Permintaan suvenir tanaman hias untuk pernikahan semakin meningkat.

Puryani Hasanah pebisnis suvenir tanaman hias untuk pernikahan.

Puryani Hasanah pebisnis suvenir tanaman hias untuk pernikahan.

Hendy Setiawan bersama calon istrinya, Ayu, menyambangi belasan toko penyedia suvenir pernikahan. Namun, perburuan sejak pagi hingga matahari terbenam itu belum menemukan cenderamata yang pas. Hendy mensyaratkan, “Pokoknya yang wujudnya unik, tetapi juga ramah lingkungan.” Saat beristirahat di sebuah kafe, Hendy menemukan yang dicarinya. Kafe itu menampilkan tanaman hias daun di meja makan.

Sebentuk rangkaian berisi 5 buah pot berukuran mini berisi tanaman kaktus menarik perhatian lelaki berusia 25 tahun itu. “Sebuah ide terlintas di pikiran dan langsung saya tawarkan pada Ayu. Suvenir berbahan dasar tanaman hias kaktus yang dihias dengan aksesori tambahan,” kata karyawan swasta di Bogor, Jawa Barat, itu. Semula Ayu keberatan karena tidak lazim memberikan suvenir tanaman pada hari pernikahan. Namun, akhirnya Ayu setuju.

Bisnis menjanjikan
Hendy dan Ayu akhirnya menikah pada 2014 di sebuah gedung pertemuan dengan suvenir tanaman hias kaktus. Sebanyak 500-an undangan menerima kartu untuk mengambil suvenir ketika hendak pulang. “Itu dilakukan supaya suvenir tidak mengganggu kenyamanan tamu saat mengikuti rangkaian acara. Sekaligus ada unsur kejutannya juga,” ujar Hendy. Para tamu tampak terkesan dengan bentuk buah tangan yang tak biasa itu.

Mereka menyempatkan diri untuk memperhatikan suvenir tanaman hias dalam pot mini yang baru saja diterimanya. Bahkan ada yang menanyakan tempat penjualnya lantaran dorongan ketertarikannya. Seiring dengan berjalannya waktu, kini suvenir tanaman hias untuk acara pernikahan semakin lazim bahkan menjadi pilihan bisnis yang menjanjikan. Pekebun dan penjual tanaman hias di Kota Batu, Jawa Timur, Nur Hudin, menjalani bisnis itu sejak 2011.

Tanaman kaktus dan aneka sukulen masih menjadi pilihan favorit pengisi rangkaian suvenir tanaman hias untuk pernikahan.

Tanaman kaktus dan aneka sukulen masih menjadi pilihan favorit pengisi rangkaian suvenir tanaman hias untuk pernikahan.

Ia memanfaatkan kaktus berukuran kecil, tinggi 8–13 sentimeter.  Hudin mengelola toko yang memajang tanaman hias di Jalan Bukit Berbunga, Desa Sidomulyo, Kota Batu. Namun, jika pembeli kurang puas dengan tanaman hias di toko, dapat langsung datang ke kebun milik Hudin di Dusun Sukorembug, Desa Sidomulyo, Kota Batu. “Pesanan memang sebagian besar dari Jawa Timur, tetapi kami melayani pesanan dari seluruh Indonesia,” kata Hudin.

Baca juga:  Johan di Kota Pahlawan

Menurut Hudin calon pengantin menggemari kaktus mini, karena selain menjadi suvenir juga dapat difungsikan sebagai hiasan meja kantor dan hiasan rumah. Kaktus mini untuk suvenir pernikahan berwarna ceria seperti merah, jingga, ungu, putih, kuning, dan hijau muda. Jenisnya antara lain kaktus merah ruby, kaktus gymno ungu, dan lening kipas. Pemesan memberi label nama pasangan pengantin pada kaktus itu lalu mengemas dalam tas kecil berbahan kertas.

Nur Hudin membanderol kaktus itu Rp4.000—Rp50.000 tergantung jenis tanaman. Harga jenis yang paling laku berkisar Rp10.000—Rp15.000. Setiap bulan minimal 3 konsumen memesan buah tangan unik itu dengan jumlah rata-rata 500 buah per konsumen. Permintaan suvenir untuk pernikahan cenderung turun pada Ramadan. Sebagai bentuk totalitas pelayanannya, Hudin sering memberikan saran perawatan tanaman hias itu supaya dapat berumur panjang kepada konsumen.

Permintaan meningkat

Puriyati Hasanah di Dramaga, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, juga berbisnis suvenir tanaman hias untuk pernikahan sejak 2014. Ia menyediakan antara lain kaktus, sukulen, dan lavender—yang paling laris diminta konsumen. Semula ia sudah membuat bibit tanaman sayuran seperti cabai, bayam, kangkung, dan tomat serta tanaman tahunan—bibit akasia, balsa, cemara, dan gaharu.

Popon–panggilan Puriyati—membanderol antara Rp6.000—Rp30.000 sehingga konsumen memiliki banyak pilihan sesuai kemampuan. “Yang pasti kami dalam sebulan biasa mengirim paket suvenir rata-rata berharga Rp8.000 lebih dari 800 buah untuk beberapa pelanggan. Jika permintaan dua konsumen saja per bulan, omzet Popon mencapai Rp12-juta. Selain dari daerah Jawa Barat, konsumen juga berasal dari Jawa Tengah dan Yogyakarta.

Beberapa bentuk kemasan suvenir berisi tanaman hias.

Beberapa bentuk kemasan suvenir berisi tanaman hias.

Ia mengemas tanaman dalam tas kertas dan wadah dari anyaman bambu yang ramah lingkungan dan unik. Popon merasakan tren penjualan suvenir tanaman hias untuk pernikahan semakin meningkat. Itu seiring kesadaran masyarakat untuk melestarikan lingkungan dan memanfaatkan ornamen tanaman sebagai hiasan. Cerahnya peluang bisnis buah tangan tanaman hias itu juga membuat Darmaji menekuni bisnis itu.

Baca juga:  Pupuk Racikan Sendiri

Warga Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, itu sejatinya hobi bertanam segala tanaman sejak 2009. Namun, ia baru mulai fokus mengembangkan usaha suvenir tanaman hias untuk pernikahan sejak 2013. “Sebelum pensiun pada 2013, perusahaan mengadakan pelatihan persiapan pensiun bagi karyawannya. Saya memilih usaha tanaman hias karena sesuai hobi lama dan prospeknya masih bagus,” ujar pensiunan Perum Peruri itu.

Darmaji menjual rata-rata 500 buah pot tanaman hias yang dibalut kai flanel atau setara Rp6-juta per bulan. Menurut pengajar di Jurusan Sosial Ekonomi Pertanian Universitas Gadjah Mada, Subejo PhD, tren pemanfaatan tanaman hias sebagai suvenir pernikahan semakin meningkat dan dapat menjadi bisnis yang berpotensi ekonomis tinggi pada masa depan. “Kesadaran masyarakat untuk bergaya hidup go green dan ramah lingkungan menyumbang pengaruh baik pada bisnis tanaman hias,” ujar Subejo.

Penghias ruangan atau meja yang dulunya berupa benda-benda seni, mulai berubah kepada tanaman hidup. Menurut Subejo lahan-lahan sesempit apa pun kini berusaha diisi dengan berbagai tanaman bermanfaat. Pada masyarakat urban, itu sebagai upaya menghadirkan kesan alam di lingkungan yang mulai dipenuhi dengan berbagai macam polusi. (Muhammad Hernawan Nugroho)

Sumber : t r u b u s – o n l i n e . c o . i d