Sutra Jagoan Anyar 1
Bibit ulat sutra persilangan baru menghasilkan kokon berkualitas tinggi di berbagai jenis topografi lokasi budidaya

Bibit ulat sutra persilangan baru menghasilkan kokon berkualitas tinggi di berbagai jenis topografi lokasi budidaya

Ulat sutra baru: produksi tinggi, adaptif di berbagai lokasi, dan tahan penyakit.

Aan Supriyatna menutup telepon dengan wajah lega. Peternak ulat sutra di Kabandungan, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat, itu baru saja memperoleh tambahan 600 kg benang sutra dari rekan sesama peternak di Kecamatan Sipirok, Kabupaten Tapanuli Selatan, Provinsi Sumatera Utara. Maklum, setiap bulan peternak ulat sutra sejak 1971 itu hanya sanggup memproduksi 400 kg benang. Padahal, permintaan pasar tanahair saja mencapai 1.000 kg per bulan, belum lagi pasar ekspor yang belum terjamah.

Menurut data Departemen Perindustrian pada 2006, kebutuhan sutra alam dunia mencapai hampir 1,2-juta ton per tahun. Jumlah itu sangat timpang dengan pasokan yang kurang dari 93.000 ton alias hanya satu per dua belas kebutuhan. Satu-satunya cara mengisi ceruk itu tentu saja dengan meningkatkan produksi. Sejatinya Aan menggunakan ulat sutra klon C-301 yang sohor berproduksi tinggi. Produksi sekilogram benang sutra siap pintal memerlukan 9 kg ulat.

Kebutuhan sutra alam dunia 1,2-juta ton per tahun

Kebutuhan sutra alam dunia 1,2-juta ton per tahun

Cina vs Jepang
Ketahanan terhadap serangan penyakit dan ketersediaan bibit melimpah membuat C-301 menjadi primadona bagi petani. Sayang, kelebihan itu bukan tanpa cela. Klon komersial rilisan Perhutani itu produktivitasnya fluktuatif tergantung ketinggian tempat dan suhu lingkungan. Untunglah, sejak 2013 Aan berpaling pada ulat baru PS-01. Bombyx mori itu jagoan: produksi tinggi, adaptif, dan toleran serangan protozoa. Aan membuktikan keunggulan ulat itu.

Peternak sejak 43 tahun lampau itu memperoleh sekilogram benang dari 7 kg kepompong. Produksinya pun meningkat dari 400 kg per bulan menjadi 600 kg. PS-01 hasil persilangan Dra Lincah Andadari MSi di Laboratorium Pusat Penelitian dan Pengembangan Konservasi dan Rehabilitasi divisi Persutraan Alam, Ciomas, Bogor, sejak 2013. Sebenarnya pada 2004 muncul klon sutera BS-09 (Bogor Single Cross) dengan produksi dan kualitas lebih baik daripada C-301.

Baca juga:  Machmud Lutfi Huzain: Spirit Berbisnis Spirulina

Persentase serat kokon BS-09 pun lebih bagus sehingga dikomersilkan oleh Perum Perhutani unit 1 Candiroto, Kabupaten Temanggung, Jawa Tengah. Namun, BS-09 mesti dirawat petani yang mahir. Sudah begitu, ketinggian lahan harus sesuai, berkisar 400—800 m di atas permukaan laut. “Pakan pun harus tepat, cukup dan ruangan memenuhi persyaratan untuk pertumbuhan ulat,” ujar Lincah Andadari.

Pusat Penelitian dan Pengembangan Kehutanan berusaha memunculkan hibrida yang mudah dipelihara, mampu berproduksi dalam kondisi di bawah optimal, menghasilkan kokon berkualitas, serta stabil. Penelitian itu penyilangan galur murni selama 4 tahun.

Galur murni asal Jepang memiliki kokon tebal, produksi kokon tinggi, tetapi rentan terhadap penyakit. Sementara galur murni asal Cina memiliki lapisan kokon tipis, produksi kokon rendah, tapi tahan penyakit. Persilangan keduanya menghasikan hibrida produktif dan tahan penyakit. Selanjutnya Lincah menyeleksi berdasarkan sifat unggul antara lain daya gulung, rasio kokon, dan tingkat adaptasi terhadap lingkungan.

Dra Lincah Andadari MSi, peluang bisnis sutra alam masih terbuka lebar

Dra Lincah Andadari MSi, peluang bisnis sutra alam masih terbuka lebar

Multilokasi
Pengamatan dan penelitian lanjutan mendapatkan 1 hibrida yang paling berpotensi mempunyai keunggulan lebih daripada bibit lain. Periset itu lantas menguji dalam skala produksi. Setelah pengujian selama 12 bulan, muncul 4 hibrida baru yang lebih potensial. Selanjutnya Puslitbanghut menguji lapang di Garut, Tasikmalaya, Sukabumi, semua di Provinsi Jawa Barat, Pati (Jawa Tengah), dan Sulawesi Selatan.

Hasilnya, kualitas dan produktivitas ulat tetap konsisten. “Daya tahan tinggi, daya gulung kokon tinggi, dan ulat makan dengan ‘rakus’ sebagai ciri ulat sehat,” kata A. Amir Daus, manajer Perhutani Soppeng, Sulawesi Selatan. Suhu tinggi mencapai 31°celcius, tidak mengurangi kualitas dan produktivitas PS-01. Padahal lazimnya ulat sutra menuntut suhu ideal 23°—28°C.

Baca juga:  Bikin Sendiri Semangka Cinta

Keunggulan hibrida baru PS-01 yaitu produksi kokon diatas 35 kg per boks, rasio kulit kokon di atas 20%, panjang filamen antara 950–1.150 m. Daya gulung di atas 90% dan rendemen pintal 13–15%. Produksi kokon sutra alam bukan tanpa kendala. Salah satunya serangan hama dan penyakit selama pemeliharaan.

Daya gulung kokon tinggi membuat proses pemintalan lebih efisien

Daya gulung kokon tinggi membuat proses pemintalan lebih efisien

Musuh utama berupa protozoa penyebab penyakit pebrine. Penyakit itu menyebabkan ulat hilang nafsu makan dan sulit berkepompong dan akhirnya mati. Penyakit itu diturunkan dari induk ke keturunannya dan dapat pula ditularkan melalui makanan. Pebrine penyakit paling berbahaya karena bibit penyakit berada dalam sel telur induk ulat. Otomatis telur-telur yang dihasilkan terinfeksi penyakit. Hibrida PS-01 lebih tahan terhadap serangan penyakit. Pengalaman Aan, C-301 tahan penyakit dan adaptif di ketinggian 1.300 meter di atas permukaan laut. Namun, kulit kokon lebih tipis daripada PS-01.

Sejatinya fluktuasi produksi yang dialami petani ulat sutra sering disebabkan kesalahan pemeliharaan. “Petani kurang telaten dan abai menjaga ruangan atau sterilisasi benda-benda asing yang masuk ke ruang budidaya,” ujar Aan. Jenis pakan juga mempengaruhi produksi. Makanan satu-satunya ulat sutra adalah daun murbei. Untuk mencapai hasil maksimal, kualitas daun murbei menjadi penentu. Dengan luasan yang sama, kesuburan sama dan teknik pemeliharaan sama, jenis murbei unggul menghasilkan kokon lebih banyak dan lebih berkualitas.

Jika permintaan untuk industri garmen terpenuhi oleh petani lokal, ketergantungan impor produk sutera alam pun usai, bahkan berpotensi sebagai penghasil sutra berkualitas untuk memenuhi pasar mancanegara. (Muhammad Hernawan Nugroho)

Sumber : t r u b u s – o n l i n e . c o . i d

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *