Tanam Butternut Tanpa Tanah

Hidroponik butternut menghasilkan 8 buah per tanaman.

567_ 110-1

Labu butternut hasil budidaya tanpa tanah.

Lazimnya petani menanam labu butternut itu secara konvensional di lahan terbuka. Namun, Tatag Hadi membudidayakan labu eksklusif itu dengan teknologi hidroponik. Pemilik PT Agro Duasatu Gemilang itu menanam 400 bibit di dalam rumah tanam seluas 1.500 m². Lokasi greenhouse di Desa Jemundo, Kecamatan Taman, Kabupaten Sidoarjo, Provinsi Jawa Timur.

Penanaman pada Agustus 2016 dengan teknik fertigasi itu kali pertama. Menurut Kepala operasional kebun PT Agro Duasatu Gemilang, Ratna Zulfarosda, budidaya labu butternut secara hidroponik untuk memenuhi permintaan konsumen sekaligus membuat kreasi olahannya. “Tujuan kami tidak sekadar menjual buah segar, tetapi juga berinovasi membuat olahan,” ujar Ratna.

Sabut kelapa
Menurut Ratna budidaya labu butternut secara hidroponik relatif sama dengan tanaman buah lain, seperti tomat ceri dan melon. Pekebun lazim membudidayakan kedua tanaman itu lazim secara hidroponik. “Dari segi media tanam maupun pengaturan nutrisinya secara umum hampir sama,” ujar Ratna. Ia menggunakan media tanam berupa campuran sabut kelapa dan arang sekam dengan perbandingan 2:1.

Labu butternut cocok dibudidayakan secara hidroponik.

Labu butternut cocok dibudidayakan secara hidroponik.

Untuk mensterilkan media tanam, Ratna merendam dalam larutan hidrogen peroksida 5% selama 24 jam. Ia mengencerkan 500 ml hidrogen peroksida 5% dengan 100 liter air. Keesokan hari ia menjemur media tanam hingga kering lalu menggunakannya untuk penanaman pada hari berikutnya. Sebelumnya pekerja kebun mengecambahkan dan menyemai benih butternut di media rockwool hingga umur 14 hari.

Mereka memindahkan bibit-bibit berdaun 4 helai itu ke kantong tanam ukuran 40 cm lalu mengalirkan air 3 kali sehari, yaitu pada pukul 06.00, 10.30, dan 16.00 dengan total 4 liter per hari per tanaman. Electrical conductivity (EC) larutan nutrisi diatur pada 1 milisiemens (mS). “Saat fase generatif, kepekatan nutrisi kami tingkatkan menjadi 2—2,5 mS,” ujar Ratna (lihat boks).

Ratna Zulfarosda menangani kebun labu butternut secara hidroponik di rumah tanam.

Ratna Zulfarosda menangani kebun labu butternut secara hidroponik di rumah tanam.

Menurut Ratna Cucurbita moschata itu memasuki masa generatif 2,5 bulan pascatanam—ditandai munculnya bunga. Selang 1—2 pekan, bunga menjadi bakal buah dan 1—1,5 bulan kemudian buah siap panen. “Ciri buah matang, tangkainya berubah warna dari hijau segar menjadi cokelat,” kata Magister Pertanian Universitas Brawijaya itu. Perusahaan itu mempertahankan 7—8 buah per tanaman dengan bobot sekitar 400—500 g per buah.

“Kami membuahkan di ruas ke-12—19 setiap tanaman,” ujar Ratna. Biaya produksi per tanaman menurut hitungan perempuan yang hobi memasak itu sekitar Rp50.000 yang meliputi biaya tenaga kerja, nutrisi, air, listrik, dan benih. Biaya itu di luar investasi rumah tanam, pompa, dan peralatan lain seperti pipa. Petani yang menanam labu secara konvensional menuai 3—4 buah per tanaman berbobot 1 kg.

Lebih unggul
Menurut Kepala University Farm Institut Pertanian Bogor, Prof Dr Ir Anas Dinurrohman Susila MSi, budidaya butternut secara hidroponik terbilang baru di Indonesia. Apalagi butternut tidak banyak diketahui orang. Menurut Anas kunci hidroponik butternut adalah pemupukan sesuai kebutuhan. “Jika kebutuhan pupuk sudah diketahui, aplikasinya tinggal menyesuaikan saja,” ujar Anas.

Tags:
Subscribe
Notify of
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments
0
Would love your thoughts, please comment.x