Seri Walet 241

Kelembapan yang pas menghasilkan sarang walet yang baik.

Kelembapan yang pas menghasilkan sarang walet yang baik.

Mesin pengabut menjaga kelembapan rumah walet agar sarang berkualitas prima.

Zaenal kecewa saat melihat sarang walet miliknya di lantai 1 dan 2 itu keriput dan kering. Beberapa di antaranya terkelupas dari sirip. Kekecewaan peternak di Desa Tarailu, Kecamatan Sampaga, Kabupaten Mamuju, Sulawesi Barat, itu bertambah saat naik ke lantai 3 dan 4. Sarang walet tampak berserakan di lantai ruangan. Menurut Zaenal kondisi itu jamak terjadi saat kemarau. Suhu udara yang panas menyebabkan kelembapan rumah walet menjadi rendah.

Akibatnya sarang walet menjadi kering, berkerut, dan terkelupas dari sirip. “Kerusakan akibat kelembapan yang rendah itu mencapai 70% dari populasi sarang,” kata Zaenal. Sarang yang rusak otomatis menurunkan harga. Menurut Zaenal sarang rusak adalah kualitas paling rendah dan harganya hanya separuh dari mutu bagus. Ia biasanya menjual sarang walet berkualitas prima Rp8-juta—Rp8,5-juta per kg.

Mesin pengabut
Menurut konsultan walet di Tangerang Selatan, Provinsi Banten, Harry Wijaya, kelembapan ideal di dalam rumah walet berkisar 87—90%. Bila kelembapan terlalu tinggi atau udara terlalu basah meyebabkan sarang walet menjadi liat seperti karet. Sebaliknya jika kelembapan terlalu rendah dapat menyebabkan sarang kering seperti sarang di rumah Zaenal. “Produktivitas walet pun turun karena walet membangun sarang menggunakan air liur,” kata Harry.

Harry Wijaya konsultan walet, di Banten.

Harry Wijaya konsultan walet, di Banten.

Untuk mengatasi kendala itu, pada 2011 Zaenal menggunakan mesin pengabut untuk menjaga kelembapan di lantai 3 dan 4 rumah waletnya. Ia memasang pipa dengan penyemprot air mengelilingi ruangan pada ketinggian 130—140 cm atau setengah dari ketinggian ruangan. Pada siang hari saat kemarau ia menyalakan pompa untuk menyemprotkan air setiap jam selama 10—20 menit untuk menjaga kelembapan.

Baca juga:  Sarang Walet Dalam Botol

Ia tidak menyalakan pompa saat malam jika kelembapan udara pada kondisi ideal. Setelah menggunakan mesin pengabut, Zaenal tak lagi menjumpai sarang yang rusak karena terlalu kering. Hasil panen sarang walet pun meningkat secara bertahap. Sebelum menggunakan alat pengabut, ayah 3 anak itu hanya memaen 3—4 kg sarang walet dalam 3 bulan. Setelah menggunakan mesin pengabut, Zaenal dapat memanen sarang walet rutin setiap bulan.

“Hasil panen pada Januari 2017 mencapai 11 kg,” kata Zaenal. Mesin pengabut itu dirancang untuk menjaga kelembapan dan suhu di rumah walet agar tetap stabil dan sesuai dengan iklim mikro yang diinginkan walet. Mesin itu dilengkapi filter air untuk menyaring air yang akan masuk ke penampungan air berkapasitas 80 liter. Pada mesin itu terdapat 3 filter yang dirangkai secara seri sehingga proses penyaringan berlangsung berlapis.

Filter air pada mesin kelembapan.

Filter air pada mesin kelembapan.

Filter itu berfungsi untuk menyaring kotoran agar tidak menyumbat sprayer atau penyemprot di dalam ruangan rumah walet. Pompa pada mesin pengabut itu dilengkapi dudukan berpegas untuk mengurangi getaran mesin yang menimbulkan suara berisik. Dengan begitu suara mesin menjadi sangat halus sehingga tidak mengganggu kenyamanan walet untuk bersarang. Mesin itu juga dilengkapi pengatur waktu sehingga dapat beroperasi secara otomatis.

Tekan amonia
Untuk menyemprotkan air, mesin pengabut itu menggunakan penyemprot berdiameter lubang 0,3 mm sehingga butiran air yang dihasilkan tidak terlalu halus. Penyemprot terpasang di ujung selang atau pipa polivinilklorida (PVC) yang ditempatkan di bawah sirip. Butiran air tidak terlalu halus agar kabut turun ke lantai ruangan. Jika terlalu halus, maka butiran air akan terbang bebas dan naik serta menempel di bagian sirip.

Mesin penjaga kelembapan rumah walet ciptaan Harry Wijaya.

Mesin penjaga kelembapan rumah walet ciptaan Harry Wijaya.

Akibatnya sirip menjadi lembap atau basah sehingga memicu munculnya cendawan. Pada kondisi itu walet menjadi tidak betah bersarang di rumah walet dan akhirnya pergi. Menurut Harry butiran air yang turun ke lantai ruangan juga dapat menekan jumlah amonia dari hasil penguraian kotoran burung agar tidak naik ke atas dan mencemari sarang. Udara dan temperatur yang sejuk menekan amonia tetap berada di lantai ruangan.

Baca juga:  Ceruk Pasar Tomat Premium

“Bila amonia naik mencapai sirip dan sarang walet, dapat menyebabkan warna sarang walet menjadi kuning. Hal itu merugikan karena harga sarang menjadi jatuh di bawah harga normal,” tutur Harry. Konsumen menyukai sarang walet berwarna putih kapas karena lebih bersih. Meski butiran air yang disemprotkan berukuran lebih besar, mesin pengabut itu hemat air.

Untuk ruangan berukuran 100—150 m² dengan waktu operasional 10—15 menit per jam selama siang hari hanya perlu 4—5 liter air per hari. Menurut Harry, untuk menjaga kelembapan rumah walet sebetulnya dapat menggunakan alat humidifier atau pengatur kelembapan yang beredar di pasaran. Namun, alat itu hanya efektif untuk ruangan sempit yang luasnya kurang dari 50 m². (Muhammad Awaluddin)

Sumber : t r u b u s – o n l i n e . c o . i d