537_ 28-2Kemiri komoditas andalan masyarakat Manggarai Barat.

Kaus dan celana selutut menjadi “seragam” Mikael Pedo ketika pergi ke kebun. Sebagai pelengkap, lelaki 30 tahun itu menyelipkan parang di pinggang untuk memangkas ranting atau semak yang menghalangi jalan.

Tujuan utama Mikael menyambangi kebun adalah memanen kemiri. Ia tidak perlu repot menyodok buah dengan galah apalagi memanjat pohon. Buah tua Aleurites moluccana itu berserakan di bawah tajuk pohon. “Kemiri panen raya pada Juni-September, tapi sepanjang tahun praktis selalu ada buah yang jatuh,” kata Mikael. Saat Trubus menjumpai Mikael pada akhir Mei 2014, ia mengunjungi kebun setiap 1-2 minggu untuk memungut buah yang jatuh.

Ia menjemur biji selama 3-7 hari, tergantung kondisi cuaca, mengupas, dan memisahkan biji dari kulit. Biji tanpa kulit itu bisa langsung ia jual di pasar Sabtu di lembah Werang, Desa Golombu, sekitar 15 km dari rumahnya. Alternatif lain, biji kemiri itu ia simpan untuk dijual kala membutuhkan uang atau harga membaik.

Pohon kemiri mudah dijumpai di tepi jalan provinsi hingga pelosok Manggarai Barat

Pohon kemiri mudah dijumpai di tepi jalan provinsi hingga pelosok Manggarai Barat

Tanpa perawatan

Umur pohon kemiri di lahan Mikael antara 10-20 tahun dengan produktivitas tahunan rata-rata sekuintal biji basah, setara 40 kg kemiri kupas. Artinya, setiap tahun ia memperoleh 2,4 ton kemiri.

Pada puncak panen pada Juni-September. Saat itu, ia bisa memperoleh hingga 40 kg biji basah setiap minggu. Di luar musim puncak, ia hanya mendapat 10 kg. Jika mengupas dalam jumlah banyak, Mikael mempekerjakan tetangga. Dalam sehari ia bisa memperoleh 7 kg kemiri kupas siap jual. Harga rata-rata di pasar Werang Rp16.000 per kg sehingga kemiri menyumbang kocek Mikael sebanyak Rp38,4-juta per tahun. Hasil yang lumayan, mengingat ia tidak menanam, memupuk, atau memelihara pohon candlenut itu.

Nun di Desa Kempo, Kecamatan Mbeliling, Kabupaten Manggarai Barat, Kletus Karmin Tata juga menikmati hasil panen kemiri yang tumbuh sendiri di lahan miliknya. Bedanya, ia bisa menjual langsung ke Kota Labuanbajo, ibukota Kabupaten Manggarai Barat. Maklum, Desa Kempo hanya beberapa menit berkendara dari jalan raya trans Flores.

Kemiri komoditas sampingan yang diandalkan

Kemiri komoditas sampingan yang diandalkan

Kebun milik Kletus terletak hampir 5 km dari Desa Kempo. Di lahan seluas hampir 30 ha yang menjadi milik bersama anggota kelompok tani Ringgang Permai itu tumbuh lebih dari 500 tanaman kemiri berumur 15-50 tahun. Lantaran padi dan tanaman hortikultura juga ditanam di lahan sama, jarak antarpohon kemiri dibuat teratur antara 20 m x 20 m hingga 30 m x 30 m. Seperti Mikael Pedo, Kletus hanya memungut buah kemiri yang jatuh di tanah. Bagi mereka, kemiri hanya sampingan yang setiap saat bisa diandalkan untuk menjadi uang. Komoditas utama yang mereka tanam antara lain kopi, kakao, dan tanaman pangan seperti padi atau jagung.

Baca juga:  Mangga Paling Gres

Untuk meningkatkan keberhasilan pembentukan buah, Yosep Handu, warga Desa Golomanting, Kecamatan punya trik khusus. Saat bunga mulai mekar, ia membakar daun-daun kering di bawah tajuk. Yosep menambahkan secuil daging atau tulang untuk “bumbu” sehingga aroma asap mirip masakan di dapur. Meski tidak tahu persis peningkatan keberhasilan pembentukan buah, Yosep menganggap asap berperan mengusir hama yang merusak bunga. Menurut Prof Dr Agus Kardinan MSc, ahli hama dan penyakit tanaman di Balai Penelitian Tanaman Rempah dan Obat, asap mengandung fenol yang bersifat racun bagi serangga. Maklum, penyerbukan bunga kemiri mengandalkan angin sehingga kehadiran serangga justru merontokkan bunga, yang ujung-ujungnya menurunkan produksi.

Panen raya

Untuk memperoleh sekilogram biji siap jual, Kletus mengupas hingga 4 kg biji mentah. Masalahnya, ia mengupas dengan cara tradisional. Ia menjepit biji kemiri dengan pelepah nira lalu memukulkan biji ke batu sampai tempurung pecah. Sayang, cara itu tidak menghasilkan kemiri berkualitas. Ia hanya memperoleh 50% biji utuh dan 50% biji pecah. Itu jelas mengurangi harga jual: harga sekilogram kemiri pecah paling banter Rp10.000 per kg. Sementara kemiri utuh laku dengan harga hampir 2 kali lipat, mencapai Rp18.000 per kg.

“Apalagi di musim hujan, ketika udara lembap sehingga biji tidak benar-benar kering,” kata Kletus. Sebelum kupas, biji mesti bersih dari sisa daging buah. Itu sebabnya Mikael dan Kletus memungut biji yang bebas dari sisa daging buah. Mereka membersihkan biji dari sisa daging buah atau pengotor lain, lalu menjemur 3-8 hari sampai benar-benar kering. Setelah kering, barulah biji dapat dikupas. Jika mendung atau hujan, biji kering yang belum sempat kupas menjadi lembap dan menyulitkan pengupasan.

Stefanus Landing, di musim kemarau harga anjlok karena banyak penjual tapi pembeli kurang

Stefanus Landing, di musim kemarau harga anjlok karena banyak penjual tapi pembeli kurang

Kondisi itu menyebabkan mayoritas pekebun kemiri di Kabupaten Manggarai Barat memanen dan menjual kemiri pada musim kemarau. Efeknya harga di musim kemarau bisa anjlok hingga Rp13.000. Pengalaman Stefanus Landing, pekebun di Desa Liangndara, Kecamatan Mbeliling, Kabupaten Manggarai Barat, harga kemiri di luar musim panen raya pernah mencapai Rp22.000. “Saat kemarau penjual lebih banyak daripada pembeli, sementara di musim hujan kebalikannya,” kata Stefanus.

Baca juga:  Malang Punya Kopi Amstirdam

Itu sebabnya Mikael tidak terburu-buru mengupas dan menjual biji muncang alias kemiri dari kebunnya. “Kalau dijemur sampai benar-benar kering, kemiri bisa simpan hingga 6 bulan bahkan lebih,” kata Mikael. Ia menyimpan kemiri dalam karung lalu meletakkan di para-para rumah. Secara berkala ia mengecek tingkat kekeringan kemiri yang ia simpan, kalau terasa lembap, Mikael segera menjemurnya. Saat harga membaik, ia tinggal mengupas lalu membawa ke pasar. Dengan demikian ia senantiasa mendapat harga tinggi.

Tempurung alias kulit biji limbah pengupasan kemiri pun tidak terbuang percuma. Laurensius Laman, pekebun di Desa Pulaununcung, Kecamatan Sanonggoang, memanfaatkan kulit biji kemiri untuk menguruk halaman rumah. “Kulitnya tidak cepat lapuk sehingga tanah tidak becek setelah hujan,” ungkap Ketua Kelompok Pelayanan Alam Leleng Ca itu. Seminggu sekali, Laurensius mengirimkan kulit kemiri dalam karung berkapasitas 25 kg ke pembeli di Labuanbajo. Menurutnya, si pembeli menggunakan kulit itu sebagai bahan bakar dalam pemanggangan batu bata.

Saat Trubus mengunjungi Kabupaten Manggarai Barat pada Juni 2014, tegakan kemiri mudah dijumpai sepanjang perjalanan, mulai dari tepi jalan raya trans Flores hingga daerah yang terbilang pelosok seperti Desa Waesano atau Desa Golomanting. Menurut Dr Irdika Mansur MForSc, ahli Silvikultur Fakultas Kehutanan, Institut Pertanian Bogor, kemiri menjadi andalan lantaran mudah tumbuh dan berbuah terus-menerus meski tanpa perawatan. “Namun kemiri memerlukan lapisan topsoil yang mampu memegang air. Selain itu, ada batas nyata antara kemarau dan hujan untuk memicu pembungaan,” kata Irdika. Curah hujan Kabupaten Manggarai Barat yang rata-rata 1.500 mm/tahun juga mendukung pertumbuhan kemiri. Pantas kemiri menjadi sampingan yang diandalkan oleh masyarakat. (Argohartono Arie Raharjo)

 

Sumber : t r u b u s – o n l i n e . c o . i d