia setiap saat di pasar swalayan dengan harga relatif stabil

Sayuran hidroponik tersedia setiap saat di pasar swalayan dengan harga relatif stabil

Direktur Program Pascasarjana Manajemen dan Bisnis Institut Pertanian Bogor, Dr Ir Arief Daryanto MEc, menuturkan maraknya pekebun membudidayakan sayuran secara hidroponik lantaran lahan pertanian semakin terbatas, sementara kebutuhan sayuran terus meningkat. “Budidaya sayuran secara konvensional sangat tergantung pada musim, sementara dengan hidroponik sayuran dapat ditanam sepanjang tahun sehingga tersedia setiap saat dengan harga relatif stabil. Bandingkan dengan sayuran konvensional yang harganya fluktuatif,” katanya.

Baca juga:  Pupuk Hidroponik

Dengan hidroponik waktu budidaya juga lebih singkat karena tidak ada pengolahan tanah. “Namun, hidroponik adalah capital intensive (padat modal, red),” ujar Ketua Asosiasi Program Magister Manajemen Indonesia itu. Oleh karena itu jenis sayuran yang ditanam secara komersial pun yang bernilai tinggi. Contohnya pakcoy, caisim, kailan, dan salada eksklusif—seperti romaine, oakleaf, dan endive. “Tapi kalau pehobi hidroponik biasanya menanam sayuran sesuai dengan jenis sayuran yang disukai karena untuk konsumsi sendiri,” katanya.

Umumnya budidaya sayuran hidroponik di dalam greenhouse

Umumnya budidaya sayuran hidroponik di dalam greenhouse

Ketersediaan pupuk jadi pun menjadi salah satu pemicu tren hidroponik. “Dahulu orang harus membeli 13 jenis nutrisi untuk hidroponik kemudian diramu sendiri,” kata Arief. Kini pehobi tinggal datang ke toko pertanian terdekat karena di sana sudah tersedia pupuk campuran AB sehingga praktis. Pehobi cukup mencampur larutan kedua pupuk itu dan pupuk pun bisa langsung digunakan.

Margin 75—100%
Faktor lain pemicu tren adalah kesadaran masyarakat akan hidup sehat. “Perkembangan masyarakat kelas menengah ke atas di Indonesia yang meningkat pesat juga mendorong permintaan sayuran hidroponik. Mereka menginginkan sayuran yang bersih, sehat, bebas pestisida, organik, dan ramah lingkungan,” kata Arief yang memprediksi tren berkebun hidroponik akan semakin berkembang dalam jangka panjang. Itu karena ketersediaan lahan semakin terbatas dan kebutuhan produksi pangan yang semakin meningkat baik kuantitas maupun kualitas.

Tingginya kesadaran masyarakat untuk mengonsumsi makanan sehat jadi salah satu pemicu tren hidroponik

Tingginya kesadaran masyarakat untuk mengonsumsi makanan sehat jadi salah satu pemicu tren hidroponik

Di pasaran harga jual sayuran hidroponik lebih tinggi dibandingkan konvensional. “Harga jual sayuran hidroponik bisa 5 kali lipat lebih tinggi dibandingkan konvensional,” kata Venta. Namun, karena sayuran hidroponik mengisi pasar tertentu—kelas menengah ke atas—sehingga harga jual lebih tinggi pun tak masalah. “Biasanya masyarakat menengah ke atas belanja di supermarket sehingga harga tidak terlalu jadi masalah,” ujar Arief.

Daya jual tinggi juga karena kualitas sayuran hidroponik lebih bagus dibandingkan konvensional. “Sayuran lebih bersih, sehat, rasanya lebih renyah, dan tidak liat,” kata Arief. Mutu bagus itu pula yang membuat warga Pekanbaru memburu sayuran hidroponik di kebun Rubeni. Pada akhir Oktober 2014 Rubeni berencana melakukan “gunting pita” dengan pejabat setempat dengan harapan talang meja hidroponik sudah penuh dengan tanaman sehingga terlihat menarik.

540_ 14Namun, pada awal Oktober 2014 masyarakat memborong selada keriting hijau lorenzo. Meja talang jadi tak kelihatan penuh, tetapi sudah bolong-bolong karena sayuran sudah dibeli warga. Melihat penampilan sayuran yang aduhai, warga rela membayar mahal, hingga Rp70.000 per kg. Apakah berarti laba pekebun juga melonjak?

Roni mengatakan, “Dibandingkan budidaya konvensional, budidaya hidroponik lebih menguntungkan secara ekonomi walaupun investasi awal dan biaya operasional lebih besar dari konvensional.” Biaya perawatan budidaya intensif meliputi rockwool, pupuk, tenaga kerja, dan listrik. “Margin keuntungan sistem konvensional 50%, kalau hidroponik marginnya 75%—100%,” ujar alumnus Teknologi Benih, Fakultas Pertanian, Universitas Padjajaran itu. Itu karena potensi kerugian akibat hama penyakit lebih besar pada budidaya konvensional.

Menurut Roni, biaya yang dibutuhkan untuk budidaya hidroponik per m2 berbeda-beda tergantung jenis tanamannya. Sebagai gambaran, “Untuk pakcoy, secara hidroponik biaya total yang harus dikeluarkan Rp40.000 per m2 untuk hasil 3—4 kg dengan waktu panen 17 hari. Sementara kalau konvensional, biayanya Rp10.000—Rp 20.000 per m2 tapi hasilnya tidak bisa diprediksi dan waktu panen lebih lama sekitar 30 hari setelah persemaian,” katanya. Itulah sebabnya berkebun hidroponik tanpa atap, laba pun berlipat. (Rosy Nur Apriyanti/Peliput: Andari T, Desi SR, Riefza V, dan Rizky F)

Sumber : t r u b u s – o n l i n e . c o . i d

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *