Kebun krisan di Desa Sidomulyo terus bertambah seiring meningkatnya permintaan pasar.

Kebun krisan di Desa Sidomulyo terus bertambah seiring meningkatnya permintaan pasar.

Tak hanya soal cantik, nilai bisnis bunga krisan menyihir para petani apel dan sayuran di Kotamadya Batu.

Kotamadya Batu, Provinsi Jawa Timur, selama ini sohor sebagai Kota Apel. Maklum, buah anggota famili Rosaceae itu gampang kita jumpai di kebun-kebun dan pasar di kota yang oleh Belanda disebut Swiss Kecil itu. Julukan bagi kota Batu tampaknya akan bertambah karena masyarakat yang sebagian besar berprofesi petani mulai mengembangkan tanaman krisan secara masif. Ibarat cendawan, bunga emas itu sedang menemui musim hujan.

Apa penyebabnya? Sebuah perusahaan tanaman hias berkualitas PT Inggu Laut Abadi kewalahan memenuhi permintaan pasar. Kondisi itu memaksa perusahaan menjalin kemitraan dengan para petani khususnya di Desa Sidomulyo, Kecamatan Batu, Kotamadya Batu, sejak 2004. Bola salju pun bergulir hingga sekarang. Bahkan tak sedikit warga yang semula petani sayur banting stir menjadi pembudidaya Chrysanthemum morifolium itu.

Krisan bunga potong utama di tanahair.

Krisan bunga potong utama di tanahair.

Menguntungkan
Luasan kebun krisan pun semakin beragam dari ukuran kecil 200 m2 untuk perseorangan hingga skala hektar untuk perusahaan. Apalagi kalau bukan keuntungan tinggi yang hendak didapat. Dengan luasan 200 m2 saja, para petani yang membudidayakan krisan dengan baik bisa mendapat rasio pendapatan per biaya 1,4—1,5%. Artinya setiap biaya yang dikeluarkan Rp1 diperoleh pendapatan Rp1,4.

Ketinggian tempat 750—1.100 m di atas permukaan laut, ketersediaan air yang melimpah, dan banyaknya banyaknya sarjana pertanian membuat Desa Sidomulyo ideal sebagai sentra tanaman krisan. Ada 2 kelompok tani krisan di desa itu yaitu Sidomakmur dan Sekarmulya yang beranggotakan masing-masing lebih dari 55 petani. Luas kepemilikan lahan krisan rata-rata 200—1.000 m2 per petani. Dua kelompok tani itu mengelola lahan krisan hingga 12 ha.

Faktor lain adanya pedagang, pendekor, dan perusahaan yang bergerak di bunga krisan seperti Wahana Karisma Flora dan PT Inggu Laut Abadi. Sarana dan prasarana seperti akses jalan, jasa distribusi ke seluruh Nusantara baik melalui jalur darat, laut, dan udara tersedia 5 kargo di Desa Sidomulyo. Saat Idul Fitri maupun perayaan hari besar keagamaan lain, permintaan bunga krisan meningkat berkali lipat.

Baca juga:  Cegah Demam Berdarah

Imbasnya kebutuhan bibit ikut terdongkrak. Para petani yang tak kebagian bibit harus mendatangkannya dari daerah lain seperti Desa Nongkojajar, Kabupaten Pasuruan, Jawa Timur, Bandungan (Semarang, Jawa Tengah), dan Cianjur, Jawa Barat. Di pasaran terdapat ratusan varietas tanaman anggota famili Asteraceae itu dengan berbagai karakteristik. Varietas-varietas itu pun akan terus bertambah seiring berjalannya program pemuliaan yang makin maju.

Bunga krisan bernilai ekonomi tinggi

Bunga krisan bernilai ekonomi tinggi

Panjang hari
Tanaman asal Tiongkok itu tergolong tanaman hari pendek sehingga akan berbunga jika malam hari panjang dan siang hari yang pendek. Untuk pertumbuhan vegetatif diberikan durasi siang yang lebih panjang daripada durasi malam. Sejatinya syarat tumbuh krisan membutuhkan air yang memadai, tetapi tidak tahan terhadap terpaan air hujan. Oleh karena itu untuk daerah bercurah hujan tinggi, penanaman krisan di dalam bangunan rumah plastik.

Untuk pembungaan membutuhkan sinar matahari lebih lama dengan bantuan cahaya dari lampu tube luminescent dan lampu pijar. Penambahan penyinaran terbaik pada tengah malam antara 22.30–01.00 dengan lampu 150 watt untuk areal 9 m2. Pemasangan lampu setinggi 1,5 m dari permukaan tanah. Periode pemasangan lampu dilakukan sampai fase vegetatif atau 2—8 pekan untuk mendorong pembentukan bunga.

Ketinggian tempat ideal antara 700–1.200 m di atas permukaan laut. Para pekebun memanfaatkan bahan tanam berupa setek yang sudah dicelup di larutan perangsang tumbuh dengan konsentrasi 10 g per liter. Kemudian mereka langsung menanam bibit setek di bak atau kotak kayu dengan media arang sekam. Pemeliharaannya berupa penyiraman setiap hari menggunakan sistem pengabutan secara otomatis.

Panen
Pemeliharaan tanaman meliputi penyiraman, pemberian jaring penegak tanaman, penyulaman, pemupukan, pengendalian gulma, penyinaran tambahan, disbudding, perompesan daun bawah, dan pengendalian hama penyakit. Panen seruni atau krisan saat tanaman berumur 3 bulan. Untuk tipe spray atau krisan berkuntum 10—20 per tangkai, tandanya bunga dalam satu tangkai sudah mekar semua atau mencapai 40%.

Baca juga:  Krisan Andalan Tomohon

Adapun untuk bunga tipe standar atau krisan berkuntum satu per tangkai bunga kriteria panen adalah bunga telah mekar sempurna atau sudah mencapai kemekaran 40%. Panen tanaman itu pada pagi hari ketika tanaman masih segar dan belum disemprot sehingga tetap kering. Selain itu pada pagi hari kandungan air dan makanan lainnya yang berada di dalam tanah masih cukup.

Di daerah bercurah hujan tinggi krisan dibudidayakan di dalam greenhouse.

Di daerah bercurah hujan tinggi krisan dibudidayakan di dalam greenhouse.

Panen bunga dengan mencabutnya dari bagian batang. Setelah itu kumpulkan tiap 10—11 batang lalu pangkas daun bagian bawahnya sekitar 5 cm dari ujung. Kemudian potong dengan panjang 80 cm batang bagian bawahnya dan ikat dengan karet gelang. Untuk pascapanen, kumpulkan bunga sesuai dengan jenis dan warnanya. Setelah itu bungkus dengan kertas. Untuk krisan tipe spray langsung bungkus dengan kertas koran besar. Sementara untuk krisan tipe standar, bungkus masing-masing bunga terlebih dahulu dengan kertas kecil berbentuk contong agar tidak rusak.

Setelah itu masukkan ke dalam wadah berupa ember yang sudah berisi air. Tujuannya agar kesegaran bunga tetap terjaga sebelum pengangkutan. Angkut bunga krisan dengan mobil pick up. Dengan lahan 200 m2, pekebun krisan di Desa Sidomulyo dapat memanen 75.000 batang sekali produksi. Harga jual di tingkat petani Rp900 per batang sehingga omzet Rp6.750.000. Dengan biaya produksi sebesar Rp4.482.500 maka penghasilan bersih para petani krisan mencapai Rp2.267.500. Tentu amat menjanjikan. (Ir Emi Budiyati, peneliti di Balai Penelitian Jeruk dan Buah Subtropika, Badan Litbang Pertanian)

 

Sumber : t r u b u s – o n l i n e . c o . i d