Tanam Buah di Atap Rumah 1
Dak rumah Budi Mariyanto untuk berkebun dalam pot

Dak rumah Budi Mariyanto untuk berkebun dalam pot

Atap rumah menjadi kebun beragam buah.

Atap hunian Budi Mariyanto di Penggilingan Timur, Kecamatan Cakung, Jakarta Timur, bak kebun buah. Beragam pohon buah seperti belimbing dewi, lengkeng diamond river dan puang ray, serta jambu air tumbuh subur. Puluhan buah belimbing dewi Averrhoa carambola dalam bungkus koran bergelantungan di ranting-ranting pohon setinggi 2,5 meter. Ukuran buah tampak besar karena pehobi itu menyeleksi: mempertahankan 2—3 buah sehat per tangkai, membuang buah yang kurang sehat. Ciri buah sehat antara lain berukuran maksimal dan tak terserang hama dan penyakit.

Budi bisa memetik 40 belimbing dari sebuah pohon. Usai panen buah anggota famili Oxalidaceae itu, Budi bakal menuai lengkeng. Harap mafhum dua jenis lengkeng di atap rumahnya tengah berbuah lebat. Jika tak ada aral, 14 hari kemudian si mata naga itu pun ranum dan siap petik. Di atap rumah seluas 21 m2 itu Budi meletakkan 5 jenis tabulampot terdiri atas 8 pohon buah yang berbuah susul-menyusul. Pria 41 tahun itu berkebun buah di atap karena, “Halaman rumah sempit, jadi saya manfaatkan dak rumah saja.”

Budi Mariyanto menyulap dak rumah menjadi kebun tabulampot untuk mengusir penat

Budi Mariyanto menyulap dak rumah menjadi kebun tabulampot untuk mengusir penat

Penyegaran
Budi Mariyanto menganggap berkebun buah suatu hobi yang bisa menghilangkan kepenatan dari rutinitasnya. Menjadi manajer senior kualitas produk di sebuah perusahaan elektronik kenamaan di Jakarta, membuatnya kerap jenuh. “Senin—Jumat, dari pagi sampai malam untuk bekerja,” ujarnya.

Di tengah kepenatan itu, ia mulai mencari penyegaran. “Agar seimbang antara tekanan dan pengendoran,” seloroh Budi. Mulanya, ia memelihara burung berkicau seperti love bird sebagai hiburan. Namun seringnya ia keluar kota, bahkan keluar negeri, ayah 2 anak itu tak sempat merawatnya meski sekadar memberi pakan. Akhirnya ia pun berhenti memelihara burung.

Tabulampot belimbing dewi lebat di dak rumah berkat perawatan intensif

Tabulampot belimbing dewi lebat di dak rumah berkat perawatan intensif

Suatu malam, pria 41 tahun itu naik ke dak rumah untuk melepas penat. Di sana Budi biasa duduk santai sambil menyeruput secangkir kopi pada keheningan malam. Namun pemandangan atap rumah seluas 3 m x 7 m itu, tampak gersang. “Kenapa tidak saya bikin kebun saja dak rumah ini biar pemandangannya indah dan segar,” kata Budi. Selang beberapa hari, pria asal Madiun, Jawa Timur, itu menyambangi pameran flora dan fauna di Lapangan Banteng, Jakarta Pusat, pada pertengahan 2011.

Baca juga:  Adu Molek di Dua Kota

Hanya beberapa bulan, dak rumah yang gersang itu menjadi kebun buah beragam jenis. “Ini bisa menjadi solusi untuk warga Jakarta yang ingin berkebun buah. Selain menyegarkan pemandangan di atap rumah, hasil panennya juga bisa dinikmati,” kata lelaki yang juga hobi memancing itu. Budi menanam bibit buah-buahan itu di dalam pot alias tabulampot.

Intensif
Meski hanya sekadar untuk melepas penat, Budi merawat tabulampotnya secara intensif. Sebulan sekali Budi melakukan penyemprotan insektisida berbahan aktif profenovos berkonsentrasi 1 sendok teh per 2 liter air. Larutan itu ia semprotkan habis untuk semua tanaman.

Untuk meningkatkan nutrisi tanaman, ia menyemprotkan pupuk daun berkonsentrasi 1 sendok teh per 2 liter air ditambah zat perangsang tumbuh dengan konsentrasi 1 sendok teh per liter air. Pupuk itu ia semprotkan 2 pekan sekali. Selain itu, Budi juga menyiramkan seliter teh kompos hasil fermentasi pupuk kandang yang sudah diencerkan dengan 2 liter air. Pupuk itu ia berikan sepekan sekali. Menurut Budi, selang 2—3 bulan setelah membeli di pameran itu, tabulampot belimbing dewi setinggi 1,5 m mulai berbuah.

“Saya hitung sekitar 17 buah,” kata Budi. Belimbing itu berbuah terus-menerus tak kenal musim. Jambu air king rose juga telah berbuah 15—20-an buah sekali panen, rata-rata berbuah 3 bulan sekali. Sementara mangga chokanan sudah menghasilkan 7 buah ukuran 500 g per buah. Pekebun tabulampot di dak rumah bukan hanya di Jakarta yang memang lahan pertanian relatif terbatas, ada juga Chenchen di Hilir Timur, Palembang, Sumatera Selatan. Di dak rumah seluas 10 m x 20 m, ia “mengebunkan” 300-an tanaman buah di dalam polibag dan pot.

Chenchen mengebunkan 300-an tabulampot di dak rumah

Chenchen mengebunkan 300-an tabulampot di dak rumah

Berbagai jenis tanaman seperti jambu air, mangga, miracle fruit, lengkeng, dan jeruk sejahtera di lantai 3. Lelaki yang akrab disapa Herman Ho itu menyiram tabulampot itu 2 hari sekali. Sepekan sekali ia memberikan 1 sendok makan pupuk NPK per pot. Namun ketika menjelang tanaman berbunga, Chenchen mengganti NPK dengan pupuk SP-36 berdosis sama. Selain itu, ia juga memberikan 200 ml pupuk kompos cair yang diencerkan dengan seliter air bersih.

Baca juga:  Berkebun di Atas Plastik

Dengan perawatan rutin itu beragam tabulampot berbuah. Pria kelahiran Palembang pada 1982 itu panen 17 buah jambu air kingrose, 2—3 dompol lengkeng puang ray. Bobot per dompol 1 kg. Menurut ahli Fisiologi Tumbuhan dari Institut Pertanian Bogor, Ir Edhi Sandra MSi, kondisi lingkungan di dak rumah berbeda dengan di halaman rumah. “Suhu lebih tinggi, angin lebih kencang, sinar matahari lebih terik sehingga laju transpirasi lebih cepat,” kata Edhi. Kondisi itu mengakibatkan laju fotosintesis tanaman juga cenderung lebih cepat.

Laju transpirasi yang tinggi menyebab-kan penyerapan unsur hara dan air cenderung lebih cepat, sehingga pekebun perlu lebih intensif mengontrol tanaman. “Jangan sampai terlambat menyiram tanaman dan pemberian nutrisi, karena tanaman pasti akan terganggu pertumbuhan dan bisa menjadi kerdil,” kata Edhi. Jika semua aturan dipatuhi menyulap atap rumah menjadi istana buah bukan mustahil. (Bondan Setyawan)

Sumber : t r u b u s – o n l i n e . c o . i d

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *