Amri Ramdani, mampu memanen 70 kg per hari jamur tiram organik.

Amri Ramdani, mampu memanen 70 kg per hari jamur tiram organik.

Kunci budidaya jamur tiram organik, media tanam dan lingkungan.

Amri Ramdani memanen 70 kg jamur tiram per hari dari 30.000 baglog. Produksi jamur rata-rata 350 gram per baglog berbobot 1,2 kg. Artinya Biological Efficiency Ratio (BER)—kemampuan sebuah baglog menghasilkan tubuh jamur dalam satu periode tanam—hanya 29%. Nilai itu agak rendah, lazimnya pekebun jamur tiram memperoleh BER 30%. Namun, Amri meraih harga lebih tinggi daripada harga rata-rata pasar.

Harga jual itu fantastis. Bandingkan dengan harga jual jamur tiram lain yang rata-rata hanya Rp13.000—Rp14.000 per kg. Pengelola Bionic Farm di Desa Sindangjaya, Kecamatan Cipanas, Kabupaten Cianjur, Jawa Barat, itu membudidayakan jamur tiram secara organik. Perusahaan memperoleh sertifkat organik dari Indonesian Organic Farming Certification (Inofice) pada 2003.

Lingkungan bersih

Menurut petani jamur di Kecamatan Cugenang, Kabupaten Cianjur, Ir. Triono Untung Priyadi, produksi jamur organik di Indonesia relatif sulit. Sebab, bahan baku harus 100% organik, lingkungan dan air pun harus dari sumber yang bersih dan tidak tercemar. Oleh karena itu, pekebun jamur organik membutuhkan pengendalian lingkungan seperti air bersih yang berasal dari sungai tak tercemar. Lahan pun harus bebas dari limbah dan polusi pabrik sekitar.

Amri mengatakan, pada dasarnya jamur tiram tumbuh bagus tanpa tambahan zat pengatur, hormon, atau penambahan zat kimia lain. Para pekebun jamur tiram pada umumnya menambahkan bahan kimia untuk zat pengatur tumbuh (auksin dan giberelin) dan pestisida untuk menghindari serangan hama dan penyakit pada racikan baglog atau media tumbuh jamur. Bionic Farm sama sekali tidak menambahkan bahan kimia apa pun.
“Sistem organik tak sekadar bebas bahan kimia, tetapi juga harus selaras dengan alam dan keanekaragaman ekosistem terjaga,” ujar Amri menirukan ucapan Imelda Nursanti Rimba—pendiri Bionic Farm. Prinsip dasar pertanian organik memang meminimalkan penggunaan bahan dari luar lingkungan seperti penambahan zat tumbuh dan insektisida serta pestisida kimiawi.

Amri Ramdani (kanan) pengelola Bionic Farm di Desa Sindangjaya, Kecamatan Cipanas, Kabupaten Cianjur, Jawa Barat.

Amri Ramdani (kanan) pengelola Bionic Farm di Desa Sindangjaya, Kecamatan Cipanas, Kabupaten Cianjur, Jawa Barat.

Oleh karena itu, Bionic Farm menggunakan racikan daun mimba Azadirachta indica untuk mengendalikan gangguan hama dan penyakit yang menganggu budidaya jamur. Caranya dengan menumbuk 100 gram daun mimba hingga lumat, merendam dalam 0,5 liter air selama 2—3 hari. Amri menyaring hasil fermentasi itu agar bebas biomassa sehingga tidak mengganggu nozel penyemprot.

Baca juga:  Showa Sanshoku Koi Terbaik

Sebelum penyemprotan, ia melarutkan 200 cc diferementasi dalam 10 liter air bersih. Menurut Amri mimba efektif menghalau hama lalat jamur Lycoriella spp. dan Coboldia spp. yang menyebabkan gagal panen. Dengan demikian pertanian organik meminimalkan penggunaan sumber daya yang tak dapat diperbarui. Dari lahan dan dikembalikan ke lahan sehingga membentuk rantai yang tak terputus.

Media baglog

Bionic Farm memproduksi bibit sendiri agar mendapatkan hasil yang maksimal.

Bionic Farm memproduksi bibit sendiri agar mendapatkan hasil yang maksimal.

Bila memakai media yang tepat, jamur akan berkembang biak dengan baik. Amri menggunakan serbuk kayu albasia atau kayu keras lain. Setelah itu ia mendiamkan serbuk kayu di bawah sinar matahari dan air hujan sambil dibolak-balik selama 3 bulan. Hal itu untuk memberikan kelembapan yang baik bagi serbuk kayu. Idealnya kelembapan media 60—70%.

Formulasi media baglog yaitu serbuk kayu mencapai 65%, dedak untuk nutrisi (15%), kapur (3%), dan sisanya air (17%) sebagai bahan baglog. “Asalkan racikannya pas, jamur akan tumbuh optimal,” kata Amri. Amri kemudian mensterilisasi, menginokulasi, dan menginkubasi baglog. Ia menempatkan baglog-baglog itu di 2 kumbung.

Ukuran kumbung hanya 10 m x 30 m. Kapasitas setiap kumbung mencapai 30.000 baglog. Alumnus Teknik Mekanik Industri Sekolah Menengah Kejurusan Bela Nusantara Cianjur memanen perdana pada 30—40 hari setelah inokulasi. Interval panen berikutnya rata-rata 2—3 hari. Amri mampu panen jamur setiap hari karena mengelola dengan baik.

Pada umur 5—6 bulan, ketika baglog produksi di dalam kumbung mulai menurun hasilnya, Amri dan rekan menyiapkan baglog pengganti. Dengan demikian, ia mampu menjaga stabilitas produksi 70 kg jamur sehari.

Proses produksi jamur organik

Proses produksi jamur organik

Menurut Amri lebih dari 60% kandungan jamur berupa air. Oleh karena itu, harus menyiram agar sayuran nirklorofil itu tumbuh maksimal. Penyiraman juga untuk mendapatkan lingkungan yang tepat untuk tumbuh kembang jamur. Jamur sangat peka terhadap kelembapan yang tidak teratur. Jika kelembapan kumbung di bawah 60%, pekebun masih bisa mengakalinya dengan meningkatkan frekuensi penyiraman menjadi 5 kali sehari.

Baca juga:  Dua Rupa Raja Musang

Biasanya Amri dan rekan hanya menyiram 2—3 kali per hari. Namun, jika kelembapan terlalu tinggi di atas 90% jamur akan menghitam, bobot menyusut, dan cepat busuk. Pada masa pertumbuhan, jamur membutuhkan suhu 15—20ºC dan kelembapan 90%. Media dan kelembapan tepat memberikan keuntungan lain bagi pekebun seperti miselium cepat tumbuh dan tebal, panen 5 kali, lazimnya maksimal 3 kali. (Tiffani Dias Anggraeni)

Sumber : t r u b u s – o n l i n e . c o . i d