Industri rutin membutuhkan katuk sehingga mendorong petani untuk membudidayakannya.

Pekebun menanam katuk secara intensif untuk memenuhi kebutuhan pasar.

Pekebun menanam katuk secara intensif untuk memenuhi kebutuhan pasar.

Dwi Reviani menyantap makan siangnya. Sejak bersalin, menu wajib yang tersaji di meja makan adalah sayuran katuk. Setiap usai menyendok nasi, ia buru-buru menambahkan 2 sendok sayuran Sauropus androgynus ke mulutnya. Ia melakukan hal itu untuk memperlancar produksi air susu ibu (ASI) demi kebutuhan putri pertamanya. Semula perempuan yang melahirkan pertama kali pada usia 27 tahun itu hanya sedikit mengeluarkan ASI.

Akibatnya putri Dwi kerap menangis lantaran belum kenyang menyusu. Setelah sang suami membuatkan sayur daun katuk setiap hari untuk Dwi, problem teratasi. Bayinya puas menyusu sampai tertidur pulas. Daun katuk selama ini memang sohor untuk meningkatkan produksi air susu ibu. Masyarakat kian menyadari pentingnya air susu bagi perkembangan kecerdasan dan kesehatan bayi.

Peluang budidaya
Menurut dosen Program Studi Agroteknologi, Fakultas Pertanian, Universitas Trilogi, Jakarta Selatan, Henny Agustin SP MSi, katuk merupakan tanaman indigenous yang memiliki beragam manfaaat, seperti antikanker dan antioksidan. Katuk juga menjadi andalan ibu menyusui untuk merangsang produksi air susu ibu. Sayang, keberadaan katuk di pasaran masih sangat sedikit.

Iwan Rustiawan di Sukabumi, Jawa Barat, berkebun katuk sejak 2010.

Iwan Rustiawan di Sukabumi, Jawa Barat, berkebun katuk sejak 2010.

“Oleh sebab itu katuk berpeluang besar untuk dikebunkan dalam skala komersial sangat. Apalagi katuk cocok ditanam di segala lokasi budidaya,” tuturnya. Bagi pabrikan atau industri pengolah, daun katuk komoditas vital agar bisa berproduksi sepanjang tahun. Menurut direktur PT Phytchemindo Reksa—produsen herbal dan ekstrak bahan alam di Bogor—Patrick Kalona, “Musim kemarau pasokan dari kebun minim sehingga kami menyimpan stok untuk setahun dalam bentuk sediaan kering.” kata Patrick.

Baca juga:  Ekonomi Burung

Pabriknya meluncurkan produk daun katuk 7 tahun silam dan kini membutuhkan pasokan minimal 10 ton daun kering per bulan. Bagi pekebun kebutuhan pabrikan itu peluang besar. Bambang Ismail, misalnya, rutin menjual 2,4 ton daun katuk hasil panen dari kebunnya. Pekebun di Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat, itu memperoleh pendapatan Rp4,8-juta per bulan dari perniagaan katuk. Bambang mengebunkan katuk di lahan 3.000 m² sejak 2013.

Ia menjual daun katuk ke pengepul lokal dengan harga Rp2.000—Rp6.500 per kilogram. Menurut Bambang, meski menjual dengan harga terendah, ia tetap untung. Pasalnya, untuk membudidayakan katuk relatif mudah. Penanaman cukup sekali. Sebagai sumber nutrisi ia hanya memberikan pupuk kandang, NPK, dan ZA setiap kali usai panen (lihat ilustrasi: Sekali Tanam Panen Berulang). Bambang panen perdana katuk saat tanaman berumur 2,5 bulan. Pada panen perdana itu ia memperoleh 900 kg daun katuk segar.

Panen berulang
Panen selanjutnya berlangsung setiap bulan. Pada panen ke-2 dan ke-3, Bambang memanen daun katuk masing-masing 1,5 ton dan 1,8 ton. Sementara pada panen ke-4 dan seterusnya, ia memetik 2,4 ton katuk segar. Dengan harga jual terendah Bambang memperoleh pendapatan Rp4,8-juta setiap bulan. “Pendapatan dari berkebun katuk seperti mendapat gaji setiap bulan,” ujar pria 37 tahun itu.

Ilustrasi: Bahrudin

Ilustrasi: Bahrudin

Menurut Bambang ia tak kesulitan menjual hasil panen. “Berapa pun hasil panen pasti terjual. Ada pengepul lokal yang siap menampung,” tuturnya. Di Sukabumi ada Iwan Ruswandi yang juga mengebunkan katuk di lahan bekas sawah. “Berkebun katuk lebih mudah dibandingkan dengan menanam padi dan sayuran,” ujarnya. Pada 2010 ia menanam katuk di sepetak tanah berukuran 50 m² yang berlokasi tak jauh dari rumahnya.

Bambang Ismail berkebun katuk secara intensif di lahan 3.000 m².

Bambang Ismail berkebun katuk secara intensif di lahan 3.000 m².

Tak disangka banyak pengepul yang berebut membeli hasil panen. Alhasil, Iwan memperoleh harga jual lebih tinggi, yakni Rp5.000—Rp7.000 per kilogram. Menurut Iwan para pengepul membutuhkan pasokan daun katuk hingga 30 kg per hari. Sejak itu ia pun mantap berkebun katuk. Pria 34 tahun itu lalu memperluas areal tanam katuk menjadi 700 m². Dari lahan itu Iwan memanen 400 kg katuk segar setiap bulan.

Baca juga:  Rumput Gajah Cegah Gulma

Dengan harga jual terendah Rp5.000 per kilogram, ia memperoleh pendapatan Rp2-juta setiap bulan. Iwan menuturkan hingga saat ini kebutuhan katuk segar di pasar lokal masih tinggi. “Permintaan katuk di Sukabumi bahkan mencapai 6 kuintal per hari,” ujarnya. Sejumlah pabrik herbal pun menghendaki pasokan katuk, terutama katuk kering. Bambang menerima permintaan rutin 1 ton daun katuk kering pada 2016.

Namun, ia belum sanggup memenuhi permintaan dari berbagai kota seperti Sidoarjo, Jawa Timur, Bogor (Jawa Barat), dan Yogyakarta. Sebab, kapasitas produksi masih sedikit. Padahal, harga yang ditawarkan tinggi, yakni Rp20.000—Rp30.000 per kilogram. Bambang menuturkan untuk memperoleh 1 ton daun katuk kering membutuhkan 3 ton daun katuk segar. (Andari Titisari)

Sumber : t r u b u s – o n l i n e . c o . i d