Imam Maulana SP

Iman Maulana jatuh-bangun berbisnis kentang. Omzet sempat menembus miliaran rupiah.

Kentang granola permintaan tinggi dari dalam dan luar negeri.

Kentang granola permintaan tinggi dari dalam dan luar negeri.

Usia Imam Maulana masih belia, baru 26 tahun ketika sukses mengekspor umbi kentang ke Singapura. Ia rutin mengirim 1 kontainer setara 22 ton per bulan. “Dua tahun kemudian jumlahnya menjadi 3 kali lipat,” kata Iman yang mengembangkan unit usaha PT Green Leaf Farm. Hasil perniagaan umbi Solanum tuberosum itu fantastis, Rp2,5-miliar per bulan. Petani muda itu meraup omzet besar.

Hampir tiga tahun pemuda kelahiran 31 Desember 1985 itu menikmati laba tanaman anggota famili Solanaceae. Ia membudidayakan tananam kerabat tomat itu di Pangalengan, Kabupaten Bandung, Jawa Barat. Untuk memenuhi permintaan importir hingga 60-an ton per bulan, Iman harus menanam setidaknya 6 hektare per bulan. Produktivitas kentang rata-rata 20 ton per hektare. Adapun masa produksi sejak tanam hingga panen 100—120 hari.

Rugi miliaran
Untuk memenuhi permintaan Singapura, alumnus Universitas Padjadjaran itu juga bermitra dengan 20 petani yang menanam kentang di lahan total 80 hektare. Menurut Iman pasar Singapura menghendaki kentang granola berbobot 100—120 gram per umbi, bebas serangan hama dan penyakit, serta mulus tanpa cacat. Dari luasan itu sebanyak 50% memenuhi standar kualitas pasar Singapura.

Pada 2015, Imam Maulana sempat membudidayakan tomat ceri eksklusif.

Pada 2015, Imam Maulana sempat membudidayakan tomat ceri eksklusif.

Namun, pada Mei 2013 prahara itu datang ketika kuantitas kentang menurun sehingga tidak sesuai dengan permintaan importir. Penurunan hasil panen—produksi hanya 17—18 ton per hektare—karena cuaca buruk dan teknik distribusi yang kurang tepat. Contoh, terlambatnya pengiriman ke pelabuhan sehingga kentang busuk saat sampai di tujuan. Akibatnya Iman gagal mengirimkan puluhan ton kentang.

Sementara Iman tetap harus mengganti kerugian kepada para pekebun. “Ketika itu saya terlalu berani mengambil risiko untuk meningkatkan kapasitas pasokan, sementara pondasi lainnya belum siap. Omzet besar ternyata juga berisiko besar,” kata Iman yang merugi Rp2-miliar. Meski merugi miliaran rupiah, Iman bergeming di bisnis kentang. Ia tak patah semangat dan tetap mengebunkan kentang.

Baca juga:  Pasar Kopi Organik

Kini pehobi otomotif itu melepas pasar ekspor dan kembali fokus memenuhi permintaan kentang dalam negeri. “Permintaan dari industri makanan dan pasar swalayan di tanahair masih berjalan hingga kini,” kata ayah satu anak itu. Pada 2014 ia masuk nomine peringkat ke-20 besar untuk mendapat pembinaan sebagai wirausaha muda. “Dalam program itu saya mendapat banyak pelajaran dan motivasi untuk bangkit kembali,” katanya.

Bibit kentang
Iman Maulana kembali merintis usaha perniagaan kentang secara bertahap pada 2015. Alumnus Jurusan Agronomi Fakultas Pertanian Universitas Padjadjaran (Unpad) itu bermitra dengan 20—50 pekebun kentang dengan total areal tanam 20 hektare di Kecamatan Pangalengan, Kabupaten Bandung. Dari total areal tanam itu Iman mampu memasok 60—80 ton kentang per bulan ke pasar swalayan dan industri olahan makanan ringan.

Kentang mulus dan tanpa cacat diminati pasar lokal maupun mancanegara.

Kentang mulus dan tanpa cacat diminati pasar lokal maupun mancanegara.

Standar kualitas yang diinginkan pasar domestik adalah tanpa cacat fisik, bobot 125—335 gram per umbi, dan kulit luar kuat. Adapun industri menghendaki kentang bobot 125—150 gram per umbi dengan kualitas serupa. “Omzet sekarang jauh lebih kecil dibandingkan dengan 4—5 tahun lalu. Omzet saat ini hanya Rp300-juta per bulan,” tuturnya. Menurut Iman dalam perniagaan kentang hampir tidak ada produk yang terbuang.

Kentang kualitas terbaik untuk memasok pasar swalayan, sedangkan kualitas di bawahnya untuk pasar tradisional atau industri makanan olahan. “Kentang yang busuk pun bisa saya jual ke peternak cacing untuk media budidaya cacing,” kata Iman. Anak ke-1 dari 3 bersaudara itu sebetulnya sudah mulai merintis usaha bidang agribisnis sejak kuliah. “Saat kuliah uang bulanan saya selalu tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan kuliah dan makan sehari-hari. Oleh sebab itu saya mencoba usaha agribisnis untuk menutupinya,” katanya.

Baca juga:  Pertanian Perkotaan BI, Trubus, PKK: Terbaik Tanam Sayuran

Memasuki semester ketiga pada 2005, Iman memasok kentang ke hotel, restoran, dan kafe di Jatinangor, Kabupaten Sumedang, Jawa Barat. Saat pertama menjadi pemasok ia baru mampu memenuhi permintaan 1 karung atau 40 kilogram dengan omzet Rp100.000 per 3 hari. Lama-lama permintaan terus meningkat hingga 1 ton per pekan.

Iman Maulana SP

Iman Maulana SP

Pada tahun berikutnya, Iman dan dua sahabatnya memutuskan untuk membuat perusahaan. Ketiganya berdiskusi untuk menentukan komoditas yang akan dijual. Kedua rekan Iman menyarankan untuk memasok padi dan sayuran beku. Sementara Iman lebih cenderung membuka usaha pembibitan kentang.

Iman mengatakan, “Setelah diskusi, kami akhirnya memutuskan bisnis pembibitan kentang karena lebih unggul dari berbagai aspek.” Selang beberapa pekan terkumpul dana hingga Rp40-juta untuk modal awal. Suami dari Petty Judhawati itu membuat laboratorium sendiri di Pangalengan untuk memperbanyak bibit.

Permintaan pertama datang dari Bandaaceh, Provinsi Nangroe Aceh Darussalam 1.000 botol bibit kentang. “Keuntungan dari perniagaan bibit kentang tinggi, bisa mencapai 700% per buah,” kata Iman. Ia menjual bibit kentang Rp20.000 per botol, sementara biaya produksi hanya Rp2.500. Pada 2007 Iman memenuhi permintaan kentang sayur. “Kami pernah memasok kentang untuk beberapa pasar swalayan di tanahair hingga 80—100 ton per bulan,” katanya.

Iman juga memasok industri makanan ringan berbahan dasar kentang hingga 16 ton per bulan. Pada 2011 Iman mulai mengekspor kentang ke Singapura. Ia memperoleh pasar mancanegara dengan cara mencari informasi dari kolega. Pada akhir 2015 Iman membudidayakan tomat ceri untuk memenuhi permintaan beberapa pasar swalayan. “Usaha memasok kentang terus berjalan,” katanya. (Muhamad Fajar Ramadhan)

Sumber : t r u b u s – o n l i n e . c o . i d