Tahan Gempuran Pathek 1
Cabai bersih bebas antraknosa berkat pencegahan penyakit sejak pemilihan benih

Cabai bersih bebas antraknosa berkat pencegahan penyakit sejak pemilihan benih

Trichoderma sp menekan serangan penyakit antraknosa pada cabai hingga 90%.

Susilo Nugroho di Glagah, Banyuwangi, Jawa Timur, ingat betul kejadian pada Agustus 2013. Ketika itu buah cabai besar di kebunnya tampak mengilap saat terkena cahaya. Semakin lama kilapnya semakin memudar karena buah busuk dan gagal panen. Kejadian itu tak membuat Susilo sedih. Ayah satu anak itu justru bersyukur karena dari total lahan 5, 5 bau setara 3,9 hektar (1 bau = 0,71 hektar), hanya 10% yang rusak dan gagal panen. Sementara petani lain di sekitar tempat tinggalnya mengalami kerusakan hingga 50%.

Menurut peneliti cabai dari Balai Penelitian Tanaman Sayuran (Balitsa), Bandung, Jawa Barat, Rinda Kirana SP MP, kerusakan cabai itu akibat serangan cendawan Coleutherium sp. Cendawan menyebabkan penyakit antraknosa. “Penyakit antraknosa menyerang tanaman sejak kecil lantaran penularannya bisa dari benih yang tidak berkualitas,” tutur ahli pemulia tanaman itu. Serangan antraknosa atau pathek merugikan petani hingga 100% alias gagal panen.

Pupuk organik mengandung Trichoderma membuat tanaman sehat sehingga tidak mudah terserang penyakit seperti antraknosa

Pupuk organik mengandung Trichoderma membuat tanaman sehat sehingga tidak mudah terserang penyakit seperti antraknosa

Pencegahan

Rinda mengungkapkan pencegahan serangan antraknosa dimulai sejak pemilihan benih yang bebas penyakit. Selanjutnya dengan penggunanaan fungisida berbahan aktif klorotalonil dan mankozeb. Cara lain yang juga efektif mencegah antraknosa adalah mengondisikan tanaman agar tetap sehat dengan budidaya intensif. “Pemupukan, penyiangan, dan penggunaan pestisida harus dilakukan rutin dan terkontrol,” kata alumnus Universitas Padjadjaran itu.

Budidaya Capsicum annuum secara intensif itulah yang Susilo lakukan. Sepekan sebelum tanam, ia membenamkan campuran 500 kg pupuk phonska dan 2,5 ton pupuk organik berbahan sabut kelapa per ha. Pupuk organik itu mengandung bakteri Trichoderma sp. Pekebun cabai sejak 2009 itu membenamkan pupuk dasar itu pada guludan setinggi 30 cm dan lebar 110 cm. Sepekan kemudian ia memasang mulsa plastik hitam perak untuk menutupi guludan.

Baca juga:  Klinik Hidroponik Desember 2014

Tujuannya mencegah gulma tumbuh dan mengurangi penguapan saat penyiraman maupun pemupukan. Jarak antartanam 50 cm x 55 cm. Untuk mencegah serangan hama seperti kutu kebul, ulat grayak, dan tungau, Susilo menggunakan insektisida berbahan aktif profenovos dan imidakloprid berkonsentrasi 0,5 g/l. Ia menyemprotkan dua insektisida itu setiap 2 hari secara bergantian sejak tanaman berumur 10—100 hari setelah tanam (HST). Konsentrasi insektisida ditingkatkan menjadi 1 g/l jika tanaman terserang hama.

Penyakit antraknosa dapat merugikan petani hingga 100% alias gagal panen

Penyakit antraknosa dapat merugikan petani hingga 100% alias gagal panen

Trichoderma

Untuk mencegah serangan penyakit seperti layu fusarium dan antraknosa Susilo menggunakan fungisida berbahan aktif mankozeb dengan konsentrasi 1 g/l pada musim hujan. Sementara pada musim kemarau, ia menggunakan fungisida berbahan aktif propineb berkonsentrasi sama. Pekebun berusia 34 tahun itu menyemprotkan fungisida sejak tanaman masih di persemaian hingga berumur 100 hst. “Kalau tidak ada hujan, penyemprotan fungisida 4 hari sekali. Namun ketika hujan, penyemprotan menjadi 2 hari sekali,” katanya.

Dengan budidaya seperti itu ia menuai 105,6 ton cabai dari 52.800 tanaman di lahan 3,9 hektar atau berhasil panen 90%. Maklum, tetangganya yang juga menanam cabai besar saat itu hanya bisa panen 50%. Dari segi perawatan tanaman Susilo dan tetangganya hampir sama. Perbedaan ada pada pupuk dasar. Susilo memberikan pupuk organik mengandung bakteri penyubur tanah, Trichoderma sp, sedangkan tetangganya pupuk kimia murni, minus pupuk organik. Menurut Rinda Kirana, penggunaan agen hayati seperti Trichoderma berkorelasi positif terhadap pertumbuhan dan perkembangan tanaman cabai.

Susilo Nugroho (kedua dari kiri) memanen cabai 2 kg per tanaman pada musim pancaroba. Lazimnya, 0,8 kg per tanaman

Susilo Nugroho (kedua dari kiri) memanen cabai 2 kg per tanaman pada musim pancaroba. Lazimnya, 0,8 kg per tanaman

Prof Dr Tualar Simarmata, ahli tanah dari Universitas Padjadjaran, Bandung, menuturkan, Trichoderma sangat baik untuk tanah dan tanaman secara umum. “Trichoderma mempunyai dua fungsi yaitu memaksimalkan penguraian bahan-bahan organik dan agen hayati sebagai imun tanaman,” kata alumnus Jurusan Ilmu Pertanian, Universitas Justus Leibig, Jerman itu.

Baca juga:  Lovebird: Bisnis Rumahan Laba Belasan Juta Sebulan

Dengan kondisi imun bagus, tanaman tak mudah terserang penyakit. Buktinya, produksi cabai milik Susilo tetap tinggi, 2 kg per tanaman, meski ditanam pada musim pancaroba. “Saat musim pancaroba, rata-rata produktivitas cabai besar sekitar 0,8 kg per tanaman. Bahkan tak sedikit yang urung tanam cabai lantaran khawatir serangan penyakit yang tinggi,” ujar praktikus cabai di Yogyakarta, Ir Sudadi Ahmad MM.

Selain meningkatkan imun tanaman, menurut Sudadi pemberian bakteri baik seperti Trichoderma juga menekan keberadaan mikroorganisme patogen penyebab penyakit tanaman seperti cendawan Fusarium sp penyebab layu fusarium dan Coleutherium sp penyebab antraknosa. “Ruang hidup bakteri ataupun cendawan jahat menjadi semakin sempit dengan kehadiran bakteri baik seperti Trichoderma,” kata Sudadi.

Dengan total panen mencapai 27 ton/hektar dan harga cabai saat itu Rp20.000—Rp30.000 per kg, omzet Susilo Rp540-juta per hektar. Dengan biaya produksi Rp80-juta per hektar, pria kelahiran Banyuwangi 1980 itu meraih keuntungan Rp460-juta/hektar. Keuntungan tinggi itu berkat pemberian Trichoderma. (Bondan Setyawan)

Sumber : t r u b u s – o n l i n e . c o . i d

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *