574_ 24-1Budidaya stroberi di kantung geotekstil menghasilkan buah berkualitas.

Pemandangan menarik tampak di kebun stroberi milik Chandra Yulianto. Sebanyak 10.000 tanaman stroberi itu tumbuh dalam kantung geotekstil berisi media tanam. Ram besi berbentuk U menopang kantung-kantung itu ke rangka. Setiap jalinan rangka dari besi pipa berdiameter 3 inci menyangga 5 deret kantung tanam yang tersusun menjadi 3 tingkat menyerupai huruf A.

Rangkaian itu memanjang hingga 8 m, menyesuaikan dengan lebar lahan. Tinggi deretan kantung tanam teratas 1,7 m dari tanah; yang terendah, 0,5 m. Pipa polivinil klorida (PVC) berdiameter 1 inci yang terpasang di sisi setiap kantung tanam mengalirkan air 3 kali sehari. Setiap 2 pekan, sistem pipa itu mengalirkan 4 kg pupuk majemuk per 200 l air (lihat ilustrasi Tanam dan Rawat).

Model Jepang
Chandra memanfaatkan media tanam berupa campuran 40% sekam bakar, 25% tanah, dan 35% pupuk kandang. Ia menanam bibit dari semaian ketika bibit memunculkan 4 daun atau berumur 40 hari. Penanaman bibit pada Februari lantaran saat itu hujan masih turun. Bunga mulai muncul ketika tanaman kerabat mawar itu berumur 2 bulan. Chandra membuang bunga pertama. Bunga berikutnya muncul pada bulan ke-4 pascatanam.

574_ 25-1Ia membiarkan bunga itu tumbuh menjadi buah. Selang 3 pekan atau ketika buah berukuran 20–30 gram, ia mulai panen. Saat itu kemarau sehingga cita rasa buah anggota famili Rosaceae itu pun optimal. Buah berbobot rata-rata 30 gram. Chandra menjual buah itu di pasar swalayan buah segar di Bandung dan Jakarta. Di lahan 2.000 m² di Pasiripis, Lembang, Kabupaten Bandung Barat, itu ia membuat 25 rangkaian berisi tanaman stroberi.

Untuk menghambat gulma, ayah 1 anak itu menutup permukaan tanah dengan karpet geotekstil hitam setebal 1 mm. Selama budidaya, ia rutin menyemprotkan ramuan pestisida nabati yang mengandung akarwangi, selasih, dan minyak sereh setiap 3 pekan sekali. Alumnus Fakultas Kedokteran Universitas Atmajaya Jakarta itu menyemprotkan pestisida nabati melalui pengabut.

Baca juga:  Perkutut Rajin Bunyi

Selain menyemprotkan pestisida, pengabut itu berfungsi mempertahankan kelembapan kulit buah saat kemarau. Chandra menghidupkan pengabut pada pagi dan sore hari untuk mencegah kekeringan pada kulit buah. Ia mengadopsi cara serupa yang dilakukan pekebun stroberi di Yaizu, Prefektur Shizuoka, Jepang, Hajime Matsuda.

Rumah tanam
Sebelum beralih pada sistem tanpa atap itu, Chandra sempat nyaris terpuruk lantaran tanaman rusak akibat serangan hama. Ia mulai menanam stroberi pada Februari 2014 lantaran terpincut cita rasa stroberi japanese peach. Terinspirasi budidaya ala Jepang yang menggunakan rumah tanam, Chandra membangun rumah tanam berdinding kaca berukuran 15 m x 5 m setinggi 4 m.

574_ 25Isinya 3 rangkaian media stroberi sistem gantung berbahan talang sepanjang 5 m beririgasi tetes. Namun, pada bulan ke-3, muncul masalah. Hama tungau Tetranychus sp. atau spider mite menyerang bagian bawah daunmenyebabkan daun kering.

Akhirnya ia bertindak ekstrem. Pada 2015 ia membongkar rumah tanam dan seluruh tanaman stroberi di dalamnya. Ia mengadopsi sistem tanpa atap. Sistem budidaya ala Jepang itu memerlukan modal awal besar sehingga ia menanam varietas stroberi yang bernilai ekonomis tinggi. (Muhammad Hernawan Nugroho)

Sumber : t r u b u s – o n l i n e . c o . i d