Sutriyana mengolah gula jawa menjadi gula semut untuk memasok eksportir.

Sutriyana mengolah gula jawa menjadi gula semut untuk memasok eksportir.

Mengolah gula kelapa menjadi gula semut hingga 40 ton per bulan untuk memasok pasar ekspor.

Mengubah bentuk mampu mendatangkan laba. Begitulah jalan yang ditempuh Sutriyana di Desa Hargowilis, Kecamatan Kokap, Kabupaten Kulonprogo, Yogyakarta. Ia mengubah gula jawa menjadi butiran gula semut. Setiap hari—termasuk Ahad—ia dibantu delapan karyawan mengolah gula jawa menjadi serbuk gula semut. Masyarakat menyebut gula semut karena bentuknya mirip rumah semut yang bersarang di tanah. Bentuk gula semut mirip gula pasir, tetapi warnanya cokelat muda.

Para karyawan memproduksi gula semut sejak pukul 07.00 hingga 16.00. Sejak pencairan gula jawa hingga menjadi gula semut memerlukan waktu 15 menit. Sejatinya gula semut dapat dibuat dari bahan nira kelapa atau tanaman lain anggota famili Arecaceae seperti aren. Produsen memerlukan 10 liter untuk menghasilkan 1,7 kg gula semut. Untuk memproduksi gula semut berbahan nira memerlukan waktu lebih lama, yakni hingga empat jam.

Eksportir mensyaratkan gula semut berwarna cokelat muda, bebas dari pengotor, dan kadar air maksimal 2%.

Eksportir mensyaratkan gula semut berwarna cokelat muda, bebas dari pengotor, dan kadar air maksimal 2%.

Permintaan besar
Itulah sebabnya Sutriyana lebih senang memproduksi gula semut berbahan gula jawa. Produksi berlangsung tujuh hari dalam sepekan. Setiap pagi ia mencari bahan baku gula semut ke berbagai sentra di Kulonprogo agar produksi berkesinambungan.

Rendemen pembuatan gula semut berbahan gula jawa mencapai 85%. Artinya dari 100 kg gula jawa Sutriyana memperoleh 85 kg gula semut. Produsen gula di Kulonprogo lazimnya menambahkan parutan kelapa—tanpa pemerasan, parutan masih mengandung santan—dalam gula jawa. Sutriyana menyaring parutan kelapa itu sehingga hanya menghasilkan gula semut murni tanpa campuran bahan lain.

Kecamatan KOKAP, Kabupaten kulonprogo, yogyakarta merupakan sentra kelapa.

Kecamatan KOKAP, Kabupaten kulonprogo, yogyakarta merupakan sentra kelapa.

Pria 35 tahun itu rutin memasok gula semut kepada seorang eksportir di Yogyakarta. Volume pasokan 40 ton gula semut per bulan. Menurut Sutriyana permintaan rutin eksportir mencapai 120 ton per bulan. Namun, ia belum sanggup memenuhinya. Dengan harga jual Rp22.500 per kg, omzet Sutriyana fantastis, Rp900-juta per bulan. Eksportir memasarkan gula semut asal Kulonprogo ke berbagai negara seperti Kanada, Amerika Serikat, Malaysia, Jepang, dan Perancis.

Baca juga:  Pasar Besar Gula Semut: Amerika, Australia, Eropa

Ia menginginkan gula semut berwarna cokelat muda, bebas dari pengotor, dan kadar air maksimal 2% agar tak mudah menggumpal. Oleh karena itu Sutriyana menekan kadar air gula dengan vakum berkapasitas 400 kg. Setelah itu gula semut lantas melewati mesin pendeteksi logam atau metal detector. Sutriyana mengemas gula semut lolos seleksi dengan plastik transparan berbobot 12,5 kg.

Pasar tradisional
Sukses Sutriyana tidak turun dari langit. Semula ayah dua anak itu tergiur bekerja di Malaysia. Itulah sebabnya pada 2000 Sutriyana berangkat ke Selangor, Malaysia. Di sana ia bekerja di sebuah pabrik plastik.
Namun, ibunya menginginkan bungsu dua bersaudara itu bekerja di Yogyakarta. Ia patuh pada saran ibu. Ayahnya penderes atau penyadap nira kelapa dan mengolahnya menjadi gula semut bila ada permintaan. Ketika itu pada 2007 di Hargowilis hanya ada dua perajin gula semut.

Ia mengemas gula semut dalam bentuk saset, meniru kemasan kopi susu siap seduh. Bobotnya 30 gram. Ia berdagang gula semut dan gula kelapa di beberapa pasar tradisional di Yogyakarta seperti pasar Wates, Bantul, dan Sentolo. Ia mampu menjual 100 saset gula semut yang harganya Rp500 per saset. “Mendapat uang Rp50.000 sehari saja sudah senang,” kata Sutriyana. Selain gula semut, saat itu ia juga memasarkan 50 kg gula kelapa setiap hari.

Sertifikat organik dari berbagai lembaga internasional memberi nilai tambah pada gula semut produksi Sutriyana.

Sertifikat organik dari berbagai lembaga internasional memberi nilai tambah pada gula semut produksi Sutriyana.

Sutriyana kemudian mengikuti beberapa pameran seperti Pekan Raya Jakarta atas bantuan Dinas Pertanian Kabupaten Kulonprogo. Dari pameran itu ia bertemu dengan eksportir gula semut yang meminta rutin 100 ton per bulan. Ia hanya mampu mengirimkan 5 ton per bulan mulai 2012. Pasokannya setahun terakhir meningkat hingga 40 ton per bulan. Dengan berniaga gula semut, ia mampu membangun rumah dan membeli mobil.

Baca juga:  Kampiun Kontes Serpong

Pada 2013 ia memperoleh sertifikat organik dan perdagangan berkeadilan (fair trade) dari Institute for Marketecology (IMO) dari Swiss. Sertifikat organik menjamin gula semut produksi Sutriyana itu organik. Dengan sertifikat fair trade, ia berhak mendapat 5—10% dari penjualan gula semut.

Eksportir akan mengembalikan dana maksimal 10% untuk pembangunan wilayah Hargowilis. Eksportir memberikan dana dalam bentuk antara lain perbaikan jalan, beragam sarana permainan untuk sekolah Taman Kanak-kanak, dan pengadaan bak sampah. “Ini usaha yang menjadi cita-cita saya. Bekerja bukan sekadar mencari untung tapi juga bermanfaat bagi orang lain,” kata Sutriyana. Mulai Mei 2015 Sutriyana mendapatkan bantuan dana dari PT Sosial Enterprener Indonesia (PT SEI) untuk pengembangan usaha. (Sardi Duryatmo)

 

Sumber : t r u b u s – o n l i n e . c o . i d