Semula banyak yang mencibir keladi silangan Wawan Santoso. Kini tanaman keladi hias hibrida silangannya menjadi sumber pendapatan.

“Tanaman jenis apa itu? Coraknya aneh. Tidak mungkin ada konsumen yang membeli,” kata Wawan Santoso menirukan ucapan bosnya. Pada 2001 itu Santoso kali pertama menunjukkan keladi hasil silangannya kepada pemimpin sebuah nurseri tanaman hias terbesar di Johor Bahru, Malaysia, tempat ia bekerja.

Bisa jadi keladi kreasi Wawan kalah pamor dengan tanaman hias lain seperti aglaonema, sansevieria, dan anthurium yang saat itu tengah di puncak popularitas.

Apalagi nurseri itu pun memproduksi ketiga jenis tanaman itu. Sejatinya keladi salah satu produk di nurseri tempat ia bekerja. Namun, saat itu nurseri hanya mengembangkan keladi lokal yang berwarna merah, putih, dan hijau serta bercorak sederhana.

Tentu saja saat itu keladi tidak bisa bersaing maksimal dengan 3 primadona tanaman hias saat itu karena berpenampilan apa adanya. Dampaknya peminat tanaman anggota famili Araceae itu relatif sedikit.

Rp5 juta per tanaman

Kecintaan Wawan kepada keladi tidak pernah pudar meski banyak aral menghadang. Ia berhasil melewati ujian pertama, yaitu meyakinkan bosnya di Malaysia betapa keladi bernilai ekonomis. Ujian kedua, ia gagal mempromosikan keladi hias ke pencinta tanaman hias di tanahair pada 2004. Namun, ia tetap menyilangkan keladi.

Keladi silangan tampil menawan karena berwarna dan bercorak baru.
Keladi silangan tampil menawan karena berwarna dan bercorak baru.

Meski mendapat penolakan ia tidak berkecil hati. Wawan tetap bereksperimen menghasilkan keladi hias terbaru. Eksperimen awal bertujuan menghasilkan keladi berwarna baru. Saat itu Wawan menyilangkan keladi berdaun dominan merah dengan keladi berdaun hijau dan bercak putih di tengah melalui biji alias perbanyakan generatif.

Itulah satu-satunya cara menyilangkan keladi meski memerlukan waktu lama. Empat bulan pascatanam biji, daun-daun kecil muncul. Saat tanaman berumur 8 bulan atau lebar daun 5 cm Wawan yakin tanaman hibrida itu berbeda dari kedua induk.

Baca juga:  Mereka Melawan Arus

Buktinya warna dasar daun tanaman baru itu hijau muda dan terdapat bintik-bintik seperti semprotan cat berwarna merah. Selain itu tulang daun pun berwarna merah tua yang menurun dari salah satu induk. Wawan pun makin semangat menyilangkan keladi.

Sayang konsumen mambayar keladi hibrida itu sama dengan harga keladi lokal, yakni RM3 setara Rp9.000. Sementara keladi lokal bercorak unik dibanderol sekitar Rp30.000 per tanaman. Harap mafhum saat itu keladi hibrida barang baru sehingga konsumen berpatokan pada harga keladi lokal.

Meski begitu, “Saya punya firasat hanya menunggu waktu saja ketika keladi bernilai ekonomis tinggi,” kata warga Desa Puring, Kecamatan Gombong, Kabupaten Kebumen, Jawa Tengah, itu.

Keladi hibrida berwarna cerah berasal dari indukan kuning asal Thailand.
Keladi hibrida berwarna cerah berasal dari indukan kuning asal Thailand.

Pelan tapi pasti intuisi Wawan benar. Pada 2005 konsumen tanaman hias asal Thailand datang ke tempat kerja Wawan dan membawa keladi hias hibrida di dalam pot kecil. Saat itulah atasan Wawan menyadari potensi bisnis keladi hias hibrida dengan berbagai karakter unik.

Wawan pun makin bersemangat menyilangkan keladi. Setelah 15 tahun bekerja di sebuah nurseri itu, Wawan memutuskan berhenti pada 2016. Ia kembali ke Kebumen untuk menekuni penyilangan keladi.

Kini Wawan tetap mengandalkan tanaman kerabat talas itu sebagai sumber pendapatan utama. Ia menjual keladi dengan harga bervariasi. Harga keladi termurah hanya Rp100.000 per tanaman. Namun, harga keladi bercorak ekslusif berharga fantastis, yakni Rp5 juta. Bahkan untuk keladi berbentuk dan berwarna unik harganya mencapai Rp6 juta—Rp8 juta per tanaman.

Omzet besar

Jumlah tanaman terjual tidak tetap setiap bulan. “Omzet bulanan rata-rata Rp10 juta,” kata pria berumur 33 tahun itu. Konsumen berasal dari berbagai daerah di Indonesia seperti Palembang (Sumatera Selatan), Banjarmasin (Kalimantan Selatan), dan Lombok (Nusa Tenggara Barat).

Baca juga:  Potensi Bisnis Budidaya Bunga Sedap Malam

Bahkan kolektor tanaman hias dari Malaysia, Thailand, dan Singapura pun kepincut keladi kreasi Wawan. Ia mempromosikan tanaman yang diidentifkasi kali pertama ahli botani Perancis, Étienne Pierre Ventenat, itu secara daring.

Selain warna, keladi silangan juga memunculkan bentuk daun berkerut.
Selain warna, keladi silangan juga memunculkan bentuk daun berkerut.

Semula ia menyilangkan keladi berdaun tunggal, tapi kini yang berdaun ganda. Alasannya harga keladi berdaun ganda lebih tinggi mulai dari Rp200.000 per tanaman banyak konsumen mencari jenis itu. Saat itu ia mengunggah foto keladi di grup media sosial pencinta tanaman hias seluruh dunia.

Seorang kawan dari Bogor, Jawa Barat, kesengsem tanaman hasil silangan Wawan dan membelinya. Pria kelahiran Kebumen, Jawa Tengah, itu, terus berinovasi menghasilkan keladi kesukaan pasar.

Itulah sebabnya sebelum menyilangkan keladi, Wawan mempertimbangkan warna, karakter, dan bentuk daun. Harap mafhum selera konsumen berbeda-beda. Ada konsumen yang menyukai warna baru tertentu. Ada pula konsumen yang mennyukai bentuk daun bulat, lonjong, dan bertepi keriting.

Dari wilayah yang senyap itu, Wawan Santoso berupaya memenuhi keinginan para pencinta keladi hias.

Sumber : t r u b u s – o n l i n e . c o . i d