Beternak kelulut ternyata tak selamanya semanis madu. Sepekan terakhir Hendry Mulia berduka. Sebanyak tiga log koloni Trigona itama miliknya kosong melomgpong akibat penghuninya tewas dan sebagian kabur. “Penyebabnya serangan semut gula yang berukuran sangat kecil,” ujar peternak itama di Tangerang Selatan, Provinsi Banten, itu. 

Meski berukuran mungil, hewan anggota famili Formicidae itu sangat agresif menyerang hampir semua penghuni sarang seperti telur, larva, ratu, dan lebah dewasa. “Mereka bisa membunuh penghuni sarang dalam hitungan jam,” katanya. Nun di Kabupaten Pendeglang, Provinsi Banten, hasil produksi madu klanceng dari Komunitas Peternak Trigona-Lingkungan Mandiri (Pat-Lima) anjlok hingga 60% sejak awal 2014.

“Kini kami hanya produksi 5—10 liter madu trigona per bulan,” ujar Dian Eka Widiantara, ketua Komunitas Pat-Lima. Penyebabnya adalah serangan serangga lain yang merusak sarang dan memangsa larva trigona. Dian belum mengidentifikasi jenis serangga yang menjadi predator trigona. “Serangan hama terjadi saat kemarau panjang pada 2014,” katanya.

544_ 14

Dian menduga penyebab lain anjloknya produksi madu teuweul—sebutan trigona dalam bahasa Sunda—adalah curah hujan tinggi sepanjang musim hujan 2014. Hujan yang mengguyur hampir setiap hari membuat lebah enggan keluar sarang mencari makan. Untuk bertahan hidup mereka memakan madu yang telah mereka kumpulkan dalam sarang. “Begitu pasokan madu habis, banyak lebah yang mati,” tutur pria yang juga bekerja di sebuah instansi pemerintah itu.

Kedua penyebab itu membuat beberapa peternak gulung tikar. “Dari 45 peternak kini hanya tersisa 25 peternak,” kata Dian. Jumlah koloni di para peternak yang masih bertahan pun terus berkurang. Salah satunya di kediaman Andri di Desa Babakan Kalanganyar, Kecamatan Pandeglang, Kabupaten Pandeglang. Pria paruh baya itu semula membudidayakan 50 koloni laeviceps. “Kini hanya tersisa 24 kotak koloni,” ujarnya.

Baca juga:  Gebrakan Petani Muda

Penyebab lain, cara panen yang keliru. Menurut Komarudin, anggota pengelola mitra di Komunitas Pat-Lima, kini banyak pembeli madu dari luar kawasan Pandeglang yang memborong madu ke desa Babakan Kalanganyar. Si pemanen keliru cara panen madu. “Mereka memanen seluruh sarang madu dan bee pollen. Padahal seharusnya jangan semuanya,” ujar Komarudin.

Madu dan bee pollen yang tersisa menjadi cadangan pakan sebelum trigona membentuk sarang madu baru. Karena madu habis seluruhnya, maka sang lebah kabur karena kekurangan makanan. Jika sudah begitu, mendulang rupiah pun hanya sebatas impian. (Imam Wiguna)

Sumber : t r u b u s – o n l i n e . c o . i d