Takar Tinggi Produksi 1
Takar 1 dan 2,  tahan penyakit karat

Takar 1 dan 2, tahan penyakit karat

Duo kacang tanah dengan produksi 3 ton polong kering per hektar. Rata-rata produksi nasional 1,5 ton/ha.

Hamparan tanaman kacang tanah yang menghijau itu cukup memuaskan Srikan, pekebun di Rumbia, Lampung Tengah. Namun, betapa terkejutnya ia ketika menemukan cukup banyak tanaman layu. Dari pengalaman sebelumnya, tanaman seperti itu tidak bisa menghasilkan polong. Semakin jauh melangkah, semakin banyak tanaman layu ditemukan. Srikan menduga itu akibat serangan penyakit layu. Penyakit akibat kehadiran bakteri Ralstonia solancearum dapat menggagalkan panen hingga 15—35%. Sebab bakteri itu dapat menyerang mulai tanaman berumur satu minggu hingga panen.

Pekebun itu pantas masygul. Bayang-bayang penyakit layu menurunkan produktivitas tanaman terpampang di depan mata. Srikan menanam kacang tanah varietas jerapah yang dipakai secara turun-temurun. Menurutnya, varietas yang dirilis  pemerintah pada 1998 itu produksinya cukup tinggi 3,5—4 ton basah. Dengan harga jual Rp6.000/kg polong basah ia menangguk omzet Rp21-juta/ha. Oleh karena itu pula ia berani menanam 2 kali setahun seluas 25 ha. Gara-gara penyakit layu Srikan berpotensi kehilangan omzet Rp3.150.000.

Impor

Takar 1 (kiri) produksi 4,25 ton/ha polong kering dan takar 2 produksi 3,80 ton/ha polong kering

Takar 1 (kiri) produksi 4,25 ton/ha polong kering dan takar 2 produksi 3,80 ton/ha polong kering

Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan produksi kacang tanah Indonesia pada 2012 mencapai 907.000 ton dari luas panen 713.000 ha. Itu berarti rata-rata produksi nasional 1,3 ton/ha. Yang mengkhawatirkan, luas panen 5 tahun terakhir terus menurun.

Pada  2012 Indonesia mengimpor 125.636 ton kacang tanah. Volume impor sebesar itu boleh jadi tidak perlu dilakukan bila petani menanam varietas takar 1 atau takar 2. Kedua varietas itu adaptif ditanam di lahan masam dan tahan penyakit layu bakteri seperti yang dialami Srikan serta penyakit karat daun.

Menurut pemulia kacang tanah di Balai Penelitian Tanaman Aneka Kacang dan Umbi (Balitkabi), Prof Dr Astanto Kasno, “Di lahan marginal, kacang tanah paling adaptif ditanam dan  menguntungkan dibandingkan dengan tanaman pangan  lain.” Di Indonesia terdapat 25-juta ha  lahan kering masam yang belum tergarap maksimal.  Bila 0,25% saja dari lahan marginal itu atau setara  62.500 ha ditanami takar 1 atau takar 2, hasilnya mencapai 187.500 ton. Jumlah itu dapat menutupi kebutuhan impor kacang tanah pada 2012.

Baca juga:  Akustik untuk Kentang

Oleh karena itu Astanto Kasno beserta Novita Nugrahaeni, Trustinah, Joko Purnomo, dan Bambang Suwarsono merakit kacang tanah unggul untuk daerah kering masam yang berproduksi tinggi: takar 1 dan takar 2.

Takar 1 lahir dari hasil persilangan varietas macan dan galur ICGV 91234 yang dilakukan pada 1988—1999. Menurut Astanto Kasno, varietas macan memiliki ketahanan terhadap penyakit layu dan mampu  beradaptasi  luas di berbagai kondisi. Sayang varietas itu rentan terhadap penyakit daun. Sedangkan ICGV 91234 merupakan varietas introduksi yang tahan penyakit daun, terutama karat yang disebabkan cendawan Puccinia arachidis.

Paling unggul

Persilangan  buatan antara kedua induk dilakukan di rumah kaca pada 1998. Hasilnya kemudian ditanam dan disilang kembali. Setelah melalui seleksi dengan metode pedigri sampai F5 pada 2007, diperoleh galur P 9816(315-210-96)-20-3 atau GH4 yang memiliki kombinasi karakter kedua induknya.

Sementara takar 2 lahir dari penyilangan varietas lokal muneng dengan ICGV 92088 yang dilakukan pada 2000—2001.  Varietas muneng memiliki ketahanan terhadap penyakit layu dan karakteristik polong-biji bagus, tetapi rentan terhadap penyakit daun.  Sedangkan ICGV 92088 tahan penyakit daun, terutama karat yang disebabkan cendawan P. arachidis. Persilangan kedua induk dilakukan pada 2001, lalu dilanjutkan dengan seleksi bulk dan galur hingga didapatkan galur Mn/9208802-B-0-1-2 atau GH5 yang memiliki kombinasi hasil tertinggi.

Pada 2007—2008, dilakukan uji daya hasil pendahuluan dan uji daya hasil lanjutan. Uji adaptasi terhadap delapan galur terpilih termasuk galur P 9816-20-3 (GH4) dan Mn/9208802-B-0-1-2 (GH 5) dengan dua varietas pembanding (kancil dan jerapah). Daya uji dilakukan di Jawa Tengah, Daerah Istimewa Yogyakarta, Jawa Timur, dan Lampung. Parameter pengamatan ialah ketahanan terhadap penyakit layu, karat, bercak daun, serta umur panen. Dari hasil uji itu, galur GH4 dan GH5 unggul di berbagai hal yang diujikan.

Baca juga:  Produksi Telur Meningkat 20%

Novita Nugrahaeni menuturkan pada uji adaptasi potensi hasil galur GH4 dan GH5 masing-masing 4,25 ton/ha dan 3,80 ton/ha polong kering dengan hasil rata-rata 3,0 ton/ha. Hasil itu lebih tinggi daripada hasil rata-rata varietas jerapah dan kancil yang masing-masing 2,45 ton/ha dan 2,62 ton/ha polong kering.  Pengamatan pada periode kritis umur 60 sampai dengan umur 90 hari menunjukkan tanaman  sangat tahan terhadap serangan penyakit karat. Sedangkan varietas jerapah dan kancil masing-masing tergolong agak peka dan peka terhadap penyakit karat. Karena kemampuan itu, keduanya diberi nama takar, tahan karat Hasil lain tanaman tahan atau agak tahan terhadap penyakit layu (

Berdasarkan sejumah uji itu, kacang tanah galur GH4 dan GH5 diusulkan dilepas sebagai varietas unggul baru dengan nama  takar 1  dan  takar 2.  Keduanya tergolong kacang tanah tipe spanish (polong berbiji dua). Takar 1 mempunyai ukuran biji besar  (65,65 g/100 biji). Sedangkan takar 2, berukuran biji sedang (47,6 g/100 biji).

Prof. Dr. Astanto Kasno salah satu pemulia takar 1 dan takar 2

Prof. Dr. Astanto Kasno salah satu pemulia takar 1 dan takar 2

Produksi tinggi

Untuk mendapat produksi optimal  itu maka petani menanam kacang tanah di dalam baris-baris dengan jarak antartanaman 40 cm x 15 cm. Setiap lubang diisi 2 biji atau 320.000 tanaman/ha atau setara dengan benih 100 kg/ha. Sebagai pupuk dasar diberikan 50 kg Urea, 100 kg SP-36, dan 100 kg KCl atau alternatif lain pupuk Phonska (15% NPK dan 10% S) yang diberikan seluruhnya pada saat tanam.

Selain itu lakukan penyiangan untuk mengurangi persaingan dengan gulma. Frekuensi penyiangan dua kali, yakni pada saat tanaman berumur dua minggu setelah tanam (mst) dan  4 mst (tergantung keadaan gulma). Tanaman diairi pada periode kritis yaitu umur 1—5 hari setelah tanam (hst), 25—35 hst (waktu berbunga),  45—55 hst, dan 70—80 hst (saat pembentukan polong). Kacang siap panen pada umur 85—90 hst. Selanjutnya kacang segera dipipil dan dijemur atau jual langsung polong ke pengepul. Dengan potensi hasil polong kering rata-rata hingga 3,0 ton/ha, takar 1 dan takar 2 menjadi solusi atasi impor kacang tanah. (Syah Angkasa/Peliput: Bondan Setyawan)

Sumber : t r u b u s – o n l i n e . c o . i d

0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments