555_ 98-5Mengatasi penyakit layu fusarium dan antraknosa pada cabai.

Noktah hitam di daun itu awal musibah di lahan Munirhadi. Noktah itu kemudian membesar, mati pucuk yang berlanjut ke bagian bawah tanaman, dan akhirnya tanaman mati. Celakanya itu terjadi bukan pada satu atau dua tanaman cabai, tetapi 5.000 tanaman di lahan 2.500 m2. Petani di Kecamatan Kedunggalar, Kabupaten Ngawi, Provinsi Jawa Timur, itu gagal panen 100%. Munirhadi menyebut penyakit yang meluluhlantakkan tanamannya itu patek.

Cendawan Colletotrichum capsic biang kerok penyakit patek alias antraknosa. Kehadiran makhluk liliput di lahan cabai itu menyebabkan kematian jaringan tanaman. Dampaknya menurunkan hasil panen hingga 75%, bahkan di kebun Munirhadi 100%. Menurut dosen Hama dan Penyakit Tumbuhan, Universitas Sebelas Maret, Susilo Hambeg Poromarto, penyakit itu berkembang cepat saat kelembapan tinggi, lebih dari 80% dan suhu 32°C.

Petani cabai waswas gagal panen akibat serangan penyakit antraknosa dan layu fusarium.

Petani cabai waswas gagal panen akibat serangan penyakit antraknosa dan layu fusarium.

Gagal Panen
Pada periode berikutnya, Munirhadi kembali menanam cabai di lahan sama. Celaka tiga belas, ketika tanaman berumur 45 hari, penyakit lain menghampiri. Semula tulang daun bagian atas tampak pucat, tangkai merunduk, ujung daun menguning kering, dan akhirnya tanaman layu. Gejala khas layu fusarium yaitu tanaman terlihat layu pada siang hari dan kembali segar pada malam hari.

Para petani mengira itu wajar karena pada siang hari penguapan terjadi lebih cepat sehingga tanaman layu dan malam tanaman kembali terlihat segar. Menurut Hambeg layu fusarium juga berkembang lebih cepat saat cuaca mendukung, seperti saat musim hujan seperti saat ini. Kelembapan tinggi dengan suhu tidak terlalu dingin seperti di Indonesia sangat kondusif untuk Fusarium oxysporum berkembang biak.

Baca juga:  Panen Besar Cabai Organik

Cendawan membuat koloni di dalam tanah dan menyedot nutrisi tanaman melalui akar. Dampaknya pasokan nutrisi terganggu sehingga lama-kelamaan tanaman mati. Menurut Hambeg, cara menghindari layu fusarium dan antraknosa sejak pemilihan benih yang bebas penyakit dan menggunakan varietas tahan penyakit. Petani cabai di Banyuwangi, Jawa Timur, Imam, memanfaatkan varietas tahan antraknosa dari produsen benih PT East West Seed Indonesia.

Selain itu jarak tanaman juga mempengaruhi penyebaran penyakit. Jarak tanam terlalu rapat mempercepat proses penularan penyakit. Idealnya petani menanam Capsicum annuum berjarak 60 cm x 70 cm.

Namun, jika terkena layu fusarium pengendalian penyakit harus dilakukan secepat mungkin agar tidak meluas. Menurut Hambeg penggunaan pestisida dengan dosis dan waktu yang tepat cukup efektif untuk mengontrol layu fusarium dan antranosa. “Jika dalam satu luasan masih kurang dari 25% tanaman yang terkena layu fusarium maka penggunaan fungisida sitemik masih efektif dilakukan,” ujar doktor Ilmu Tanaman alumnus North Dakota State University itu.

Pemberian fungisida dapat mencegah penyakit layu fusarium dan antraknosa pada cabai.

Pemberian fungisida dapat mencegah penyakit layu fusarium dan antraknosa pada cabai.

Pada musim tanam berikutnya, Munir mengaplikasikan fungisida sebagai pencegahan terserang layu fusarium dan antraknosa. Ia mengggunakan masalgin 50 WP dan velimek 80 WP untuk melindungi 5.000 tanaman cabai. Kedua fungisida itu memiliki bahan aktif binomial 50,4%, maneb 72% dan zineb 8%. Munirhadi melarutkan 1 sendok teh masalgin dan 1 sendok makan velimek dalam 14 liter air bersih, mengaduk, dan mengocorkan ke bagain akar pada 1 Hari Setelah Tanam (HST).

Selanjutnya pemberian velimeks kedau pada 10 HST dengan konsentrasi satu sendok makan dalam 20 liter air. Adapun masalgin diberikan pada 15 HST dengan konsentrasi setengah sendok makan dalam 20 liter air. Setelah itu pemberian kedua pestisida berlanjut bersamaan dengan pemberian pupuk setiap lima hari secara bergantian dengan cara dikocorkan. Munir juga memberikan campuran 800 gram velimmek dan 450 gram masalgin setiap tiga kali sehari dengan cara disemprotkan. Dosis yang diberikan 1 sendok campuran pestisida dalam 14 liter air.

Baca juga:  Daun Moringa Jadi Tepung

Menurut Agronomis wilayah Jawa Timur PT Kalatham, Darmaji, penyemprotan dua jenis fungisida sekaligus itu memang tepat untuk mengendalikan penyakit antraknosa. Ia biasa menyarankan untuk mengaplikasikan masalgin 50 WP dan velimek 80 WP dengan cara disemprotkan. Konsentrasi 2 gram velimek dan 2 gram masalgin untuk 1 liter air. Setelah mengapliasikan fungisida itu, Munir dapat memanen 500 kg cabai per 1.000 tanaman sekali panen.

Munirhadi tidak menghitung biaya pengadaan fungisida per luasan lahan, namun menurutnya biaya yang diperlukan untuk pengadaan pestisida itu mencapai Rp3.000 per tanaman cabai per periode tanam. Walaupun begitu, selama menggunakan pestisida ia selalu mendapatkan untung. (Ian Purnama Sari)

 

Sumber : t r u b u s – o n l i n e . c o . i d