Jenmanii kobra batik, salah satu anthurium semaian dataran rendah di Sawangan, Kota Depok, Provinsi Jawa Barat.

Jenmanii kobra batik, salah satu anthurium semaian dataran rendah di Sawangan, Kota Depok, Provinsi Jawa Barat.

Mitos benih anthurium tak bisa berkecambah di dataran rendah kini terpatahkan.

Biji-biji dalam tongkol buah anthurium jenmanii koleksi Paul Makarello mulai membesar. Pehobi di Sawangan, Kota Depok, Provinsi Jawa Barat, itu harus segera menjual tanaman hias daun itu. Menurut Paul itulah satu-satunya tindakan untuk menyelamatkan nilai ekonomisnya. Mempertahankan biji matang dan menyemainya untuk perbanyakan, hanya membuang waktu.

Banyak pehobi percaya bahwa anthurium tidak mungkin diperbanyak melalui penyemaian biji di dataran rendah seperti Depok dan Jakarta. Itulah sebabnya Paul ingin menjual semua tanaman yang berbunga kepada para pehobi di dataran tinggi. Biarlah mereka yang menyemai biji. Setelah bibit tumbuh dan muncul daun, pehobi dari Jakarta dan sekitarnya umumnya membeli lagi untuk pembesaran.

Tanaman dewasa
Paul mematahkan anggapan itu dan sukses memperbanyak anthurium lewat biji di dataran rendah. “Semua menjadi bagian dari pengalaman. Kini tidak ada tanaman dewasa yang harus keluar daerah Sawangan dengan alasan kekhawatiran tidak bisa diperbanyak,” ujarnya. Semula Paul menyemai biji anthurium hookeri di media kapas basah. Ayah 2 anak itu meletakkan 24 biji anthurium di kapas berukuran 7 cm x 13 cm.

Media penyemaian berupa kapas basah dalam plastik ampuh mendobrak dormansi biji anthurium.

Media penyemaian berupa kapas basah dalam plastik ampuh mendobrak dormansi biji anthurium.

Selanjutnya, Paul meletakkan media itu di dalam plastik tertutup rapat. Ia membuka kantong plastik ketika hendak menyiram media tanam 3 hari sekali untuk mencegah kekeringan. Penyemaian benih di tempat teduh atau terpapar sekitar 25% sinar matahari pada siang hari. Tujuannya untuk menjaga kelembapan media selama perlakuan atau 30 hari. Uji coba itu berhasil. Biji pecah dan muncul bakal tanaman setelah melewati 30 hari.

Namun, ia belum puas. Sebab, hookeri termasuk jenis yang mudah tumbuh di berbagai lingkungan geografis. Ia tertantang untuk menyemai biji jenmanii. Menurut pehobi anthurium dari Kota Salatiga, Jawa Tengah, Eddy Pranoto, jenmanii sulit diperbanyak di luar dataran tinggi. Selama ini, hanya petani anthurim dataran tinggi seperti Karanganyar, Jawa Tengah, Malang (Jawa Timur), dan Lembang (Jawa Barat) yang berhasil memperbanyak jenmanii dengan biji.

Baca juga:  Hyacinth Hiasi Halaman

Paul menyemai jenmanii dengan teknik yang sama dengan hookeri. Namun, betapa masygulnya Paul, biji tetap utuh dan kecambah tidak muncul setelah sebulan. Setelah melewati berbagai perubahan perlakuan, barulah pada bulan ke-4 penyemaiannya berhasil. “Tak terbayangkan gembiranya ketika menyaksikan biji telah pecah pada hari ke-35. Tunas kecil mulai muncul dari sela-sela rekahan itu,” ujar Paul semringah.

Penggunaan jaring berlapis untuk membuat iklim mikro mendekati kondisi dataran tinggi yang lembap dan sejuk.

Penggunaan jaring berlapis untuk membuat iklim mikro mendekati kondisi dataran tinggi yang lembap dan sejuk.

Selama penyemaian, ia hanya memakai air tanpa tambahan zat perangsang tumbuh tanaman. Menurut Paul beberapa syarat supaya penyemaian berhasil, biji berasal dari tanaman dewasa. Itu terkait dengan ketersediaan zat-zat yang dibutuhkan untuk pertumbuhan biji menjadi tanaman baru. Menurut rekan Paul, Supriyadi, anthurium di dataran rendah mencapai masa dewasa pada umur 4 tahun, sedangkan di dataran tinggi pada umur 3 tahun.

Cepat semai
Supriyadi mengatakan warna tongkol buah anthurium berbeda tergantung jenisnya. Jenis hookeri buahnya berwarna jingga dan jenmanii warnanya ungu. Biji matang yang segar ditandai dengan bentuk yang berisi dan gembung (beruas), sedangkan yang tua kulitnya kisut. Paul menyarankan penyemaian biji matang dari tongkol harus secepatnya. Makin cepat penyemaian, kian baik dan kemungkinan kegagalan makin kecil.

Namun, bila kondisi tidak memungkinkan, biji dapat disimpan hingga 3 bulan dengan perlakuan khusus. Paul meletakkan biji berkecambah itu dalam wadah dan media baru. Sebuah kotak stirofoam 30 cm x 40 cm untuk wadah diisi media tanam berupa campuran pakis, sekam bakar, dan serbuk sabut kelapa atau cocopeat. Perbandingannya 60% : 20% : 20%. Tanam biji yang berkecambah itu di media. Benamkan benih di kedalaman 1 cm.

Itu untuk mencegah rusaknya daun saat tumbuh menembus media tanam. Calon tanaman anthurium itu memerlukan perhatian ekstra. “Saya menyemprot air dengan sprayer setiap hari untuk menjaga kelembapan media. Cukup sampai terlihat basah, jangan sampai ada air menggenang,” ujar Paul. Sebulan kemudian daun mulai muncul, tanaman siap pindah secara soliter ke pot atau polibag saat berumur 2,5—3 bulan atau memiliki 3 daun.

Baca juga:  Alokasia Macet Daun

Keberhasilan Paul itu cepat menyebar ke anggota komunitas anthurium di Jakarta dan sekitarnya seperti James Pranatyo. Mereka mengikuti jejak Paul untuk menyemai benih. James berhasil menyemai jenmanii di rumahnya dan kini berusaha menghasilkan tongkol buah berisi ratusan biji sebagai aset berharga perbanyakan anakan.

Paul Makarello (paling kiri), Supriyadi (ke-2 dari kiri), dan anggota komunitas pencinta anthurium Kampoeng Belang, membuktikan anthurium jenmanii dapat disemai di dataran rendah.

Paul Makarello (paling kiri), Supriyadi (ke-2 dari kiri), dan anggota komunitas pencinta anthurium Kampoeng Belang, membuktikan anthurium jenmanii dapat disemai di dataran rendah.

Kelembapan udara
Saat anthurium berpindah di pot, maka masa paling kritis dalam proses penyemaian terlewati. Menurut Paul pehobi yang menyemai benih harus membuat lingkungan atau iklim mikro yang sesuai dengan habitat asli anthurium. “Kelembapan yang tinggi hal pokok yang dibutuhkan tanaman. Perlu modifikasi khusus untuk membuat suasana dataran rendah menjadi mendekati iklim dataran tinggi,” kata Paul.

Pemilik Bogana Pot Plants itu membuat greenhouse dengan pemberian naungan ganda menggunakan jaring dan meloloskan sinar matahari 50%. Sementara itu, lantainya tidak seluruhnya ditutup paving block. Ia membuat area berisi pecahan batu bata merah di bawah rak penyimpanan bibit yang sering disiram air untuk menurunkan suhu. Suhu dalam greenhouse terjaga sekitar 26°C.

Menjaga lingkungan atau iklim mikro bagi anthurium di dataran rendah itu berlaku sampai tanaman tumbuh dewasa. Supriyadi menggunakan bermacam cara untuk mencapai kondisi optimal, di antaranya membuat kolam di bawah rak pot tanaman dan menggunakan kipas angin. “Kolam di bawah pot anthurium sangat membantu menjaga kestabilan kelembapan udara di dalam green house,” kata Supriyadi.

Air dalam kolam berukuran 2 m x 4 m itu terus bergerak dengan bantuan pompa untuk memasukkan air dan keluar melalui saluran drainase. Dengan demikian, terhindar dari berkembangnya jentik nyamuk dan organisme pengganggu tanaman. Kipas angin berfungsi memelihara kelancaran sirkulasi udara di dalamnya. Supriyadi dan Paul menghindari penggunaan pupuk untuk memacu pertumbuhan tanaman. Mereka membuat tanaman tumbuh sealami mungkin. (Muhammad Hernawan Nugroho)

Sumber : t r u b u s – o n l i n e . c o . i d