Taman di rumah sakit membantu pemulihan kesehatan pasien.

Taman kemoterapi di Rumahsakit Tergooi, Hilversum, Belanda.

Taman kemoterapi di Rumahsakit Tergooi, Hilversum, Belanda.

Bangunan terbuat dari kayu beratap kaca bening itu terhubung dengan gedung utama Rumahsakit Tergooi, Hilversum, Belanda. Di beberapa bagian aneka tanaman hias, bunga, dan herba mengapit tempat duduk yang juga berbahan kayu. Struktur setengah lingkaran itu bukan taman biasa. Itu adalah taman kemoterapi tempat pasien kanker menjalani pengobatan. Lazimnya kemoterapi dilakukan di dalam ruangan khusus.

Dr Jolanda Maas, peneliti program penelitian Green Healthy Hospital.

Dr Jolanda Maas, peneliti program penelitian Green Healthy Hospital.

Taman kemoterapi beroperasi sejak 22 Juni 2015. Dokter ahli kanker di Rumahsakit Teergoi, dr Pieter van den Berg yang menginisiasi kehadiran taman kemoterapi. Menurut Pieter kemoterapi perawatan yang berat dan memicu stres bagi pasien kanker dan keluarga. Harap mafhum frekuensi dan durasi kemoterapi relatif lama tergantung kondisi pasien berkisar sepekan sekali selama 4 bulan atau saban bulan selama 2 tahun.

Rumahkaca
Belum lagi proses kemoterapi yang berlangsung 1 jam hingga kadang-kadang lebih dari 24 jam. Oleh karena itu Pieter dan rekan berhasrat menjadikan perawatan dan situasi kemoterapi senyaman mungkin. Salah satu caranya dengan melakukan kemoterapi di luar ruangan berisi aneka tanaman penyejuk mata. Terdapat 7 kursi perawatan yang nyaman. Atap kaca melindungi pasien dari sinar matahari langsung dan hujan.

Selain kursi pasien, bangunan pun dilengkapi bangku untuk keluarga pasien. Pasien berkursi roda dan tempat tidur dapat mengakses taman kemoterapi. Bangunan itu pun tidak hanya berfungsi saat musim panas. Pasien tetap bisa menjalani kemoterapi saat musim dingin karena rumahsakit menyediakan pemanas ruangan dan selimut.

Pasien nonkanker yang ingin menikmati keheningan malam di taman itu pun dipersilakan. Pasien kanker menyambut gembira kehadiran taman seharga sekitar €200.000 setara Rp2,8-miliar itu. Salah satu pasien kanker, Martin Voerknecht, mengatakan kemoterapi di taman menyenangkan karena menyatu dengan alam. Sebelumnya Martin kerap mual karena aroma menusuk hidung dari sup dan aneka produk kebersihan.

Aneka tanaman hias, bunga, dan herbs, memenuhi taman kemoterapi.

Aneka tanaman hias, bunga, dan herbs, memenuhi taman kemoterapi.

“Kanker penyakit serius sehingga kami berupaya memberikan perawatan terbaik,” kata Pieter. Saat dekat dengan alam stres berkurang sehingga pasien lebih rileks. Dampaknya perawatan medis lebih mudah dan kesehatan pasien lebih baik. Nun di Blaricum, North Holland, Belanda, Rumahsakit Tergooi, pun memanjakan pasien dan pengunjung dengan lingkungan hijau.

Baca juga:  GrootGroenPlus 2016

Bukan dengan taman kemoterapi, tetapi rumah tanam (green house) berisi aneka tanaman hias, bunga, dan herba. Bangunan berukuran 8 m x 5 m itu dibuka untuk umum sejak 18 November 2016. Lantainya dari batu bata. Kaca menjadi atap sekaligus dinding bangunan. Kursi kayu besar tersedia agar pasien dan keluarga nyaman menyaksikan keindahan ragam tanaman. Harapannya kehadiran rumah kaca membuat pasien dan pengunjung lebih rileks dan merasa lebih baik karena bersentuhan dengan tanaman.

Riset
Menurut anggota staf Bagian Epidemiologi dan Penyakit Tropik, Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas Diponegoro, Semarang, Jawa Tengah, dr Ari Udiyono MKes FIAS, tanaman sangat bermanfaat karena memproduksi oksigen ketika siang alias pemasok udara sehat. Tumbuhan beragam warna memberikan kenyamanan dan ketenangan secara psikologis.

Rumahkaca di Rumahsakit Tergooi, Blaricum, Belanda.

Rumahkaca di Rumahsakit Tergooi, Blaricum, Belanda.

Menurut penelitian perasaan nyaman meningkatkan imunitas dan diharapkan memperpendek masa perawatan pasien. Sepengetahuan Ari belum semua rumahsakit di Indonesia menerapkan konsep rumahsakit hijau atau green hospital. Mayoritas rumahsakit milik pemerintah seperti Rumahsakit dr Kariadi di Semarang, Jawa Tengah, memiliki taman berisi aneka tanaman berwarna-warni.

Sementara rumahsakit kepunyaan swasta belum semuanya memiliki taman. Rumahsakit St. Elizabeth, Semarang, Jawa Tengah, termasuk tempat favorit Ari karena suasananya asri dan sejuk dengan pohon tertata rapi. Terbatasnya lahan di rumahsakit swasta menyebabkan jumlah tanaman kurang memadai.

Sejatinya taman kemoterapi dan rumah kaca di Rumahsakit Tergooi bagian dari program penelitian 4 tahun bernama Green Healthy Hospital. Peneliti senior dari Department of Social and Organizational Psychology, VU University, Amsterdam, Belanda, Dr Jolanda Maas, mengatakan program riset itu dimulai sejak September 2015 dan berakhir September 2019.

Mayoritas rumah di Belanda memiliki taman.

Mayoritas rumah di Belanda memiliki taman.

“Penyandang dana program rumahsakit sehat hijau antara lain Top Sector Horticulture and Propagation Materials, Tergooi Hospital, Foundation Goois Support Nature, Flora Holland, dan iVerde,” kata Jolanda saat presentasi di pameran tanaman taman, GrootGroenPlus 2016, di Zundert, Belanda, pada 7 Oktober 2016. Tujuan program yaitu mengetahui pengaruh area hijau di dalam dan sekitar rumahsakit terhadap pasien, pengunjung, dan staf.

Baca juga:  Tempe dan Kesehatan

Tujuan lain membangun kerja sama pertukaran pengetahuan antara rumahsakit dan organisasi hijau. Artinya Jolanda dan tim masih dalam proses mengungkap peran atau mekanisme taman kemoterapi dan rumah kaca di Rumahsakit Tergooi sehingga membantu memulihkan kesehatan pasien. Namun, riset Prof Dr Agnes van den Berg mengungkapkan berkebun menghilangkan stres.

Tiga puluh pekebun diberikan Tes Stroop untuk memicu stres lalu diminta berkebun 30 menit atau membaca dalam ruangan. Peneliti mengukur kadar kortisol dan suasana hati responden. Hasil penelitian menunjukkan berkebun menurunkan kadar kortisol lebih kuat daripada membaca. Suasana hati pun kembali membaik setelah berkebun. Musababnya, “Penghijauan membuat orang rileks. Sakitnya pasien berkurang saat mereka melihat area hijau,” kata perempuan kelahiran Voorburg, 8 April 1980 itu. (Riefza Vebriansyah)

Sumber : t r u b u s – o n l i n e . c o . i d