Sugianto Limanto: Burung Cinta Sumber Rupiah 1
580-H020-1

Sugianto Limanto terbang ke Jerman dan Belanda demi belajar penangkaran lovebird.

Meski permintaan lovebird amat banyak, Sugianto Limanto membatasi diri untuk menghasilkan 70 ekor per bulan demi menjaga mutu.

Ruangan itu hanya seluas lapangan bola voli. Di sanalah penangkar di Surabaya, Jawa Timur, Sugianto Limanto, memelihara 250 lovebird. Warnanya beragam, antara lain biru, hijau, parblue, violet, dan ewing . Perbandingan pejantan dan betina 1:3. Seekor induk betina menghasilkan 4—6 telur dalam sekali produksi. Setelah mengerami selama 24 hari telur-telur itu menetas. Dari beragam indukan itu Sugianto menghasilkan 60—70 anakan per bulan.

Penangkar lovebird sejak 2013 itu menjual anakan berumur 2,5—3,5  bulan. Harganya bervariasi, dari jutaan rupiah hingga ratusan juta rupiah per ekor tergantung kualitas. Anakan berkualitas kontes tentu lebih mahal. Cirinya tubuh proporsional dan aktif. Menurut Sugianto hanya 80% bermutu kontes. Ia memasarkan burung itu ke para pehobi dan penangkar. Sejatinya permintaan burung lovebird cukup besar. “Saya tidak mau memproduksi di atas 70 ekor per bulan karena saya akan kewalahan mengurusnya. Kalau dipaksakan nanti akan menurunkan kualitas,” ujar Sugianto.

Pehobi inden

Sugianto juga menghasilkan lovebird mutasi warna berkualitas. Ia mulai menangkarkan lovebird pada 2013. Hasil tangkarannya terbukti berkualitas dengan menjuarai kontes bergengsi. Ketika kontes lovebird Indonesia (KLI) IV di Surakarta, Jawa Tengah, pada 2016, misalnya. Koleksi Sugianto Limanto, lovebird jenis fischeri warna hijau standar atau josan itu mengalahkan lovebird warna unggulan seperti parblue dan biola. “Burung saya waktu itu unggul di badan yang besar dan proporsional di setiap bagian. Ditambah lincah dan aktif,” ujar Sugianto.

Pada 2017 tangkarannya meraih juara ke-1 tingkat nasional kelas wild type pada KLI V, di Tangerang, Provinsi Banten. Kunci sukses berbisnis lovebird mutasi warna menurut Sugianto hanya ada dua yaitu indukan yang bagus dan perawatan yang intensif. “Kalau genetika sudah salah, mau dirawat seintensif apa pun hasilnya tidak maksimal. Karena tidak ada ceritanya burung kecil mempunyai keturunan besar,” ujarnya.

Baca juga:  Cetak Lovebird Biola

Lelaki yang 8 tahun tinggal di Jerman itu memanfaatkan indukan berumur minimal 12 bulan untuk pejantan dan betina. Syarat lain indukan harus sehat, genetika jelas, tubuh besar, dan proporsional. Dengan standar itulah Sugianto “membidani” lahirnya lovebird-lovebird berkualitas.

“Para konsumen sampai inden,” ujarnya. Misalnya pada 2017, ketika ia mengunggah foto piyik lovebird warna pale fallow violet di akun media sosial, sepuluh penangkar lovebird langsung mengantre untuk mendapatkannya. Padahal, Sugianto membanderol Rp50 juta lebih. “Mereka minat karena kualitas bagus plus masa depan juga bagus, karena jenis pale fellow masih langka dan yang berkualitas masih jarang,” ujarnya.

Indukan burung itu berupa dua ekor pale fellow violet dari Belanda dan Jerman. Ia mendatangkan indukan burung cinta berumur 8—12 bulan pada  September 2016. Pada awal 2017, ia baru bisa menghasilkan dua ekor anakan pale fallow hasil perkawinan pale fallow violet jantan dan split pale fallow betina.  Dua anakan itulah yang menjadi rebutan para pehobi lovebird.

580-H021-1

Sugianto Limanto kerap meraih penghargaan di tingkat lokal maupun nasional.

Tes kelamin

Setelah indukan benar, langkah berikutnya adalah merawat lovebird dengan sepenuh hati. “Kawinkan saat umurnya minimal sudah setahun,”ujar Sugianto. Para penangkar bermodal minim, susah mengikuti standar itu. Mereka berpikir, makin cepat menghasilkan piyik, makin cepat pula untung. Peternak lovebird dengan nama farm Kimmig House itu berpikir sebaliknya, “Konsumen melihat kualitas anakan. Meski produksi kita banyak, kalau kualitasnya kurang maka harganya juga kurang. Jadi sebenarnya tetap untung yang bersabar hingga indukan umur setahun,” ujarnya.

Sugianto juga menjadi agen jasa penentuan kelamin burung saat masih piyik dengan teknik pemindaian asam deoksiribonukleat (deoxyribonucleic acid, DNA). Dengan teknik itu, penangkar mengetahui jenis kelamin burung saat berumur 2 bulan. Harap mafhum, perbedaan harga lovebird jantan dengan betina terkadang cukup signifikan. Contohnya loverbird fischeri opaline hijau betina Rp8 juta—Rp9 juta, sementara yang jantan Rp15 juta—Rp17 juta.

580-H021-2

Sugianto Limanto bersama Bernd Ziegenfuss (kanan), juri lovebird bersertifikat internasional asal Jerman.

“Dengan teknik DNA, yang betina bisa segera dijual,” ujar ayah 2 anak itu. Prosesnya cukup mudah. Sugianto meminta konsumen mencabut bulu ekor. “Bulu itu nanti saya kirim di laboratorium di Spanyol. Prosesnya sekitar sepekan, konsumen bisa tahu jenis kelamin anakannya,” ujar Sugianto.  Teknik itu sudah bisa diterapkan di 500-an jenis burung, di antaranya lovebird, macaw, dan cucakrowo.

Baca juga:  Piala Kapolda Metro Jaya 2018 Kampiun Kontes Kukila

Semula Sugianto amat awam dengan lovebird. Pada Maret 2012, sang kakak mengajaknya memelihara lovebird warna lutino. Mulailah ia memelihara 4 ekor lutino. Padahal saat itu Sugianto sudah memelihara anjing dan ikan. “Lama-lama dilihat lucu juga tingkah dan warnanya. Saya penasaran ingin mengetahui lebih dalam,” ujar lelaki kelahiran 1973 itu. Sugianto mulai belajar lovebird ke para pehobi di tanah air hingga Eropa. Ketika itu ia sedang mendapat tugas kerja berkunjung ke Jerman. Penangkar itu memanfaatkan kunjungan ke penangkar lovebird di Jerman dan Belanda. Penangkar dan pehobi lovebird di Jerman menyambut hangat kedatangan Sugianto.

“Mereka kagum, jauh-jauh ribuan kilometer  dari Indonesia ke Jerman untuk belajar lovebird,” ujarnya. Belakangan, ia baru mengetahui ternyata salah satu pehobi di Jerman itu, Bernd Ziegenfuss penangkar top dan juri lovebird bersertifikat internasional. Sugiarto membuktikan, siapa pun, asal serius, bisa mempelajari lovebird. (Bondan Setyawan)

580-H021-3

Sumber : t r u b u s – o n l i n e . c o . i d

0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments