Varietas pacar baru bersosok besar dan warna bunga amat ngejreng.

Rumah Sunpatiens di Balithi sebagai bentuk kebanggaan terhadap varietas baru bunga pacar.

Rumah Sunpatiens di Balithi sebagai bentuk kebanggaan terhadap varietas baru bunga pacar.

Beragam warna bunga memanjakan mata saat pengunjung masuk ke sebuah rumah kaca di Balai Penelitian Tanaman Hias (Balithi), Desa Ciherang, Kecamatan Pacet, Kabupaten Cianjur, Jawa Barat. Di rumah kaca itulah varietas baru pacar air Impatiens balsamina tumbuh subur. Tanaman bunga varietas baru memiliki warna bunga lebih bervariasi, tahan terhadap berbagai kondisi cuaca. Pacar baru itu sohor dengan sebutan sunpatiens.

Balithi mengembangkan pacar air baru itu dari induk asalnya dari Sulawesi, Jawa, dan Papua. Sunpatiens merupakan pemuliaan dengan sumber daya genetik pacar air Indonesia. Pacar air lokal atau Impatiens berbunga kecil, diameter tiga sentimeter. Warna daun hijau terang dengan panjang rata-rata 6 cm. Pemuliaan menghasilkan tanaman berbunga lebih besar, yakni 10 cm, dan berdaun lebih lebar hingga 15 cm, serta warnanya lebih cemerlang.

Lebih besar
Dalam satu tangkai, bunga yang muncul bisa 3—4 kuntum. Jika satu bunga layu, kuncup lain akan segera mekar menggantikannya di tangkai yang sama. Impatiens lokal tingginya hanya 30—80 cm dengan bentang tanaman sekitar 60 cm. Perubahannya kentara setelah direkayasa genetik, yakni tingginya menjadi 61—107 cm dan bentang tanaman menjadi 61—76 cm. Sunpatiens di Balithi terdiri atas tiga warna, yakni ungu, jingga, dan putih.

Sunpatiens vigorous lavender (warna ungu) dan vigorous orange (warna jingga), tampil memikat sebagai bagian penghias ruangan.

Sunpatiens vigorous lavender (warna ungu) dan vigorous orange (warna jingga), tampil memikat sebagai bagian penghias ruangan.

Selain lebih tahan terhadap sinar matahari, varietas baru itu juga lebih tahan terhadap cuaca dingin. Varietas itu bahkan bisa tumbuh di negara-negara yang memiliki musim dingin. Kini tanaman pacar memiliki porsi yang cukup besar dalam perdagangan tanaman hias di dunia. Produsen tanaman hias pacar air terbesar adalah Israel dengan pangsa pasar terbesar di Amerika Serikat, Eropa, dan Asia timur.

Jepang juga andil dalam perdagangan pacar di dunia melalui perusahaan Sakata Seed Corporation (SSC). Produk itu menguasai pasar internasional dengan pangsa pasar lebih dari 30% dari total volume penjualan dunia 80 juta setek pucuk. Adapun total penjualan kumulatif seluruh dunia melebihi 100 juta tanaman. Menyadari pentingnya peran tanaman impatients, Badan Litbang Pertanian dan Sakata Seed Corporation bekerja sama memproduksi impatiens interspesifik hibrida.

Baca juga:  Ilmu Ikan

Perjanjian untuk akses dan benefit-sharing sumber daya genetik dari konvensi keanekaragaman hayati dan membantu melindungi sumber daya genetik. Kedua pihak resmi menyetujui pemanfaatan sumber daya adat genetik untuk pengembangan lebih lanjut dari Sunpatiens. Perjanjian itu didasarkan pada Konvensi Keanekaragaman Hayati yaitu pengembangan sunpatiens menggunakan bahan pemuliaan spesies asli Indonesia untuk merakit Impatiens.

Pada 2014 kedua pihak memperbarui sistem kolaborasi dan mengimplementasikan proyek penelitian bersama yang inovatif berdasarkan pada kebijakan nasional yang baru. Kedua pihak berkontribusi terhadap pengembangan struktur kerja sama yang lebih baik untuk pemanfaatan sumber daya genetik dan konservasi dan pemanfaatan keanekaragaman hayati sebagai warisan tak tergantikan dari manusia.

Berpotensi bisnis
Presiden Sakata, Hiroshi Sakata, dan Kepala Badan Litbang Pertanian yang diwakili oleh Sekertaris badan Litbang Pertanian, Dr Ir M Prama Yufdy, MSc merilis bersama varietas sunpatiens di Balai Penelitian Tanaman Hias pada 6 September 2016. Latar belakang lahirnya sunpatiens karena wabah embun tepung yang menyerang varietas komersial Impatiens walleriana, tanaman taman yang utama di Amerika Serikat.

Sunpatiens tahan terhadap berbagai kondisi cuaca sehingga cocok juga untuk penghias halaman.

Sunpatiens tahan terhadap berbagai kondisi cuaca sehingga cocok juga untuk penghias halaman.

Itu mendorong para produsen tanaman hias mencari alternatif tanaman yang tahan terhadap embunn tepung. Impatiens new guinea memiliki ketahanan terhadap penyakit itu, tetapi tidak tahan terhadap kekeringan. Itu pula yang mendorong eksplorasi spesies lain yang tahan memiliki ketahanan terhadap cekaman kekeringan dan selanjutnya gen ketahanan itu dapat diintrograsikan ke dalam varietas komersial new guinea.

Impatiens satu-satunya genus dalam famili Balsaminaceae yang mempunyai nilai ekonomi. Di dunia terdapat 850 jenis Impatiens, sedangkan di Indonesia baru diketahui sekitar 50 jenis, tersebar di Jawa sekitar 10 jenis, sisanya di Sumatera, Papua, dan Sulawesi. Penelitian lanjutan menghasilkan 25 spesies dalam genus Impatiens hasil eksplorasi di daerah Sumatera Barat dan Sumatera Utara.

Baca juga:  Jambu Mete Andal Atasi Hipertensi

Di antara genus itu, 9 di antaranya memiliki potensi sebagai tanaman hias karena mempunyai bentuk daun mahkota yang unik, menarik, dan berwarna mencolok. Hingga kini ada sekitar 30 varietas sunpatiens yang diperdagangkan di dunia. Impatiens berkembang dengan baik di Balai Penelitian Tanaman Hias berketinggian 1.100 meter di atas permukaan laut suhu harian 18—25°C. Bentuk tanaman tetap kompak, produksi tinggi, serta warna tidak pudar.

Indonesia patut berbangga sebagai negara dengan keragaman biodiversitas terbesar kedua setelah Brasil. Keanekaragaman itu termasuk Impatiens atau tanaman pacar air atau pacar tere. Dalam rangkaian kerja sama itu, SSC dalam lima tahun mendatang akan memberikan dukungan berupa kuliah mengenai pemuliaan Impatiens kepada pemulia Balai Penelitian Tanaman Hias sebagai institusi teknis pelaksana penelitian dan pengembangan tanaman hias nasional.

Vigorous white jenis yang paling banyak menyedot perhatian lantaran sosok bunga yang berwarna putih bersih.

Vigorous white jenis yang paling banyak menyedot perhatian lantaran sosok bunga yang berwarna putih bersih.

Sakata juga melakukan penelitian terkait koleksi, evaluasi, dan seleksi bersama Impatiens lokal sebagai materi genetik untuk pemuliaan Impatiens. Pada masa mendatang program pemuliaan Impatiens mengarah pada upaya mendapatkan varietas unggul yang tahan terhadap cekaman lingkungan sesuai permintaan pasar. Meski pemasarannya dimulai pada 2010, penjualan varietas anyar pacar air itu baru dilakukan kepada para peminat bunga di Eropa.

Para petani bunga mengatakan adanya pajak pertambahan nilai (PPN) 10 persen untuk setiap tangkai bunga yang dijual menjadi alasan belum dipasarkannya varietas baru itu di Indonesia. Itu memberatkan petani kecil. Padahal, sejatinya kebutuhan bunga di Indonesia sangat besar. Sejauh ini yang baru terpenuhi hanya sekitar 50 persen. Muhammad Prama Yudi mengatakan, florikultura terbukti berpotensi besar memberikan pemasukan bagi negara.

Selama tiga tahun terakhir kerja sama dengan Jepang, Indonesia mendapat royalti Rp2 miliar—Rp3 miliar dari penjualan produk sunpatiens oleh Sakata Seed Corporation. Itu juga membuktikan bahwa pasar menerima kehadiran pacar baru. (Dewi Pramanik, peneliti di Balai Penelitian Tanaman Hias, Cianjur, Jawa Barat)

Sumber : t r u b u s – o n l i n e . c o . i d