Tajar atau rambatan vital bagi pertumbuhan tanaman lada.

Tajar atau rambatan vital bagi pertumbuhan tanaman lada.

Tanaman lada memerlukan tajar agar produksi optimal.

Anan memangkas cabang primer tanaman lada produktif sepanjang 20—30 cm. Pekebun lada di Desa Kertaraharja, Kecamatan Pagelaran, Kabupaten Cianjur, Jawa Barat, itu memanfaatkan pangkasan batang sebagai setek. Ia menanamnya di sekeliling pohon akasia, gmelina, jabon, dan sengon di lahan seluas 1 ha. Anan menanam 4 batang setek per pohon kayu.

Jarak bibit dari batang pohon penaung 30 cm. Dalam beberapa pekan, setekan mengeluarkan daun. Tiga tahun pertama, Anan fokus merambatkan cabang-cabang ke pohon penegak. Cabang yang keluar dari batang utama—cabang primer—akan bercabang menjadi 2 cabang sekunder. “Semuanya harus dililitkan agar pertumbuhan tanaman optimal. Semakin banyak cabang, semakin banyak tempat keluar bunga,” kata Anan.

Pekebun di Sukabumi, Jawa Barat, umumnya memanfaatkan tajar hidup.

Pekebun di Sukabumi, Jawa Barat, umumnya memanfaatkan tajar hidup.

Tajar hidup
Anan menggunakan cabang dari pohon penegak sebagai tempat melilitkan batang lada. Untuk memperkuat lilitan, ia mengikat dengan tali plastik. Jika cabang pohon terlalu tinggi, Anan melilitkan cabang lada melingkari batang pohon penegak. Sementara Agus Susanto dan anggota kelompok tani Mekarsari di Kabupaten Lampung Timur, Provinsi Lampung, menggunakan pohon dadap duri sebagai rambatan penegak—biasa disebut tajar.

Duri di permukaan batang pohon Erythrina subumbrans itu mempermudah pelilitan, meskipun tetap memerlukan tali. Selain mempermudah pelilitan, permukaan berduri batang dadap membuat akar rambat lebih mudah mencengkeram.

Pekebun lada di Kabupaten Bangka Selatan, H Yusuf Purdadi, memilih merambatkan lada di tajar kayu mati. Setiap tajar hanya dirambati oleh 1 tanaman lada. Tujuannya menyediakan tempat yang longgar bagi pertumbuhan sehingga tanaman bisa membentuk banyak cabang. Ia menggunakan kayu keras yang tahan lama seperti dolken atau ulin.

Baca juga:  Bisnis Lada: Bulan Madu Raja Rempah

Menurut Ir Joko Sagastono, pelaksana tugas kepala Bidang Perkebunan Dinas Pertanian dan Perkebunan Kabupaten Purbalingga, Jawa Tengah, tajar vital untuk menyokong pertumbuhan lada panjat. “Tanpa tajar, tanaman akan merambat di bawah dan bisa kekurangan sinar matahari,” tutur Joko. Selain produksi buah rendah, tanaman juga rentan serangan berbagai jenis cendawan tular tanah maupun tular air, seperti Phyptophthora capsici penyebab busuk pangkal batang.

Daun sengon kecil sehingga sinar matahari mampu mencapai perakaran lada.

Daun sengon kecil sehingga sinar matahari mampu mencapai perakaran lada.

Pangkas tajuk
Tajar juga harus kuat dan tahan lama sehingga tidak berpotensi roboh ketika tanaman menjadi rimbun atau berbuah lebat. “Apalagi ketika basah setelah hujan, bobot tanaman lada berlipat kali lebih berat,” kata Joko. Jika tajar sampai roboh, tanaman bakal stres sehingga produksi buah anjlok.

