Suara Pemikat Walet

Walet menyukai suara panggilan yang menyerupai suara aslinya. Teknologi tweeter yang memperdengarkan rekaman suara walet berguna untuk merayu burung walet agar bersarang. Kualitas dan penggunaan jenis tweeter salah satu kunci meningkatkan produksi sarang.

“Sebagus apa pun materi suara walet jika kualitas pengeras suara jelek, maka tidak akan berhasil mengundang walet datang,” kata Antonius Darmawan. Peternak sekaligus konsultan pembangunan rumah walet di Kota Surabaya, Provinsi Jawa Timur, itu memanfaatkan tweeter untuk menarik walet.

Tweeter akan memperdengarkan rekaman suara walet sehingga burung-burung liur emas itu yang beterbangan akan bertandang ke rumah walet.

Lima belas tahun lamanya Antonius Darmawan setia menggunakan salah satu merek tweeter dari Maxxindo di Jakarta. “Kualitas suaranya lebih bagus dan jernih,” tuturnya. Demi merayu si liur emas datang, Antonius menggunakan tiga jenis tweeter di setiap rumah walet. Yang paling utama adalah tweeter untuk melantunkan suara panggil, yakni suara untuk memanggil walet agar singgah ke rumah walet.

Jangkauan jauh
Antonius menggunakan tweeter yang melantunkan suara panggil dan dilengkapi dengan pengeras suara (driver) ganda. Menurut konsultan audio di Jakarta, Max, tweeter dengan driver ganda itu memanfaatkan fenomena gelombang konstruktif. Dua buah pengeras suara dengan frekuensi sama dipasang bersebelahan pada jarak tertentu dan keduanya mengarah ke arah yang sama.

Antonius Darmawan memasang tweeter untuk membunyikan suara inap untuk memancing walet menginap dan membuat sarang.

Antonius Darmawan memasang tweeter untuk membunyikan suara inap untuk memancing walet menginap dan membuat sarang

“Suara yang dihasilkan memiliki gelombang baru yang mirip dengan gelombang asli, tapi beramplitudo lebih besar atau bersuara lebih keras,” ujar Max. Hasilnya tweeter itu memiliki jangkauan suara terjauh dan intensitas suara mencapai 100 desibel (dB). Selain itu tweeter di rumah walet Antonius memiliki daya root means square (RMS) 75 watt, maksimal 150 watt.

Daya RMS adalah daya rata-rata yang dapat dibebankan pada pengeras suara (speaker) secara terus-menerus sehingga speaker menghasilkan suara paling keras, tapi kualitas suara tetep baik tanpa merusak speaker itu. Antonius memasang tweeter jenis itu di dekat lubang-lubang masuk. Untuk rumah walet berukuran 250—300 m², Antonius memasang minimal 10 buah tweeter driver ganda untuk membunyikan suara panggil.

Antonius juga memasang tweeter untuk membunyikan suara inap, yaitu suara untuk memancing walet menginap dan bersarang di dalam rumah walet. Ia memasang tweeter itu pada setiap kolom sehingga jumlah tweeter yang digunakan sangat banyak. Untuk rumah walet berukuran 250—300 m² ia memasang 288 tweeter. Untuk memperkuat suara inap, Antonius memasang tweeter yang setipe dan memiliki bentuk corong berbeda.

Bentuk corong itu dibuat khusus sehingga dapat menghasilkan jangkauan suara yang lebih jauh. “Oleh sebab itu tweeter ini juga dapat digunakan untuk membunyikan suara panggil,” kata Antonius.

Ia menggunakan tweeter penguat lebih sedikit, yakni dengan perbandingan 1:4. Artinya, setiap 1 buah tweeter penguat dapat memperkuat 4 tweeter untuk suara inap. Jika jumlah tweeter suara inap 288 buah, maka Antonius memasang 72 buah tweeter penguat.

Lingkungan
Menurut Antonius penggunaan tweeter sangat penting untuk memancing walet bersarang. “Walet terbang hingga 50—60 km untuk mencari makan, lalu kembali ke sarang. Perlu pemikat yang kuat agar walet tidak kembali ke sarangnya di alam, tapi berbelok ke rumah walet yang kita buat,” ujarnya.

Oleh sebab itu, kualitas suara pemanggil walet dan alat pengeras suara yang digunakan harus mampu menghasilkan suara yang mirip dengan kawanan walet di alam.

Penggunaan tweeter berkualitas dapat membantu meningkatkan produksi sarang walet

Penggunaan tweeter berkualitas dapat membantu meningkatkan produksi sarang walet

Antonius menuturkan efek pemakaian tweeter terhadap jumlah produksi sarang tidak akan optimal jika kondisi rumah walet dan lingkungan di sekitarnya tidak sesuai dengan habitat yang diinginkan walet. Menurut Antonius, walet menyukai kondisi ruangan yang gelap, tapi ada beberapa lubang cahaya yang bisa masuk ke dalam rumah walet.

Suhu ruangan juga harus diperhatikan, idealnya berkisar 27—28°C, maksimal 30°C. Kelembapan udara dalam rumah idealnya berkisar 80—90%. “Jika terlalu lembap sarang yang dihasilkan menjadi kuning. Jika terlalu kering, walet enggan untuk membuat sarang,” ujar Antonius.

Lingkungan sekitar rumah walet juga mempengaruhi minat walet datang untuk bersarang. “Sebaiknya di sekitar lokasi rumah walet masih terdapat hutan. Di sana tersedia banyak serangga sebagai sumber pakan,” kata Antonius. Kualitas udara juga harus bersih dan tidak tercemar polusi udara. Pencemaran udara membuat populasi walet yang menghuni rumah walet di Pulau Jawa terus berkurang.

Vegetasi lingkungan berupa hutan di sekitar rumah walet sangat penting sebagai pemasok makanan walet.

Vegetasi lingkungan berupa hutan di sekitar rumah walet sangat penting sebagai pemasok makanan walet

Oleh karena itu, banyak kasus rumah walet baru akhirnya mangkrak meski sudah dilengkapi tweeter karena kondisi lingkungan di sekitar rumah walet tidak disukai walet. Menurut peternak walet di Jakarta Barat, Eddy Wijaya, idealnya rumah walet baru dimasuki si liur emas dan bersarang dalam waktu 3 bulan. “Kalau lebih dari setahun, rumah walet dianggap gagal. Burung walet cuma datang, tapi tidak bersarang,” ujar Eddy.

 

Sumber : t r u b u s – o n l i n e . c o . i d

Tags: