Mamey sapote tergolong tanaman bergetah sehingga sulit diperbanyak secara vegetatif

Mamey sapote tergolong tanaman bergetah sehingga sulit diperbanyak secara vegetatif

Kombinasi cangkok dan sambung susu tingkatkan keberhasilan perbanyakan hingga 70%.

“Memperbanyak mamey sapote itu tak semudah tanaman buah lain,” kata Eddy Soesanto. Penangkar buah di Parung, Bogor, itu berulang-ulang gagal memperbanyak Pouteria sapota lantaran belum menemukan teknik yang tepat. Sejak mengoleksi mamey sapote pada 2010, ia berusaha menangkarkan tanaman kerabat sawo itu dengan cangkok atau sambung susu. Sayang, tingkat keberhasilan kedua cara itu hanya 20%.

Ia menuturkan perbanyakan dengan cangkok menghasilkan bibit berdaya adaptasi rendah di lahan. “Umumnya, bibit cangkokan layu atau akarnya putus karena tertiup angin,” katanya. Pada percobaan pertama dan kedua mencangkok mamey sapote pada pohon induk berumur 20 tahun, semua bibit mati. Eddy tak patah arang. Pada percobaan ketiga barulah ia menuai hasil. “Tiga dari enam cangkokan mampu bertahan hidup,” katanya.

Sambung susu
Meski berhasil memperoleh bibit sehat dari cangkok, Eddy belum puas. “Saya ingin mencari teknik perbanyakan yang memiliki tingkat keberhasilan tinggi,” katanya. Ia pun menjajal sambung susu. Pemilik nurseri Tebuwulung itu memanfaatkan batang bawah dari beberapa jenis sawo seperti sawo manila, sawo kecik, dan sawo apel. Sayang, semuanya gagal. “Meski mereka satu keluarga dengan mamey, tetapi memiliki karakter berbeda sehingga tidak cocok,” katanya. Ia lantas mencoba alkesa Pouteria campechiana. Alasannya, tanaman langka itu berkerabat sangat dekat dengan sawo brasil itu. Namun, ternyata cara itu juga tidak efektif.

Menurut Prakoso Heryono, penangkar buah di Demak, Jawa Tengah, perbanyakan mamey dengan sambung susu memang sulit lantaran harus menemukan batang bawah yang tepat. Cara terbaik agar sambung susu mamey berhasil yakni menggunakan batang bawah dari mamey juga. “Namun, memperoleh batang bawah mamey cukup sulit sebab masih terbatas,” ujar Prakoso.
Menurut ahli fisiologi tumbuhan dari Fakultas Kehutanan, Institut Pertanian Bogor, Ir Edhi Sandra MSi, memperbanyak tanaman keluarga sawo secara vegetatif memang sulit. Musababnya, tanaman itu bergetah dan lambat tumbuh. Akibatnya, bila tanaman dicangkok maka akar baru sulit terbentuk, sedangkan bila disambung pembentukan kalus gagal.

Teknik ganda meningkatkan keberhasilan perbanyakan mamey sapote,” kata Eddy Soesanto

Teknik ganda meningkatkan keberhasilan perbanyakan mamey sapote,” kata Eddy Soesanto

Teknik ganda
Untuk meningkatkan peluang hidup bibit, alumnus Desain Interior Institut Seni Indonesia, itu memadukan cangkok dan sambung susu. Ia memilih batang berwarna kecokelatan untuk dicangkok. “Tahapannya sama persis dengan mencangkok biasa,” katanya.
Ia menyayat batang sepanjang 5 cm, menutupnya dengan media tanah, membungkus dengan plastik, lalu mengikatnya erat dengan tali rafia.

Baca juga:  Tinggi Lemak Terus Langsing

Di atas cangkokan, Eddy menyayat kembali batang itu. Panjang sayatan menyesuaikan ukuran batang bawah. Ia tetap menggunakan batang bawah dari alkesa hasil perbanyakan biji yang ditanam dalam polibag. Eddy memangkas miring batang bawah menggunakan pisau tajam pada ketinggian 15—20 cm dari pangkal batang sepanjang 3 cm.

Eddy lantas menempelkan batang bawah pada bekas sayatan batang atas dan mengikatnya menggunakan plastik bening. Ia memastikan ikatan erat sebab bila bergeser sambungan bisa gagal. Berikutnya, ia mengikat polibag batang bawah dengan cangkokan supaya ajek. “Usahakan posisi polibag sejajar dengan cangkokan,” katanya.

Selang 5 bulan calon bibit itu pun siap diturunkan. Eddy memotong di bawah cangkokan. Dengan cara itu keberhasilan bibit mencapai 70%. “Keuntungan menggunakan teknik ganda adalah meski batang bawah yang digunakan tidak cocok, bibit masih bertahan hidup karena batang cangkokan sudah berakar,” kata Eddy. Enam bulan pascapemotongan, batang bawah alkesa pun akan mati. Sejak setahun terakhir, Eddy sudah menerapkan teknik ganda. Ia sudah menghasilkan 48 bibit hasil teknik ganda dari 55 batang yang diperlakukan.

Edhi Sandra menuturkan duduk perkara keberhasilan teknik ganda itu ada pada ketersediaan makanan untuk calon bibit. “Ketika mamey dicangkok maka tidak ada pasokan makanan dari ujung batang untuk mensuplai kemunculan akar sebab tanaman bergetah,” katanya. Nah, dengan menyelipkan batang bawah alkesa tepat di atas cangkokan maka ketersediaan hara untuk merangsang munculnya akar pada cangkokan tetap terjaga sehingga bibit pun bertahan hidup. (Andari Titisari)

536_ 131

Sumber : t r u b u s – o n l i n e . c o . i d