Pisang FHIA-17, bobot mencapai 60 kg per tandan. (Foto: Suswati Febri)

Pisang FHIA-17, bobot mencapai 60 kg per tandan. (Foto: Suswati Febri)

Pisang baru bertandan panjang terdiri atas 19 sisir. Rasa buah manis.

Ketua kelompok tani di Deliserdang, Provinsi Sumatera Utara, Irwan Sukirno, takjub melihat tandan buah pisang yang panjang dan penuh buah. Tandan buah pisang itu memang panjang hingga 2 meter. Setandan terdiri atas 15—19 sisir. Bandingkan dengan pisang lain yang rata-rata hanya 6—8 sisir per tandan. Ketika matang, buah lembut dan manis. Itulah pisang baru FHIA-17—singkatan dari Fundacion Hondurena de Investigacion Agrícola.

Pisang itu memang introduksi dari Honduras, Amerika Tengah. Sepasang peneliti dari Honduras bekerja sama dengan Balai Penelitian Buah Tropika (Balitbu) memboyong pisang itu pada 2012. Lembaga itu menanam 150 bibit asal perbanyakan kultur jaringan itu di kebun seluas 1.500 m² yang berhasil panen hingga 80%. Tanaman anggota famili Musaceae itu berbobot 50—60 kg per tandan.

Buah besar
Panjang buah pisang FHIA-17mencapai 25 cm dengan diameter 3—4 cm. Tingkat produktivitas mencapai 33—66 ton per hektare. Kulit buah mentah berwarna hijau dan buah masak kulitnya berwarna kuning mulus. Pisang itu dapat dipanen pada umur 11 bulan setelah tanam (bst) di dataran rendah. Sementara penanaman di dataran tinggi, masa panen lebih lama. Tanaman baru berbunga pada umur 15 bulan.

Pengujian penanaman pisang FHIA-17 di Desa Mekarsari, Kabupaten Deliserdang, Sumatera Utara, tumpang sari dengan tanaman pepaya. (Foto: Suswati Febri)

Pengujian penanaman pisang FHIA-17 di Desa Mekarsari, Kabupaten Deliserdang, Sumatera Utara, tumpang sari dengan tanaman pepaya. (Foto: Suswati Febri)

Pemilihan pisang FHIA-17 untuk riset terjadi secara kebetulan karena bekerja sama dengan perusahaan kultur jaringan. Seharusnya Balitbu memberikan bantuan kepada masyarakat di Sumatera Utara berupa pisang sepatu amora (pisang yangg tidak memiliki bunga jantan), tetapi yang diberikan justru pisang FHIA-17. Pisang itulah yang membuat Irwan Sukirno takjub.

Baca juga:  Pesona Cauliflora

Bibit pisang bantuan Balitbu itu akhirnya diuji tanam. Setelah 9 bulan, pisang berbunga dan berbuah. Lalu pisang itu dilakukan uji multilokasi di beberapa daerah untuk melihat potensi hasil. FHIA-17 ditemukan pada 1989, hasil persilangan antara varietas ome dwarf dengan hibrida sintetis. Di Indonesia, riset perbanyakan bibit FHIA-17 dilakukan bersama Ir. Asmah Indrawaty, MP. dan Prof. Dr. Ir. Retno Astuti, M.S.

Penelitian itu juga didukung oleh PT Tamora Stekindo dan PT Hijau Biotechindo. Uji coba dilakukan sejak 2009 sampai sekarang di Desa Sempakata (2009), Desa Mekarsari (2011), Dusun Laosambo (2012—2015), dan Desa Pegajahan (2016). Uji coba di lahan seluas 1.500—3.000 m². Jarak tanam 3 m × 3 m atau populasi mencapai 1.100 tanaman per hektare. Sistem tumpang sari dengan tanaman karet berusia satu tahun juga dilakukan.

Buah pisang FHIA-17 yang siap jual. (Foto: Suswati Febri)

Buah pisang FHIA-17 yang siap jual. (Foto: Suswati Febri)

Hasilnya cukup memuaskan, hingga 80%. Bahkan di lahan endemik atau sudah pernah berkembang penyakit tanaman pisang, FHIA-17 tetap dapat tumbuh dengan baik. Setelah 1,5 tahun, jenis pisang itu diterima petani di seluruh wilayah Sumatera Utara. Kini petani mulai menjual buahnya. Petani di Desa Laosambo, misalnya, menjual pisang FHIA-17 mencapai Rp7.000 per sisir.

Omzet petani dari sebuah tandan FHIA-17 mencapai Rp70.000—Rp133.000. Harga itu tergolong tinggi dan menguntungkan petani. Selain menjual buah, petani di Desa Laosambo juga menjual bibit. Harga jual dalam partai besar (1.000—2.000 bibit) mencapai Rp10.000 per bibit. Penjualan dalam jumlah kecil (kurang dari 1.000 bibit), harga Rp15.000 per bibit.

Kunci pemupukan
Peneliti ingin mengembangkan  potensi pisang FHIA-17 sehingga dapat memenuhi permintaan pasar yang lebih besar. Perbanyakan melalui teknik kultur jaringan untuk memperoleh bibit yang bebas hama dan penyakit seperti layu Fusarium oxysporum, Mycosphaerella (sigatoka pada daun), Xanthomonas wilt, Bunchy top, nematoda Burrowing, dan Cosmopolites sordidus (hama kumbang).

Bibit pisang FHIA-17. (Foto: Suswati Febri)

Bibit pisang FHIA-17. (Foto: Suswati Febri)

Kunci budidaya pisang FHIA-17 adalah pemupukan. Mikoriza Glomus intraradices dapat membantu tanaman menyerap unsur fosfor yang tidak tersedia atau terikat menjadi fosforyang tersedia dari tanah yang berperan memacu proses pertumbuhan dan produksi. Inokulasi mikrob mikoriza dapat meningkatkan daya tumbuh tanaman asal kultur in vitro. Selain itu mikoriza juga berperan dalam memacu pertumbuhan tanaman, efisiensi pupuk, dan menyerap nutrisi untuk membantu pertumbuhan plantlet.

Baca juga:  Jasa Kelelawar Untuk Bawang

Petani di Desa Saolambo, Deliserdang, Provinsi Sumatera Utara, menggunakan media tanam berupa campuran tanah, pasir, arang sekam, dan pupuk kandang dengan perbandingan 3:1:1:1. Campur media tanam 4.000 g dengan 375 g kompos limbah kubis-kubisan. Kompos itu berfungsi sebagai biofumigant yang dapat menekan atau mematikan propagul patogen, hama, dan biji gulma.

Tanaman pisang tidak membutuhkan banyak perawatan, penyiraman yang rutin dan pemupukan. Pada musim kemarau memerlukan pembuatan parit-parit/saluran air yang berada di antara barisan tanaman pisang. Penyiraman setiap 2 hari sekali saat kemarau. Pada musim hujan dapat mengandalkan air hujan. Tanaman pisang sangat membutuhkan kalium dalam jumlah besar.

Pisang FHIA-17 memerlukan 207 kg Urea, 138 kg super fosfat, 608 kg KCl, dan 200 kg batu kapur per 1 hektare. Pemberian pupuk nitrogen dua kali setahun. Pemupukan fosfat dan kalium dilakukan 6 bulan setelah tanam, dua kali dalam setahun. Pemupukan susulan dapat dilakukan dengan menambahkan 3—4 kg pupuk kandang yang dilakukan setiap 1 bulan sekali. Jumlah pupuk kandang semakin meningkat dengan bertambahnya umur tanaman. (Dr. Ir. Suswati Febri, MP. Dosen Agroteknologi, Fakultas Pertanian, Universitas Medan Area, Sumatera Utara)

Sumber : t r u b u s – o n l i n e . c o . i d