Gurami dan lele mengandung albumin tinggi.

Ikan gabus dikenal sebagai penyembuh luka, penghilang rasa sakit, antidepresi, dan penyakit degeneratif saraf.

Ikan gabus dikenal sebagai penyembuh luka, penghilang rasa sakit, antidepresi, dan penyakit degeneratif saraf.

Ekstrak ikan gabus sohor sebagai sumber albumin yang baik untuk kesehatan. Secara tradisional, ikan gabus dikenal sebagai penyembuh luka dan penghilang rasa sakit. Penelitian membuktikan bahwa ekstrak air ikan gabus memiliki aktivitas proteksi terhadap alat pencernaan. Pada pengujian in vivo (pada mencit) ekstrak ikan gabus memiliki aktivitas antitukak lambung, berpotensi sebagai antihipertensi, antidepresi, penyakit degeneratif saraf, serta segudang khasiat lain. Karena itu, berbagai produk ekstrak ikan gabus kaya albumin telah dipasarkan di Indonesia saat ini.

Ekstrak ikan gabus yang mengandung fish serum albumin (FSA) menjadi produk kesehatan yang dikonsumsi pasien beberapa rumah sakit. Ekstrak ikan gabus digunakan sebagai pendamping pengobatan untuk mempercepat penyembuhan luka. Ia juga dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhan albumin pada pasien hipoalbumin. Namun, ketersediaan ikan gabus di alam semakin menipis.

Gurami

Ikan gurami memiliki kadar albumin tinggi.

Ikan gurami memiliki kadar albumin tinggi.

Indikasinya kurangnya pasokan bahan baku yang diperlukan produsen. Maklum, ketersediaan ikan gabus banyak mengandalkan tangkapan alam. Meski ada yang membudidayakan, tingkat keberhasilannya masih rendah. Sebab, proses reproduksi ikan gabus bergantung pada daya ekofisiologinya terhadap beberapa faktor lingkungan yang spesifik. Misalnya saja faktor perubahan ketinggian dan kimia fisika air.

Selain itu, penyediaan pakan juga menjadi tantangan budidaya. Apalagi ikan gabus lebih menyukai pakan alami di alam. Beragam faktor itu mempengaruhi budidaya ikan gabus dan menjadi kendala bagi produksi nutraseutikal FSA yang berkesinambungan. Beberapa ikan air tawar juga memiliki albumin yang tidak kalah tinggi dengan gabus. Periset meneliti 17 jenis ikan air tawar, dari ordo Perciformes, Anguilliformes, Cypriniformes, Osteoglossiformes, dan Siluriformes. Ikan laut sebanyak 17 jenis juga telah dilihat potensi kandungan albuminnya.

Baca juga:  Pekan Ilmiah Mahasiswa Nasional

Beberapa spesies ikan air tawar yang dianalisa di antaranya toman, mujair, nila, tambakan, gurami, sidat, tawes, mas, torsoro, belida, lele, dan patin. Ikan-ikan itu diperoleh dari Kabupaten Bogor dan Kabupaten Cianjur, keduanya di Provinsi Jawa Barat. Sebagai pembanding digunakan ikan gabus. Setiap jenis ikan diambil 3—10 ekor secara acak dengan bobot tubuh 150—500 gram.

Sebanyak 25 gram daging ikan dilarutkan dalam 75 ml akuades dan dihomogenisasi menggunakan ultra turaxhomogeniser. Larutan ekstrak protein ikan itu dipreservasi dalam nitrogen cair. Lalu, analisis albumin dilakukan di laboratorium. Hasilnya, beberapa ikan air tawar memiliki kadar FSA hampir sama dan lebih besar daripada ikan gabus. Kadar albumin paling tinggi terdapat pada gurami 215,57 mg per g.

Sementara ikan tambakan memiliki albumin 118,13 mg per g, torsoro 102,67 mg per g, dan lele 103,37 mg per g. Bandingkan dengan gabus yang memiliki kadar albumin 107,28 mg per g. Tingginya kadar albumin pada ikan gurami sebanding dengan kandungan total proteinnya, 18,71—20,67%. Dengan demikian gurami tergolong ikan berkadar protein tinggi. Keberadaan FSA yang lebih tinggi ikan gurami diduga memiliki peran fisologis, terkait fungsinya dalam tubuh sebagai transpor protein dalam plasma.

Alternatif sumber albumin dari 17 ikan laut yang biasa dikonsumsi juga diteliti. Beberapa di antaranya ikan selar kuning, kuwe, sunglir, lemadang, lencam, gobi, kakap dan kakap-kakapan, petek, biji nangka, tenggiri, mackerel, kerapu, barakuda, dan layur. Dari ikan-ikan itu, ikan kuwe dan tenggiri memiliki albumin paling tinggi, meskipun masih lebih rendah dari ikan gabus.

Baca juga:  Benteng Ketika Hujan

Albumin ikan (FSA) merupakan jenis protein penting dalam sistem metabolisme ikan. FSA berfungsi membantu transportasi metabolit tubuh (asam lemak, hormon, dan bilirubin). Fungsi lain, mengatur sistem regulasi tekanan osmotik koloid darah dan proses osmoregulasi pada tubuh ikan. FSA juga sebagai penyaring cairan dalam jaringan tubuh. FSA memiliki ciri khas mirip dengan albumin manusia atau disebut human serum albumin (HSA).

Albumin pada ikan (dalam plasma atau serum) merupakan alat diagnosa yang menggambarkan kesehatan ikan, fungsi hati, status metabolisme dan kondisi stres. FSA dalam plasma ikan telah dikonfirmasi berdasarkan massa molekul, sifat pengikatan asam lemak, dan mobilitas elektroforesis. Berdasarkan massanya, FSA dalam plasma pada jenis ikan Agnatha (tidak berahang), Elasmobarnchii (bertulang rawan seperti hiu dan pari), serta Teleostei (bertulang sejati seperti gurami dan lele) memiliki bobot molekul mirip serum albumin manusia (68–70 kDa).

Asam amino

Ikan Tinggi Albumin

Ikan Tinggi Albumin

Selain FSA dalam riset itu juga dilakukan pengujian profil asam amino. Pengujian dibatasi hanya dua jenis ikan berkadar FSA tinggi, yakni gurami dan gabus (sebagai pembanding). Hasilnya, asam amino dalam ekstrak air ikan gabus memiliki komposisi lebih beragam dengan konsentasi yang lebih tinggi dari ekstrak air ikan gurami. Ikan gabus memiliki asam amino esensial dan nonesensial lebih tinggi. Asam amino esensial yang dominan pada ikan gabus adalah leusin, lisin, dan fenilalanin. Adapun asam amino nonesensial yang dominan adalah alanine, glisin, prolin, dan asam aspartat.

Keberadaan asam amino yang lebih tinggi dalam ekstrak air ikan gabus dibanding dengan ekstrak air ikan gurami menunjukkan potensinya sebagai produk hidrolisat protein. Asam amino memiliki fungsi bioaktif penting. Asam amino esensial seperti lisin dan leusin berperan dalam kontrol kolesterol, membantu perbaikan jaringan tubuh, dan transduksi sinyal intraseluler. Asam amino nonesensial seperti glisin berperan dalam penyembuhan luka, pertumbuhan jaringan baru, pengurangan rasa nyeri, dan sebagai neurotransmiter pada simpul saraf.

Baca juga:  Kefir dan Kesehatan

Tingginya asam amino dan rendahnya kadar FSA pada ikan gabus mengindikasikan keberadaan protein-protein jenis lain (selain FSA) yang lebih tinggi dibanding dengan ekstrak air ikan gurami. Kandungan asam amino yang lebih rendah dan kadar FSA yang lebih tinggi dalam ekstrak air ikan gurami menunjukkan FSA dalam ekstrak air ikan gurami lebih murni dibanding dengan ekstrak air yang bersumber dari ikan gabus. Oleh karena itu gurami berpotensi tinggi untuk dikembangkan sebagai bahan baku alternatif produksi nutraseutikal berbasis FSA. (Prof. Dr. Ekowati Chasanah, Peneliti di Pusat Unggulan Iptek Bahan Aktif Laut Balai Besar Riset Pengolahan Produk dan Bioteknologi Kelautan dan Perikanan)

Sumber : t r u b u s – o n l i n e . c o . i d