Tanam Sayuran Sepanjang Pagar

Tanam Sayuran Sepanjang Pagar 1

Bercocok tanam bisa di mana saja. Iwan Gogo Panjaitan memanfaatkan dak rumah dan dinding pagar untuk menanam sayuran dan beternak ikan.

Sepanjang dinding pagar (18 meter) menjadi lokasi untuk bercocok tanam beragam sayuran seperti kangkung dan bayam.

Sepanjang dinding pagar (18 meter) menjadi lokasi untuk bercocok tanam beragam sayuran seperti kangkung dan bayam.

Ketika gerbang kayu itu terbuka, tampaklah dua deretan pipa polivinilklorida (PVC) di dinding pagar rumah. Pipa berada 1,5 m di atas permukaan tanah yang berlapis konblok. Beragam sayuran, yakni kangkung, bayam merah, dan selada tumbuh di lubang tanam berjarak 15 cm. Panjang pipa itu 18 meter. Dari lubang tanam itulah Iwan Gogo Panjaitan menuai beragam sayuran pada awal November 2016.

Iwan Gogo Panjaitan dan Maria Indira Manurung mengembangkan akuaponik di dak rumah dan dinding pagar untuk memperoleh sayuran sehat.

Iwan Gogo Panjaitan dan Maria Indira Manurung mengembangkan akuaponik di dak rumah dan dinding pagar untuk memperoleh sayuran sehat.

Sayang, pehobi akuaponik di Pondoklabu, Jakarta Selatan, itu tak menimbang hasil panen. Itu panen perdana sayuran hasil budidaya dengan sistem akuaponik atau budidaya sayuran dan ikan dalam satu unit. Master hukum alumnus American University itu mengombinasikan budidaya sayuran dan ikan nila Oreochromis niloticus. Ia meletakkan ikan di dua boks berbahan serat yang saling terhubung.

Sumber nutrisi
Sebuah boks berkapasitas 800 liter berpopulasi 150 ekor. Iwan Gogo menebar ikan berukuran 2 jari. Ketika ia menuai sayuran, ikan nila itu belum siap panen. Ikan anggota famili Cichlidae itu panen ada umur 5 bulan. Pengelola firma hukum Nugroho Panjaitan and Partners itu menerapkan sistem organik, terutama untuk budidaya sayuran. Ia memanfaatkan bonggol pisang, kulit pisang, dan kulit telur ayam sebagai sumber nutrisi.

Kulit pisang mengandung fosfat, bonggol pisang kaya nitrogen, dan kulit telur sumber kalsium bagi tanaman. Ia mencacah bonggol dan batang pisang sehingga berukuran relatif kecil, kemudian memfermentasi dalam 4 liter larutan leri alias air cucian beras. Iwan menambahkan 1 liter larutan gula jawa dan memfermentasi bahan itu hingga 14 hari.

Instalasi akuaponik di dak rumah Iwan Gogo Panjaitan.

Instalasi akuaponik di dak rumah Iwan Gogo Panjaitan.

Setiap 2 hari, ia mengaduk larutan itu. “Aroma larutan fermentasi jadi wangi,” kata pehobi yang merancang dan membuat sendiri unit akuaponik itu hingga tengah malam. Setelah 14 hari fermentasi, Iwan menyaring larutan itu dan menyimpan di botol plastik. Sarjana hukum alumnus Universitas Katolik Parahyangan itu memberikan nutrisi untuk tanaman berupa mikroorganisme lokal (MOL) bonggol pisang dengan dua cara.

Baca juga:  Laba Lada Rp10-juta/Bulan

Pertama, ia memberikan secara langsung kira-kira 15 ml larutan itu ke bak ikan yang akan didistribusikan ke seluruh tanaman. Frekuensi pemberian sekali sehari. Metode kedua, ia melarutkan 15—20 ml larutan itu dalam 2 liter air bersih, mengaduk rata, dan menyemprotkan langsung ke setiap tanaman. Frekuensi penyemprotan dua hari sekali. Selain itu ia juga mengolah kulit pisang dan cangkang telur sebagai sumber kalsium.

565_-17-4Iwan praktis tak pernah memberikan pupuk kimia. Sementara untuk pakan ikan, Iwan rutin memberikan kiambang Azolla pinnata. Di dekat instalasi akuaponik, ia membudidayakan kiambang di 4 bak. Selain itu Iwan juga membudidayakan cacing tanah Lumbricus rubellus. Semula hanya sebuah keranjang berukuran 100 cm x 80 cm x 50 cm. Namun, ketika cacing terus berkembang biak ia memisahkan ke keranjang lain hingga jumlahnya delapan keranjang. Ia memanfaatkan sampah organik rumah tangga seperti potongan sayuran dan irisan buah di keranjang itu. Iwan memanen cacing dan memanfaatkan sebagai pakan nila dan gurami. Sesekali Iwan memang masih memberikan pelet (baca: Racik Pakan Ikan Sendiri halaman 22—23).

Sistem organik
Dengan pola budidaya itu Iwan Gogo mengklaim sayuran hasil budidaya akuaponik itu sebagai sayuran organik. “Saya senang sekali memakannya karena tahu proses budidaya sejak awal,” ujar Maria Indira Manurung, istri Iwan Gogo, yang gemar menyantap makanan mentah atau raw food. Sejatinya Ira—begitu sapaan Maria Indira Manurung —yang mendorong Iwan bercocok tanam nirtanah berupa hidroponik sejak 2012. Namun, Iwan selalu menolak.

Ketika akuaponik melanda masyarakat perkotaan pada dua tahun terakhir, Iwan tertarik mencobanya. Sebab, sistem budidaya itu melibatkan ikan. Kebetulan ia suka memelihara ikan. Pada uji coba pertama Iwan merakit akuaponik di dak rumah, persis di atas garasi. Area itu semula untuk menjemur pakaian.

Bubuk kulit pisang dan cangkang telur sumber nutrisi

Bubuk kulit pisang dan cangkang telur sumber nutrisi

Di “lahan” 40 m² itu ia merakit sebuah unit akuaponik dengan dua wadah berkapasitas masing-masing 800 liter itu untuk membudidayakan gurami. Di setiap wadah, Iwan menebar 100 bibit gurami. Penggemar olahraga balap motor itu menggunakan dua filter agar kualitas air terjaga (baca: Pilihan Filter Akuaponik halaman 18—19). Ia kemudian memanfaatkan dinding pagar di sisi kiri rumahnya untuk merakit akuaponik.

Baca juga:  Bisnis Sayuran Perkotaan

Hampir sepanjang dinding itu atau 18 meter ia gunakan untuk pipa akuaponik. Ia menopang pipa 4 inci itu dengan baja ringan. Di atas pipa telah terpasang kerangka baja ringan untuk memasang jaring peneduh. “Intensitas sinar matahari terlalu panas,” ujar ayah dua anak itu. Dengan dua instalasi akuaponik—satu di antaranya memanjang di dinding agar, hunian Iwan tampak hijau. Pantas tetangga dan kerabat kerap bertandang ke rumah Iwan. (Sardi Duryatmo)

Sumber : t r u b u s – o n l i n e . c o . i d

Tags:
Subscribe
Notify of
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments
0
Would love your thoughts, please comment.x