Siapkan lingkungan yang nyaman bagi itama

Siapkan lingkungan yang nyaman bagi itama

Satu log koloni itama menghasilkan 500 g madu per tiga pekan.

Benny Tan memanen 1—1,5 kg madu setiap log per tiga pekan. Peternak di kota Muarabungo, Kabupaten Bungo, Provinsi Jambi, itu memiliki belasan koloni lebah Trigona itama. Namun, seiring bertambahnya jumlah koloni hingga 200 log, produktivitas madu justru anjlok. Bahkan, jumlah populasi lebah setiap log pun menyusut. Ia menduga anjloknya produktivitas madu karena ketersediaan sumber pakan tidak sebanding dengan populasi itama.

Itu akibat kondisi vegetasi tetap. Benny hanya mengandalkan sumber nektar dari bunga pohon miliknya seperti rambutan, mangga, dan durian yang tumbuh di sekitar lokasi budidaya itama. Apalagi ketiga pohon buah itu berbunga musiman. “Saya tidak mengantisipasi ketersediaan bahan makanan di alam saat terus menambah log,” ujar pria 44 tahun itu.

Bunga belimbing disukai itama sebagai sumber madu

Bunga belimbing disukai itama sebagai sumber madu

Buah tanpa musim

Untuk sementara Benny terpaksa berhenti menambah jumlah log. Kini ia lebih fokus memperbaiki vegetasi tanaman di sekitar area budidaya. Ia mulai membudidayakan tanaman buah yang berbunga tanpa musim, seperti belimbing, lengkeng pingpong, dan jambu air. Menurut Keng Effendy, peternak di kawasan Jelambar, Jakarta Barat, kunci sukses beternak itama adalah ketersediaan pakan.

Itulah sebabnya sebelum beternak itama Keng menyulap lantai 4 rumahnya menjadi taman. “Makanan utama itama adalah bunga dari tanaman buah,” ujar pengusaha komputer itu. Ia membeli aneka jenis tanaman buah yang berbuah terus-menerus seperti belimbing, jambu air, jeruk, dan markisa. Keng juga membeli aneka tanaman hias yang rajin berbunga seperti palem-paleman, air mata pengantin, wedani, dan xanthostemon.

Penyiraman dengan sistem irigasi tetes menjamin tanaman selalu segar dan rajin berbunga

Penyiraman dengan sistem irigasi tetes menjamin tanaman selalu segar dan rajin berbunga

Jika sumber nektar memadai, itama berkembang dan menghasilkan madu. Keberhasilan panen madu itama juga ditentukan dari kesuksesan melakukan topping. Topping adalah penempatan kotak kayu di atas log sebagai ruang buatan untuk menyimpan sarang madu. Peternak perlu melakukan topping untuk mempermudah panen. Jika tidak, madu hanya bisa dipanen dengan membelah log. Cara itu tentu saja tidak efisien karena harus mengganti log baru setiap kali panen. Dengan proses topping, panen madu cukup dengan membuka penutup kotak.

Baca juga:  Kiat Sentosa Berpuasa

Potong log
Topping terbuat dari kayu yang dibentuk kotak berukuran 30 cm x 40 cm x 5 cm. Bila topping akan dipasangi kantong madu buatan, ukuran kotak 31,5 cm x 41,5 cm x 5 cm. Agar lebih bervariasi, bentuk topping juga dapat meniru bentuk rumah-rumahan sehingga terlihat unik. Di bagian alas kotak buat lubang berdiameter 2—3 cm, sebagai pintu keluar-masuk itama ke kotak topping.

Lubang selebar itu sebetulnya terlalu lebar. Lebah nantinya akan menyumbat lubang itu dengan propolis dan hanya menyisakan lubang yang pas untuk keluar-masuk. Bagian atas topping ditutup dengan plastik bening agar mudah memantau kondisi sarang madu di dalam kotak. Sebelum melakukan topping, potong log yang baru datang.

Itama membuat langsung kantong madu di kotak kayu

Itama membuat langsung kantong madu di kotak kayu

Menurut Benny, sarang dari alam itu harus dipotong untuk mengurangi ruang penyimpanan madu di dalamnya.
Di dalam log koloni biasanya terdapat 3 ruang. Bagian paling atas adalah ruang penyimpanan madu, bagian tengah ruang penyimpanan polen, serta paling bawah ruang brood cell alias penyimpanan sarang telur dan larva. Pemotongan di bagian atas sampai terlihat ruang penyimpanan madu.

Pemotongan log menggunakan gergaji mesin. Agar lebah tidak kabur saat pemotongan, siapkan log kosong. Angkat log berisi itama, lalu ganti posisinya dengan log kosong. Potong “belalai” alias jalan masuk lebah kemudian tempelkan ke lubang masuk di log kosong. Selanjutnya potong log berisi koloni dengan gergaji mesin sampai ruang madu terlihat. Saat pemotongan lebah-lebah mungil itu akan beterbangan dan hinggap di log kosong yang sudah dipersiapkan. Setelah area madu di bagian atas terpotong, berikutnya potong bagian bawah area brood cell hingga benar-benar rata agar log bisa diletakkan dengan posisi tegak.

Selanjutnya letakkan kotak topping di bagian atas log. Pastikan posisi lubang di atas kotak tepat di atas lubang ruang madu log. Kemudian tutup bagian atas kotak dengan lembaran styrofoam untuk menangkal sinar matahari langsung. Setelah topping, letakkan sarang di halaman rumah atau kebun. Sebaiknya letakkan log di atas pilar beton atau di rangka besi agar tidak bersentuhan langsung dengan tanah. Bila tidak, rayap akan naik dan bersarang di dalamnya.

Baca juga:  Atasi Aral Kebunkan Si Madu

Tempat teduh
Letakkan log di tempat teduh. Hindari log terpapar sinar matahari secara langsung. Jika terkena sinar matahari yang terik, lebah kecil itu akan berkumpul dalam sarang dan tidak keluar mencari makan. Pada kondisi lapar mereka akan memakan madu dan polen simpanannya. Bila merasa nyaman, mereka mulai membuat sarang madu dan polen di kotak topping.

Dengan kantong madu imitasi, panen lebih cepat

Dengan kantong madu imitasi, panen lebih cepat

Pada tahap awal mereka akan melapisi bagian dasar topping dengan propolis. Selanjutnya mereka membuat wadah madu dan polen berbentuk bulat berdiameter 3 cm. Setelah penuh, itama akan menutupnya sehingga berbentuk bola. Bola-bola itu ada yang melekat langsung di dasar topping, ada juga yang disangga ‘tiang-tiang’ kecil dari bahan lilin yang mengandung propolis. Di bawah tabung madu itu itama bebas bergerak dan bersembunyi.

Untuk mempercepat panen, beberapa peternak meletakkan wadah madu buatan terbuat dari plastik. Untuk kotak topping berukuran 31,5 cm x 41,5 cm x 5 cm diisi 16 rangkaian wadah. Setiap rangkaian terdapat 12 wadah atau total 168 wadah. Setiap wadah dapat menampung 5 g madu. Sebelum dipasang, Benny merendam wadah imitasi dalam larutan propolis agar itama mengenali aromanya.

Sarang madu buatan itu dapat mempercepat frekuensi panen madu. Kerabat trigona itu tidak perlu membuat sarang madu dari awal. Stingeless bee itu hanya perlu melapisi dinding wadah tiruan itu dengan propolis, lalu mengisinya dengan madu atau bee pollen. Setelah penuh, lebah menutup rapat sehingga mirip kumpulan bola-bola cokelat. Setelah 3—4 pekan, seluruh wadah penuh dan dapat dipanen dengan menyedot menggunakan mesin sedot.

Lebah trigona tidak dilengkapi sengat untuk membela diri. Oleh sebab itu mereka rentan terhadap serangan predator. Contohnya semut hitam kecil, laba-laba, cecak, kadal, dan kodok. Menurut Keng Effendy, bila semut berhasil lolos dari rintangan, ia akan masuk ke dalam sarang. Ia akan mengisap madu dan memangsa larva atau pupa. Bahkan mereka akan bertelur dan meletakkan telur di sarang. Akibatnya, lebah itama akan kabur dari sarang.

Untuk mencegahnya, letakkan kaki penopang log pada wadah berisi air. Dengan begitu semut atau cicak tidak bisa naik ke sarang itama. Bila berbagai kendala itu teratasi, maka panen madu 300—500 g setiap 3—4 pekan akan jadi kenyataan. (Syah Angkasa)

Sumber : t r u b u s – o n l i n e . c o . i d