Sumpit bambu efektif cetak gubal

Sumpit bambu efektif cetak gubal

Inokulasi dengan potongan bambu menghasilkan 2—4 kg gubal kualitas AB dalam 1,5 tahun.

Budi Hasibuan menuai 2—4 kg gubal kualitas AB dari sebuah pohon berdiameter 20—25 cm. Pada akhir 2014 itu Budi panen total 10 pohon gaharu berumur 5—7 tahun setinggi 10 meter. Itu hasil inokulasi 1,5 tahun sebelumnya. Dengan harga gubal kualitas AB saat itu mencapai Rp7,5-juta per kg, omzetnya Rp225-juta. Wajar kalau pekebun gaharu di Kabupaten Rokanhulu, Provinsi Riau, itu tersenyum puas.

Maklum, dalam panen tahun sebelumnya—2013—penghasilannya tidak sebanyak itu. Ia sama sekali tidak memperoleh gubal. Dari sepohon gaharu berumur 7 tahun, lelaki kelahiran 17 Juni 1971 itu memanen 26 kg kemedangan. Dengan harga di tingkat pekebun Rp500.000—Rp750.000 per kg, ia hanya memperoleh Rp150,6-juta. “Rasanya tidak sebanding dengan penantian 1,5 tahun setelah menginokulasi,” ujar Budi.

Budi Hasibuan peroleh 2—4 kg gubal per pohon

Budi Hasibuan peroleh 2—4 kg gubal per pohon

Sumpit bambu
Rahasia Budi mengubah peruntungannya terbilang sederhana. Pemilik plaza gaharu itu menancapkan sumpit bambu sedalam 5—7 cm ke dalam batang pohon. “Yang penting kena hati pohon atau empulurnya,” kata Budi. Budi menancapkan bambu khusus yang mengandung beragam bakteri, antara lain Trichoderma sp dan Penicillium sp yang menginfeksi pohon.

Menurut Budi ketika terjadi infeksi, tanaman membentuk gubal untuk mempertahankan diri. Pria 44 tahun itu membuat 200 lubang sedalam 5—7 cm berjarak 15—30 cm antarlubang di pohon berumur 7 tahun. Berikutnya ia menancapkan sumpit sepanjang 21 cm ke dalam lubang. Setelah masuk seperempat bagian, sumpit ia patahkan lalu sisanya ia tancapkan ke lubang lain.

Dengan cara itu sebatang sumpit bisa mengisi 3—4 lubang, tergantung kedalamannya. Jika hujan turun, ia menghentikan inokulasi karena mikrob bisa terbawa air hujan. Sebelum menggunakan sumpit, Budi menginokulasi dengan menyuntikkan larutan mikrob. Pengalamannya, 2 petugas yang bekerja dari pukul 07.00—17.00 dan istirahat satu jam menyelesaikan 3 pohon.

Gaharu kualitas AB laku Rp7,5-juta per kg

Gaharu kualitas AB laku Rp7,5-juta per kg

Biaya 2 petugas dalam sehari mencapai Rp250.000. Sementara inokulasi dengan sumpit bambu yang ia lakukan pada 2013, dengan jumlah tenaga dan waktu kerja yang sama bisa menyelesaikan 6 pohon. Artinya Budi juga menghemat Rp250.000. “Inokulasi cair lebih lama lantaran pekerja khawatir menumpahkan larutan mikrob,” ujarnya. Itu sebabnya ia meninggalkan cara konvensional dengan mengebor pohon lalu menyuntikkan cairan cendawan.

Baca juga:  Kopi untuk Mahkota Pria

Selang 1,5 tahun, setiap lubang menghasilkan 10—20 g gubal sehingga Budi memperoleh 2—4 kg dari 200 lubang. Budi mendapat informasi teknologi itu dari pekebun gaharu di Thailand. Ia berjumpa dengan pekebun itu ketika menghadiri lokakarya gaharu tingkat ASEAN di Bali pada 2012. Sejak itu ia mempelajari teknik bambu dengan bolak balik Thailand—Pekanbaru hingga 2 kali setiap bulan.

Meragukan
Menurut pehobi catur itu, harga bambu stik yang dia impor dari Thailand Rp500.000 berisi 100 sumpit. Panjang sumpit 21 cm dan bisa untuk menginokulasi 2 pohon berumur sekitar 7 tahun. “Semakin tua umur pohon, kebutuhan bambu semakin banyak,” ujarnya. Muhammad Nasir juga membuktikan keberhasilan teknik inokulasi sumpit bambu. Pada Oktober 2014, pekebun gaharu di Provinsi Riau itu baru memanen 2 pohon berumur sekitar 10 tahun berdiameter 25—30 cm.

Nasir memperoleh 4 kg gubal kualitas AB per pohon. Dengan harga gubal Rp8-juta per kg, pria kelahiran 1969 itu memperoleh pendapatan Rp48-juta. “Menurut pembeli, mereka menyukai gubal saya karena lebih wangi dibandingkan gaharu dari pekebun lain,” ujar pria 46 tahun itu. Namun, ahli gaharu dari Pusat Penelitian Hutan dan Konservasi Alam, Dr Erdy Santoso meragukan teknik itu.

Dr Erdy Santoso, “Dengan teknik bambu, peluang menghasilkan gubal atau kemedangan tetap ada, tetapi sedikit dan perlu riset lebih jauh di Indonesia,”

Dr Erdy Santoso, “Dengan teknik bambu, peluang menghasilkan gubal atau kemedangan tetap ada, tetapi sedikit dan perlu riset lebih jauh di Indonesia,”

Menurut Santoso dengan menancapkan bambu ke dalam lubang pohon malah akan menghambat pernapasan bakteri. “Bakteri membutuhkan oksigen. Ketika ruang gerak sempit pernapasan bakteri terganggu sehingga perkembangbiakannya terhambat. Namun, menurut Erdy peluang menghasilkan gubal atau kemedangan tetap ada, hanya jumlahnya sedikit dan memerlukan riset lebih jauh di Indonesia.”

Praktikus gaharu di Provinsi Bengkulu, Ir Joni Surya Djakfar, menuturkan hal berbeda. Menurut Joni mengganjal lubang bekas bor dengan plat besi, paku, atau pun bambu lebih baik dibanding lubang yang hanya diisi cairan inokulan. Pengganjalan pada lubang bekas bor meningkatkan produksi gubal, sementara pada teknik suntik atau cairan ada peluang lubang bor yang terinokulasi sembuh dan tertutup kembali.

Baca juga:  Rawat Daun Mutasi

“Akibatnya pekebun tidak bisa memanen gubal, hanya kemedangan saja,” ujar ketua Kelompok Tani Gaharu 88 itu. Penggunaan bambu juga lebih aman dibandingkan pelat besi atau paku. Pasalnya, ketika panen, pelat besi atau paku dapat merusak parang. Selain itu, pemotongan pelat atau paku besi juga lebih sulit sehingga waktu pemanenan lebih lama. Penggunaan bambu sebagai media inokulan gaharu tak hanya memberikan keuntungan, tetapi juga kemudahan budidaya kayu mahal itu. (Bondan Setyawan)

545_ 143

Sumber : t r u b u s – o n l i n e . c o . i d