Tanam Melon Swasiram

Tanam Melon Swasiram 1

Memanfaatkan air hujan untuk budidaya beragam tanaman. Lebih hemat dan praktis.

 

Budidaya melon menggunakan teknik self watering fertigation system.

Budidaya melon menggunakan teknik self watering fertigation system.

 

Rombongan Dharma Wanita Persatuan Universitas Padjadjaran (Unpad) beramai-ramai memanen buah melon yang tumbuh di rumah tanam di Fakultas Teknologi Industri Pertanian (FTIP) Universitas Padjadjaran. Di rumah tanam itu tumbuh 22 tanaman golden rock melon. Para pengunjung juga memanen buah tomat ceri dan paprika. Total populasi mencapai 41 tanaman.

Menurut dosen Fakultas Teknologi Industri Pertanian Unpad, Dr. Sophia Dwiratna Nur Perwitasari, M.T., melon yang tumbuh di dalam rumah tanam itu adalah hasil budidaya menggunakan teknologi fertigasi swasiram atau self watering fertigation system. Teknologi rancangan guru besar FTIP Unpad, Prof. Dr. Ir. Nurpilihan Bafdal, M.Sc. itu mampu mengairi sekaligus memberikan nutrisi secara otomatis.

Panen hujan

Uniknya, dalam teknik budidaya itu Nurpilihan menggunakan air hujan sebagai sumber irigasi. Ia menampung air hujan yang mengguyur atap rumah tanam dan mengalirkannya ke dalam dua buah tangki. Sophia seperti termaktub dalam jurnal International Journal on Advance Science Engineering Information Technology bersama tim memanfaatkan air hujan karena kawasan Jatinangor tergolong wilayah kering.

Wilayah itu beriklim basah karena bercurah hujan lebih dari 1.500 mm per tahun. Berdasarkan data analisis curah hujan, Jatinangor bercurah hujan 1.879,69 mm per tahun.Sophia menuturkan, luas atap rumah tanam 150 m². Atap rumah kaca berbahan polikarbonat dengan nilai koefisien limpasan 0,90. Itu berarti 90% dari air hujan yang jatuh di atap akan menjadi limpasan. “Oleh sebab itu, sayang jika tidak dimanfaatkan,” ujar Sophia yang juga menjadi salah satu anggota tim peneliti. Dengan luas permukaan atap seluas itu jumlah air hujan yang bisa dipanen 202,5 m³ per tahun.

Prof. Dr. Ir. Nurpilihan Bafdal, M.Sc., (tengah) saat panen perdana melon hasil budidaya dengan teknik self watering fertigation system.

Prof. Dr. Ir. Nurpilihan Bafdal, M.Sc., (tengah) saat panen perdana melon hasil budidaya dengan teknik self watering fertigation system.

Nurpilihan menggunakan dua buah tangki masing-masing berkapasitas 5.300 liter untuk menampung air hujan. Dari kedua tangki penampung air hujan itu air mengalir ke 3 buah drum kecil berkapasitas 200 liter yang berada di rumah tanam. Di dalam tangki itulah Nurpilihan melarutkan nutrisi AB mix khusus untuk tanaman buah sebagai sumber hara tanaman. Konsentrasi nutrisi tergantung jenis tanaman. Sekadar contoh, nutrisi untuk melon berkonsentrasi 1.400—2.000 ppm.

Baca juga:  Kanker Hati pun Lumpuh

Dari tangki nutrisi itu larutan nutrisi kemudian mengalir ke tanaman yang tumbuh dalam wadah tanam yang disebut autopot. Aliran air hujan dan larutan nutrisi hingga ke tanaman hanya mengandalkan gaya gravitasi. “Kami tidak menggunakan energi listrik sedikit pun,” ujar Sophia. Sophia bersama tim menggunakan autopot untuk menghemat penggunaan air dan nutrisi. Dengan menggunakan autopot, tanaman memperoleh pasokan air dan nutrisi secara otomatis karena dilengkapi dengan katup otomatis (smart valve).

Hemat

Nurpilihan menuturkan katup pada autopot berfungsi mengatur tinggi air yang masuk ke dalam autopot. Air akan keluar bila ketinggian air dalam autopot berada pada level minimum. Selanjutnya katup menutup jika air mencapai ketinggian maksimum. Autopot juga dilengkapi dengan penutup untuk mencegah kehilangan air akibat penguapan. Dengan begitu air dan nutrisi hanya berkurang akibat diserap oleh tanaman, bukan karena penguapan atau merembes ke tanah.

 

Rumah tanam dengan luas atap 150 m2           mampu menampung 202,5 m3 air hujan per tahun.

Rumah tanam dengan luas atap 150 m2 mampu menampung 202,5 m3 air hujan per tahun.

 

Keunggulan lain, penggunaan autopot menghemat tenaga kerja karena bekerja secara otomatis dengan prinsip swasiram. Setiap autopot memuat dua tanaman. Posisi katup berada di bagian tengah di antara kedua pot. Nurpilihan menggunakan media tanam berupa campuran 90% arang sekam dan 10% zeolit untuk menanam melon. Ia lalu menuangkan media tanam ke dalam polibag hingga ketinggian media tanam mencapai 15 cm.

Wadah tanam autopot yang dilengkapi katup otomatis.

Wadah tanam autopot yang dilengkapi katup otomatis.

Ia menempatkan polibag di permukaan wadah autopot. Berikutnya larutan nutrisi keluar dari tangki nutrisi melewati katup otomatis menuju wadah autopot hingga menggenangi wadah dengan ketinggian larutan maksimal 35 mm. Saat mencapai ketinggian maksimal, katup menutup secara otomatis. Katup kembali membuka jika larutan nutrisi berkurang hingga ketinggian 25 mm, begitu seterusnya.

Baca juga:  Sirsak Terbaik Merapi

Menurut Sophia teknik swasiram menghemat penggunaan air sekaligus nutrisi. Sayangnya Sophia dan rekan berlum selesai menghitung tingkat efisiensi penggunaan air dan nutrisi dalam budidaya melon. Efisiensi teknik itu terbukti dalam penelitian sebelumnya tentang budidaya tomat ceri menggunakan teknologi sama. Hasilnya jumlah konsumsi air tanaman tomat ceri dalam satu musim tanam mencapai 71 liter per tanaman atau setara 382 mm.

Jumlah konsumsi itu jauh lebih rendah daripada standar kebutuhan air untuk budidaya tomat yang ditetapkan Organisasi Pangan Dunia (FAO) yang mencapai 600 mm. Sophia memanen melon pada umur 2,5 bulan. Sayangnya autopot berisi dua wadah tanam plus katup otomatis berharga mahal. Beberapa pekebun memodifikasi kotak stirofoam dan botol bekas air minum dalam kemasan menjadi wadah tanam berprinsip autopot.

Yuwinah di Pontianak, Kalimantan Barat, menerapkan hal serupa. Ia membudidayakan beragam komoditas hortikultura seperti melon menggunakan autopot hasil rancangan sendiri. Pehobi itu membudidayakan beragam tanaman itu di lantai 3 rumahnya. (Imam Wiguna)

Sumber : t r u b u s – o n l i n e . c o . i d

Tags:
Subscribe
Notify of
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments
0
Would love your thoughts, please comment.x