Kalau sampai ada cabang atau bagian batang yang patah, produksi tahun berikutnya pun bakal rendah. Musababnya, jumlah ketiak cabang alias internoda sebagai tempat keluarnya bunga pun berkurang. Menurut Ir Nurjaya MM, konsultan pertanian di Cianjur Selatan, tajar hidup seperti dadap atau gmelina menyediakan naungan bagi tanaman muda yang belum kuat terkena sinar matahari penuh.

Kemungkinan tajar hidup roboh juga kecil lantaran tajar hidup semakin kokoh seiring berjalannya waktu. Pohon tajar hidup dari famili Fabaceae mampu menyerap unsur nitrogen dari udara yang membantu pertumbuhan tanaman. Namun, tajar hidup juga memerlukan nutrisi sehingga bisa menjadi kompetitor tanaman lada. Masalah lain, tajar hidup memerlukan pemangkasan setiap tahun agar lada tidak terlalu banyak ternaungi.

Itu sebabnya Joko menganjurkan pekebun untuk memberikan pupuk terpisah bagi pohon tajar. “Tajar hidup terbaik adalah tanaman cepat tumbuh, tidak boros pupuk, dan tidak terlalu lebat,” kata pria berusia 55 tahun itu.

Ir Joko Sagastono, pelaksana tugas kepala Bidang Perkebunan Dinas Pertanian dan Perkebunan Kabupaten Purbalingga, Jawa Tengah.

Ir Joko Sagastono, pelaksana tugas kepala Bidang Perkebunan Dinas Pertanian dan Perkebunan Kabupaten Purbalingga, Jawa Tengah.

Tajar mati
Pilihan tajar hidup antara lain dadap duri Erythrina subumbrans, gamal Gliricidia sepium, lamtoro Leucaena leucocephala, atau sengon Paraserianthes falcataria. Kelebihan lain jenis kacang-kacangan adalah daun kecil sehingga naungan yang terbentuk tidak terlalu lebat. Pilihan lain di luar famili Fabaceae antara lain jati Tectona grandis, jati putih Gmelina arborea, jabon Anthocephalus cadamba, dan jabon merah A. macrophylla.

Baca juga:  Tiga Raksasa Pendatang

“Jati dan jati putih mempunyai periode meranggas sehingga pekebun tidak perlu sering memangkas,” kata Nurjaya. Sementara jabon dan jabon merah mempunyai kemampuan autoabsisi alias menggugurkan daun terbawah sehingga kelebatan tajuk terjaga tanpa pekebun harus sering memangkas. Tidak kalah penting, daun mudah terurai di tanah sehingga menyediakan nutrisi tambahan bagi lada.

Kelemahan lain tajar hidup adalah pekebun harus menunggu pohon tajar menyediakan cukup naungan sebelum menanam lada. Artinya, pekebun baru bisa menanam lada 2 tahun setelah menanam pohon tajar. Hal itu tidak perlu terjadi kalau pekebun menggunakan tajar mati. Tajar mati bisa langsung dipasang begitu lada siap tanam. Masalahnya, tajar mati tidak menyediakan naungan alami.

Yusuf Purdadi mengatasi hal itu dengan membibitkan setekan lada di polibag berdiameter 10 cm. Setelah mengeluarkan 8—10 daun, Yusuf memindahtanamkan bibit di lahan pada musim hujan atau sore hari. Hampir semua petani di Bangka Selatan menggunakan tajar mati sejak masa lalu.

Meskipun menggunakan tajar mati, Provinsi Bangka Belitung—termasuk Kabupaten Bangka Selatan—memiliki reputasi sohor sebagai sentra lada sejak masa Kesultanan Samudera Pasai. Seiring tingginya harga lada 3 tahun belakangan, pekebun di berbagai daerah mencoba membudidayakan tanaman rempah itu. Pilihan menggunakan tajar hidup maupun mati kembali kepada pekebun. Yang terpenting, tanaman lada tumbuh subur dan produktif. (Argohartono Arie Raharjo)

 

Sumber : t r u b u s – o n l i n e . c o . i d