580-H036-1

Kualitas susu sapi perah milik Jajang Aman meningkat sejak bergabung dengan Milk Collection Point.

Empat cara sederhana meningkatkan kualitas susu. Peternak menerima harga lebih tinggi.

Jajang Aman semringah memperoleh harga tinggi, Rp5.000 per kg susu. Peternak sapi perah di Desa Warnasari, Kecamatan Pangalengan, Kabupaten Bandung, Jawa Barat, itu rata-rata memerah 80 kg susu dari 6 sapi laktasi setiap hari. Artinya Jajang mengantongi omzet Rp400.000 per hari. Padahal sebelumnya ia hanya memperoleh omzet Rp240.000—Rp360.000 saban hari karena harga susu produksinya Rp3.000—Rp4.500 per kg.

“Harga jual susu meningkat karena kualitas susu pun melonjak,” kata pria berumur 41 tahun itu. Ia menikmati kenaikan harga sejak 2015. Total Plate Count (TPC) salah satu faktor yang mempengaruhi kualitas susu. Kualitas TPC menunjukkan kadar bakteri dalam susu. Makin rendah TPC makin tinggi harga susu. Semula TPC susu hasil panen Jajang 0,5 juta—1 juta cfu/ml, kini menurun menjadi 0,2 juta—0,25 juta cfu/ml. Standar Nasional Indonesia (SNI) menetapkan maksimal 1 juta cfu/ml susu.

Komputerisasi

Lantas apa rahasia Jajang sehingga kualitas susu lebih baik? Peternak sejak 1998 itu mengatakan, peningkatan kualitas susu sapi karena mengikuti standar operasional prosedur (SOP) penanganan susu anjuran Frisian Flag Indonesia (FFI). SOP FFI antara lain menganjurkan peternak membersihkan dan mengeringkan ambing sapi sebelum memerah. Akibatnya lebih sedikit benda asing yang masuk ke dalam susu.

Jajang juga memastikan wadah susu selalu bersih dan higienis. Caranya ia membersihkan wadah susu setelah pemakaian dengan air bersih, sabun, dan disinfektan. Jajang pun mengandalkan penyaringan ketika memindahkan susu ke wadah lain untuk mencegah benda asing yang berpotensi merusak susu. Standar lain, membuang susu perahan pertama lantaran mengandung banyak bakteri.

580-H037-1

Cooling tank berkapasitas 3 ton susu per tabung. Suhu dipertahankan 40C sehingga susu mampu bertahan selama 2 hari tanpa penurunan mutu.

“Kebersihan kandang, alat, dan tangan pemerah pun perlu diperhatikan agar kualitas susu terjaga,” kata peternak sapi perah sejak 1998 itu. Dairy Development Program (DDP) & Project Sustainable Entrepreneurship and Food Security (FDOV) Manager FFI, Akhmad Sawaldi, mengatakan bahwa peternak mesti menerapkan 4 cara sederhana itu untuk meningkatkan kualitas susu. Sayangnya 4 hal sederhana itu kerap terabaikan.

Baca juga:  Kiat Sentosa Berpuasa

Oleh karena itu, FFI bekerja sama dengan FDOV dan Koperasi Persatuan Bandung Selatan (KPBS) untuk membangun Milk Collection Point (MCP). Menurut DDP Quality Assurance Quality Control (QAQC) Manger FFI, Tino Nurhadianto, MCP memberikan edukasi ke peternak. Faedah lainnya mempersingkat waktu pengiriman susu dari peternak ke produsen. Semula peternak di Pangalengan menyetorkan susu di kantor KPBS. Kini peternak langsung mengirimkan susu ke MCP sehingga waktu tempuh lebih singkat, hanya 15 menit, semula 45 menit.

Setelah itu susu dikirim ke produsen olahan susu. “Koperasi hanya mengambil sedikit susu sebagai sampel untuk memantau kualitas susu,” kata Tino. Hampir semua peralatan di MCP canggih dan terkomputerisasi. Misal pemindahan susu dari tabung penyimpanan ke mobil pengangkut yang praktis dan otomatis. Fasilitas lain di MCP yaitu tempat pencucian wadah susu, ragam alat pengecekan kualitas susu, timbangan, alat komputerisasi, dan seperangkat alat penyimpanan susu.

580-H037-2

Peternak menyetorkan susu di Milk Collection Point (MCP) Warnasari, Kecamatan Pangalengan, Kabupaten Bandung, Jawa Barat.

Bermanfaat

Biaya pembuatan sebuah MCP fantastis mencapai Rp3,4 miliar. Komponen biaya termahal yaitu 2 tabung penyimpanan cooling tank berharga Rp1,7 miliar—Rp1,8 miliar. Adapun bangunan rata-rata Rp1,1 miliar. Menurut Sawaldi terjadi peningkatan signifikan kualitas susu peternak yang terlibat dalam MCP yakni anjloknya TPC hingga 90%. Kini TPC susu sapi peternak di MCP Warnasari rata-rata 170.000 cfu/ml, sebelumnya 5 juta cfu/ml —7 juta cfu/ml.

Menurun Sawaldi TPC mendongkrak harga susu sekitar 10% seperti yang dialami Jajang. Sawaldi mengatakan program yang dirintis sejak 2015 itu relatif pesat. Semula hanya ada sebuah MCP, kini ada 5 MCP tersebar di Pangalengan antara lain MCP Los Cimaung, MCP Warnasari, MCP Cipanas, MCP Citere, dan MCP Mekarmulya. Total jenderal 806 peternak bergabung dalam kegiatan itu.

580-H037-3

Dairy Development Program (DDP) & Project FDOV Manager FFI, Akhmad Sawaldi.

Setiap hari sapi milik peternak anggota MCP menghasilkan 29,6 ton susu. Jumlah itu mencukupi 10% kebutuhan susu FFI. Selain mendapakan harga lebih tinggi, faedah lain bergabung dengan MCP adalah sistem yang lebih adil bagi peternak. Lazimnya kelompok peternak yang menyetor susu sehingga kualitas susu rancu karena campuran dari susu milik anggota kelompok. Dampaknya harga susu pun sama  rata.

Baca juga:  Siasat Agar Kelinci Sehat

“Kini harga susu dari setiap peternak berbeda tergantung kualitas,” kata Sawaldi. Peternak yang mengikuti program memperoleh kartu berisi barcode. Dengan cara itu diketahui kualitas dan kuantitas susu setiap peternak secara digital sehingga kualitas susu terbaik mendapatkan harga terbaik pula. Sistem pembayaran sebelumnya per kelompok peternak. Lebih lanjut Sawaldi menuturkan teknik budidaya peternaklah penentu utama peningkatan kualitas susu sapi. Fasilitas di MCP hanya sebagai penunjang agar kualitas susu terjaga. Susu makin bermutu harga pun meningkat. (Muhamad Fajar Ramadhan)

Sumber : t r u b u s – o n l i n e . c o . i d