Taman di Sekujur Pilar 1

Tiang koridor berhias tanaman wijaya kusuma dan bromeloia menyejukkan suasana bagi pelintasnya.

Tiang koridor berhias tanaman wijaya kusuma dan bromeloia menyejukkan suasana bagi pelintasnya.

Mengubah kesan kaku elemen bangunan dengan tanaman.

Nadia melangkah menuju bangku taman. Mahasiswa sebuah perguruan tinggi di Serpong, Kota Tangerang Selatan, Banten, itu lebih senang menemui sahabatnya di lokasi itu. “Kami sering ketemuan di sini, karena suasananya seperti di taman yang penuh tanaman. Suasana itu amat kontras dengan kondisi di kawasan itu yang panas dan pemandangannya didominasi bangunan gedung perkantoran, pabrik, dan pusat perbelanjaan,” kata Nadia.

Lokasi pertemuan itu di The Breeze, sebuah pusat perbelanjaan yang didesain dengan konsep taman dalam ruangan. Pada halaman gedung yang dirancang tanpa pintu masuk itu, terdapat taman dengan berbagai tanaman hias berdaun warna-warni anggota kerabat bromelia. Saat memasuki ruangan, pengunjung melewati sebuah koridor dengan banyak tiang penyangga atap.

Tidak ada lagi kesan kaku berkat tanaman yang menutupi pilar raksasa.

Tidak ada lagi kesan kaku berkat tanaman yang menutupi pilar raksasa.

Wangi wijayakusuma
Bunga wijayakusuma putih menyelimuti setiap pilar. Menurut Maria Liopisa, perancang taman senior yang menangani penataan taman the Breeze, keberadaan wijayakusuma itu erat kaitannya dengan kepercayaan nenek moyang terhadap si ratu malam itu. “Bunga wijayakusuma secara turun-temurun dianggap sebagai pembawa rezeki. Jadi penataan di jalan masuk sebagai pengharapan mendapat banyak rejeki bagi orang yang berada di dalam gedung,” ujar Maria.

Maria tidak sembarangan memilih tanaman hias untuk mempercantik pilar. Karakter wijayakusuma umumnya adalah sangat singkat waktu mekarnya. Bunganya mekar pada tengah malam dan hanya bertahan selama 3 jam, kemudian layu dan gugur. Supaya pengunjung dapat menikmati indahnya bunga dan wangi aromanya pada pagi hari, Maria memilih jenis Epiphyllum anguliger khusus bunga mini yang mekar pada siang.

“Bunga itu didapat dari penjual bunga di Bogor. Bunganya bisa tahan sampai sekitar jam 9 atau sebelum matahari bersinar terik,” ujar Maria. Di bawahnya muncul bromelia berdaun hijau. Di ruangan utama pusat perbelanjaan, terdapat sebuah gedung serbaguna untuk berbagai acara. Tidak seperti gedung pusat perbelanjaan yang gedungnya tertutup, bagian tengah the Breeze merupakan ruang terbuka.

Tanaman penutup pilar Mal Summarecon di Bekasi, tidak ada ruang kosong yang tampak selain rimbunnya daun.

Tanaman penutup pilar Mal Summarecon di Bekasi, tidak ada ruang kosong yang tampak selain rimbunnya daun.

Melembutkan iklim
Desain atapnya berbentuk semacam kanopi tembus cahaya dengan pilar-pilar raksasa berdiameter 1,5 meter sebagai penyangganya. Namun, pengunjung tidak akan menjumpai suasana yang kaku akibat adanya beberapa tiang besi itu. Maria berusaha membuat suasana menjadi lebih “lunak” dengan memasang berbagai tanaman hias sebagai penutup pilar dan sekitarnya.

Baca juga:  Anggrek Dendrobium Mini Bunga Lebat

Ia pun menghadirkan beberapa philodendron besar yang berpadu dengan kadaka, costus, dan tapak dara sehingga memberi kesan hutan alami. Di sisi lain, ia menghadirkan calathea besar sebagai pengarah jalan atau koridor. Apa yang dilakukan Maria itu sejalan dengan pendapat Dr Ir Nizar Nasrullah MAgr, dosen di Departemen Arsitektur Lansekap, Institut Pertanian Bogor.

Menurut Nizar salah satu fungsi tanaman adalah melembutkan iklim dengan memberikan naungan dari sinar matahari, memodifikasi suhu, menambah kelembapan udara, serta menahan angin. “Dengan cara itu ruangan menjadi nyaman dan menyegarkan bagi semua orang,” tutur Nizar. Tanaman yang dipakai harus tahunan, bukan semusim agar tahan lama.

“Yang paling ideal adalah golongan paku-pakuan, sukulen, bromeliad, dan tanaman rambat,” kata Nizar. Semula tanaman hias hanya berada di bagian lantai dengan pot atau tanah yang sengaja disediakan sebagai taman. Namun, setelah melihat kondisi bangunan yang dipenuhi tiang penyangga besi terkesan kaku dan keras.

Rangka besi menyebabkan kesan kaku pada bangunan.

Rangka besi menyebabkan kesan kaku pada bangunan.

Maria berinisiatif untuk menutupi kekakuan itu dengan tanaman hias. Tanaman yang dipilih adalah tanaman hias daun seperti kadaka Asplenium nidus, tanaman tanduk rusa Platycerium coronarium atau biasa dikenal sebagai simbar menjangan, dan bromelia. “Karena tanaman bunga tidak mungkin bertahan lama dalam kondisi tidak mendapat sinar matahari secara langsung, maka paling tepat menggunakan tanaman hias daun,” kata Maria.

Pemilihan materi yang hanya tanaman daun membuat suasana didominasi warna hijau. Namun, ia menyiasatinya supaya tetap mendapatkan warna selain hijau. Caranya dengan memasang bromelia, karena warna daunnya beragam dari jingga, merah, dan merah jambu.

Tren
Lazimnya tanaman di bagian atas taman vertikal selalu “sengsara” karena kurang penyiraman. Namun, Maria menyiasati dengan memasang jaringan irigasi sederhana. Untuk penyiraman setiap tanaman, dengan memasang selang berujung nozel di bagian atas sehingga air mengalir dari tanaman di bagian atas ke tanaman di bawahnya. Penyiraman 2 kali sehari pada pagi dan sore hari.

Baca juga:  Seronok Taman Sayuran

Demikian juga dengan tanaman wijayakusuma pada koridor. Pemupukan tanaman dengan pupuk daun yang dilakukan secara manual dengan alat penyemprot portabel. “Pupuk yang digunakan juga pupuk organik. Cara penyemprotan dipilih secara manual supaya pupuk tepat mengenai tanaman dan menghindari pupuk yang banyak terbuang jika dengan pengabut,” ujar Maria. Pemupukan sebulan sekali.

Rizki Sahrani, saat ini vertikal garden sedang tren. Permintaan pembuatan meningkat 70% per tahun.

Rizki Sahrani, saat ini vertikal garden sedang tren. Permintaan pembuatan meningkat 70% per tahun.

Penggantian jenis tanaman jika ada tanaman yang mati atau rusak. Namun, menurut Maria, selama ini pergantian tanaman jarang dilakukan. Kalaupun ada, dari 200 batang tanaman hanya 10 tanaman yang pernah diganti.

Suasana serupa the Breeze juga bisa ditemukan di Mal Summarecon, Kota Bekasi, Provinsi Jawa Barat. Begitu memasuki lobi utama, dua buah taman tegak terlihat mengapit sebuah layar televisi raksasa. Dinding-dinding restoran semakin atraktif berhiaskan dedaunan hijau. Taman dinding juga tampak menghiasi pilar-pilar raksasa di halaman depan Grand Galaxy Plaza di Kota Bekasi.

Meski hanya beratap langit, halaman plaza tetap asri sebab pengelola meletakkan sejumlah tanaman taman seperti palem-paleman, helikonia, dan kamboja. Bandara Udara Internasional Ngurah Rai, Denpasar, Bali, pun mempercantik diri dengan menutup tiang-tiang besi di pintu masuk keberangkatan.

Menurut Rizki Syahrani, manajer pemasaran PT Godhong Ijo Asri—salah satu perusahaan pelopor taman dinding—kini taman dinding kian tren. Permintaan taman dinding di Godhong Ijo pun meningkat hingga 70% setiap tahun. “Padahal, ketika kami pertama kali menangani taman dinding, kami harus menjelaskan definisi dan fungsi taman tegak itu. Selain itu, konsumen hanya mau dindingnya asal hijau saja,” kata Rizki. (Muhammad Hernawan Nugroho)

Sumber : t r u b u s – o n l i n e . c o . i d

0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments