Sejauh mata memandang yang tampak hamparan beragam anggrek. Sebagian anggrek tengah memamerkan bunga. Tanaman anggota famili Orchidaceae itu tidak berada di pohon tinggi seperti di dalam hutan.

Hanya tumbuhan khas pegunungan setinggi 2—3 meter yang mendominasi kawasan terbuka itu. Boleh dibilang anggrek di lokasi itu bersifat semiterestrial karena berada di atas tumpukan lumut relatif tebal.

surga anggrek di sebuah tempat di Sulawesi
Kemungkinan banyak spesies baru seperti Bulbophyllum sp. di surga anggrek di sebuah tempat di Sulawesi itu.

Lumut melapisi tanah di habitat anggrek itu. ”Tempat itu representasi dari anggrek-anggrek yang ada di Pulau Sulawesi,” kata Frankie Handoyo yang takjub menyaksikan keelokan bunga kerabat vanili itu.

Boleh dibilang tempat berelevasi lebih dari 1.000 meter di atas permukaan laut itu surganya anggrek di Pulau Sulawesi. Beberapa jenis anggrek yang tidak ditemui di tempat lain di Celebes dapat dijumpai di situ.

Bahkan Dendrobium vogelsangii yang lazim ditemui di Kabupaten Tanatoraja, Sulawesi Selatan, berada di surga anggrek itu. Sayangnya anggrek yang menghendaki habitat bersinar matahari cukup itu belum berbunga.

“Ada banyak vogelsangii di tempat itu. Sayangnya masih kenop (kuncup, red),” kata Frankie. Ia menduga 3 hari kemudian anggrek itu bakal memamerkan bunga selebar 4—5 cm berwarna putih dengan pangkal labellum kuning.

Lazimnya setangkai terdiri dari 3—5 kuntum. Menurut Frankie Dendrobium vogelsangii itu spesial lantaran termasuk section Formosae bernilai jual tinggi. Alasannya anggrek itu menjadi indukan untuk menghasilkan dendrobium mini.

Formosae juga satu-satunya section yang ada di Pulau Sulawesi. Frankie menuturkan spesies anggrek yang paling berkesan di surga itu yakni Notheria diaphana yang melimpah jumlahnya.

Mediocalcar paradoxum yang berbunga dominan merah
Banyak penggemar anggrek yang belum mengetahui Mediocalcar paradoxum yang berbunga dominan merah.

Padahal, ia jarang menemui anggrek jenis itu ketika menelusuri alam Sulawesi. Anggrek itu termasuk genus monotipik. Artinya di dalam genus Notheria, hanya ada N. diaphana. Sayangnya saat itu anggrek endemik Sulawesi itu belum berbunga.

Frankie kali pertama menjumpai anggrek itu pada 2011 ketika 14 hari mengeksplorasi Pulau Sulawesi (sula berarti pulau, wesi berarti besi). Ketika mobil yang ditumpanginya melintasi hutan primer, Frankie meminta sopir berhenti.

Porrorhachis galbina spesies bunga anggrek eksotis karena berbunga mini
Maniak anggrek menganggap Porrorhachis galbina sebagai spesies eksotis karena berbunga mini.

Ia pun turun dan menjelajahi hutan itu dengan harapan mendapatkan anggrek endemik. Sulawesi sohor memiliki anggrek endemik karena berkaitan dengan garis khayal Wallace. Beda halnya dengan anggrek-anggrek di Sumatera juga bisa ditemui di Jawa. Selang 45 menit memasuki hutan perawan Frankie melihat diaphana menempel di pohon palem di

ketinggian 1,5 m dari lantai hutan. Anggrek yang dideskripsikan pada 2000 itu memiliki pseudobulbs yang menonjol.

Tinggi tanaman mencapai 15 cm dan tumbuh bergerombol di pangkal tanaman. Mei—Juli waktu terbaik memandangi bunga diaphana yang halus, tipis, dan tidak bertahan lama. Sayang Frankie mendapati surga anggrek itu ketika berkunjung pada akhir Februari dan awal Maret 2018.

Sebetulnya ia berharap waktu itu sudah memasuki musim kemarau karena lazimnya anggrek berbunga pada awal musim hujan atau awal musim panas.

Notheria diaphana satu-satunya spesies anggrek dalam genus Notheria.
Notheria diaphana satu-satunya spesies anggrek dalam genus Notheria.

“Waktu terbaik melihat anggrek di Sulawesi adalah Agustus—September,” kata ayah 1 anak itu. Meski begitu tetap saja ada anggrek yang berbunga dan tidak. Jadi tidak ada istilah musim berbunga serempak untuk anggrek karena habitatnya memang di hutan hujan sejati yang cenderung basah.

Beda halnya jika kita ke Chiang Mai, Thailand. Di tempat itu pehobi bisa memastikan 90% anggrek berbunga pada Mei—Oktober karena Thailand berada di garis lintang lebih tinggi ketimbang di tanah air.

Baca juga:  Pesona Bunga Krisan Baru

Sementara di Indonesia tidak berlaku cara itu. Selalu ada anggrek yang berbunga dan tidak berbunga di alam. Anggrek yang tengah berbunga di surga itu yakni Porrorhachis galbina.

Frankie mengatakan Porrorhachis genus kecil yang terdiri atas 4 speseis serta tidak lazim dijumpai dan dikoleksi orang. Hanya maniak anggrek yang mengagumi anggrek mini itu dan menganggapnya eksotis.

Phaius sp. di surga anggrek, belum teridentifikasi.
Phaius sp. di surga anggrek, belum teridentifikasi.

Anggrek lain yang mencuri perhatian Frankie adalah Mediocalcar paradoxum. Mediocalcar bukan genus umum sehingga kemungkinan banyak penggemar anggrek yang belum pernah melihat spesies itu. Bunganya mencolok karena berwarna dominan merah dan berukuran mini sekitar 0,65 cm.

Penyebaran anggrek itu meliputi Sulawesi dan Papua. Notheria diaphana, Porrorhachis galbina, dan Mediocalcar paradoxum hanya sebagian kecil anggrek yang menghuni surga itu.

“Kemungkinan banyak spesies baru seperti Bulbophyllum sp.,” kata warga Bekasi, Jawa Barat, itu. Frankie kesulitan mendeskripsikan anggrek itu karena tidak berbunga. Frankie pun menemukan Phaius sp. di tempat itu. Sejatinya kunjungan Frankie ke surga anggrek itu dalam rangka tur anggrek Sulawesi.

Peserta tur anggrek

Terdapat sekitar 12 peserta yang mengikuti tur anggrek itu yang berasal dari dalam dan luar negeri seperti Singapura dan Perancis.

Peserta tur berdiskusi tentang anggrek yang mereka jumpai.
Peserta tur berdiskusi tentang anggrek yang mereka jumpai.

Salah satu peraturan tur adalah tidak mengambil anggrek di habitat aslinya. Turis Inggris yang tinggal di Bali, Jeffrey Champion, pun sangat puas berkunjung ke surga itu. “Tur dan habitat anggrek bagus. Anggreknya tidak habis-habis,” kata Frankie menirukan ucapan Jeffrey.

Peserta asal Singapura yang juga anggota Orchid Society of South East Asia (OSSEA) terpesona dengan lokasi itu karena dipenuhi tanaman kerabat vanili itu. Peserta juga kagum dengan surga anggrek itu karena pada luasan 2 m x 2 m ditemukan sekitar 10 spesies.

Frankie Handoyo mengoleksi beragam spesies anggrek.
Frankie Handoyo mengoleksi beragam spesies anggrek.

Menurut Frankie yang kerap masuk hutan mengeksplorasi anggrek, keragaman anggrek tertinggi di suatu wilayah terdapat di suatu daerah di Sulawesi itu. Di Taman Nasional Gunung Halimun Salak (TNGHS) keragaman anggrek relatif rendah meskipun ada sekitar 200 jenis anggrek di wilayah itu. Namun, persebaran antaranggrek relatif jauh.

Jika pengunjung menelusuri tempat berketinggian 1.400 meter di atas permukaan laut (m dpl) hingga 1.700 m dpl kemungkinan hanya menjumpai 15 spesies anggrek.

“Yang bikin tamu keheranan tidak perlu bersusah-payah menemukan anggrek di surga anggrek itu,” kata penulis buku Orchids of Indonesia itu. Sulawesi terkenal memiliki keanekaragaman tinggi anggrek. Sebetulnya sangat lazim menemukan 13 spesies anggrek di satu pohon inang di Sulawesi.

Bandingkan dengan di Jawa yang mungkin hanya menemukan 5 spesies anggrek di satu pohon. Keunggulan lain surga itu yakni lokasi strategis karena dekat jalan raya, kendaraan mudah mencapai lokasi, dan kontur lahan relatif datar sehingga relatif mudah dijelajahi.

Kelebihan itu justru menjadi kelemahan surga anggrek itu. Lokasi yang dekat jalan raya mempermudah para pemburu anggrek alam untuk menguras kekayaan anggrek di tempat itu. Padahal, boleh dibilang tempat itu sumber keanekaragaman anggrek di Sulawesi.

Oleh karena itulah, Frankie merahasiakan tempat itu. Apalagi saat ini perburuan anggrek berbunga mini gencar. Pembeli dari mancanegara seperti negara-negara Eropa dan Amerika Serikat mengincar anggrek yang secara botani dihargai, tapi bernilai ekonomi rendah.

Dendrobium bicaudatum di sulawesi
Dendrobium bicaudatum hampir dapat ditemui di semua tempat yang dikunjungi.

Karena masih berstatus anggrek botani itulah penggemar anggrek mancanegara mengejarnya. Adanya permintaan itu secara tidak langsung mendorong pengambilan anggrek di alam. Pasar lokal juga mulai meminati anggrek-anggrek kecil itu.

Baca juga:  Lima Herbras Menguak Pasar

Para pemburu anggrek alam pun makin banyak. Frankie mengamati jumlah para pemburu meningkat 2 tahun setelah ada media sosial Facebook. Jumlah anggota salah satu komunitas anggrek melonjak menjadi 10.000 orang dari semula hanya 1.000 anggota.

Yang paling anyar adalah sejak 2017 muncul para pemuda yang menjarah anggrek di salah satu daerah di Sulawesi. Mereka menyatakan itu hasil konservasi, tapi sebetulnya para pemuda itu menjual anggrek langsung dari hutan.

Lazimnya para pemburu masuk hutan pada Sabtu dan Ahad lalu memasarkan hasil temuan mereka pada Senin. Lama-kelamaan pasar bisa jenuh sehingga harga anggrek yang tadinya mahal menjadi murah.

Saat itu pemburu tidak mengambil anggrek di hutan. Namun, tidak ada jaminan jenis anggrek itu masih bertahan di habitat aslinya. Frankie mengetahui surga anggrek itu dari pemburu lokal. Sejatinya ia mengetahui tempat itu sejak 2011 saat mengeksplorasi anggrek di Pulau Sulawesi dalam rangka pembuatan buku.

Sayang saat itu waktu berkunjung terbatas sehingga ia tidak mengunjungi surga anggrek itu. Kunjungan ke surga anggrek itu puncak perjalanan yang sempurna.

Melihat bunga anggrek di habitat aslinya

Awal perjalanan Frankie dan rombongan menelusuri alam di Kabupaten Tanatoraja, Sulawesi Selatan. Ia senang keluar-masuk hutan di Toraja karena keberadaan anggrek di terjaga mesti banyak pemburu. Frankie menyimpulkan masyarakat Toraja lebih senang “menjual” anggrek sebagai komoditas pariwisata daripada mengambilnya di hutan lalu dijual.

Anggrek khas di Toraja, Vandopsis lissociloides.
Anggrek khas di Toraja, Vandopsis lissociloides.

Setelah bermobil 2 jam, peserta mesti melanjutkan perjalan dengan berjalan kaki karena medan tidak memungkinakn dilewati mobil. Mereka menembus rimba hamparan anggrek bulan Phalaenopsis venosa memanjakan mata.

“Melihat anggrek bulan berbunga di habitatnya merupakan hal langka,” kata mantan eksportir anggrek itu. Yang istimewa letak anggrek bulan itu hanya 1—2 meter dari lantai hutan sehingga memudahkan peserta memotret dan mengamati flora itu.

Paphiopedilum bullenianum var celebensis
Paphiopedilum bullenianum var celebensis dapat dijumpai di pinggir jalan menuju Palopo, Sulawesi Selatan.

Agar dapat melihat anggrek lebih banyak lagi, mereka mesti masuk 1—2 meter ke kanan atau kiri jalur penelusuran. Alasannya anggrek dekat lintasan Frankie dan tim sedikit karena berbagai sebab seperti diambil orang atau penebangan kayu pohon inang.

Ridwan yang berdomisili di Surabaya, Jawa Timur, kesengsem dengan Renanthera matutina yang berwarna merah. Ia berencana membeli anggrek itu dari seorang pemburu. Sayang, sang pemburu tidak memiliki anggrek idaman Ridwan itu.

Dendrobium vogelsangii spesial lantaran termasuk section Formosae bernilai jual tinggi sebagai indukan.
Dendrobium vogelsangii spesial lantaran termasuk section Formosae bernilai jual tinggi sebagai indukan.

“Perjalanan itu sangat berkesan karena saya lebih mengenal anggrek spesies dari Sulawesi,” kata pria yang mengoleksi sekitar 100 anggrek berbagai spesies itu. Tempat lain yang menawarkan keindahan anggreknya yaitu salah satu kawasan hutan menuju Palopo.

Lokasi itu fantastis karena terdapat Paphiopedilum sp. di pinggir jalan raya. Kanan dan kiri jalan raya itu habitat anggrek lainnya seperti Corybas sp., Appendicula sp., dan Dendrobium lowii sp.

Anggrek mekar di habitat aslinya.
Anggrek mekar di habitat aslinya.

Anggrek primadona di tempat itu yakni Paphiopedilum bullenianum var. celebensis. Menurut Frankie genus Paphiopedilum genus populer dan memiliki nilai ekonomis tinggi terutama di kalangan pehobi di mancanegara. Alasannya anggrek itu rajin berbunga, cantik bunganya, dan perawatan mudah.

Meskipun ada beberapa tempat yang gagal dikunjungi, pengalaman menelusuri anggrek di habitatnya di Sulawesi menjadi pengalaman terindah para peserta tur.

Peserta puas menikmati anggrek Sulawesi di habitatnya langsung.
Peserta puas menikmati anggrek Sulawesi di habitatnya langsung.

Sumber : t r u b u s – o n l i n e . c o . i d