Strategi Merintis Usaha Sarang Burung Walet

Kiat memulai bisnis burung walet yang hemat modal, menekan risiko, dan produktif.

Rahmat Gunawan menyisihkan laba berdagang kelontong sebagai modal berbisnis walet. Warga Desa Buluhnipis, Kecamatan Siakhulu, Kabupaten Kampar, Provinsi Riau, itu akhirnya mampu membangun rumah walet berukuran besar. Gedung 4 lantai itu berdiri gagah di atas tanah 15 m x 8 m. Gunawan menggelontorkan dana hingga Rp480 juta. Hasilnya? “Jauh dari memuaskan,” kata Gunawan.

Menjadi pebisnis sarang liur emas dapat dimulai dengan modal relatif kecil.

Menjadi pebisnis sarang liur emas dapat dimulai dengan modal relatif kecil.

Bangunan masih sepi, burung walet belum juga datang. Malahan sriti yang masuk ke gedung itu. Kejadian pada 2013 itu masih menyisakan perasaan perih. Padahal, Rahmat menggunakan bahan bangunan berkualitas nomor satu supaya rumah walet bertahan dalam waktu hingga belasan tahun. Pembangunan rumah walet itu memakan waktu 5 bulan. Malang tak dapat ditolak, bangunan itu pun akhirnya mubazir.

Bangun sebagian

Meski gencar menawarkan bangunan itu, sampai kini belum ada pihak yang berminat untuk membelinya. Bisnis sarang walet memang salah satu usaha agribisnis yang cukup berpeluang. Bisnis  itu bisa menjadi pekerjaan sampingan, tetapi dapat meraup untung besar dan berpeluang ekspor.

Itulah yang membuat Wahid, warga Kecamatan Mentayahilir Selatan, Kabupaten Kotawaringin Timur, Kalimantan Selatan, juga berbisnis sarang walet.

Walet hidup berkoloni, rumah berukuran kecil pun tetap disukai karena dapat selalu berdekatan sarangnya.

Walet hidup berkoloni, rumah berukuran kecil pun tetap disukai karena dapat selalu berdekatan sarangnya.

Namun, berbeda dengan Rahmat, Wahid merintis usaha sarang walet dengan cara membuat rumah walet secara bertahap. Pada Februari 2015, ia merogoh kocek untuk modal awal Rp200 juta. Modal itu untuk membeli peralatan penunjang dan sebuah gedung untuk menghasilkan sarang walet. Wahid membangun rumah sarang walet di bangunan 3 tingkat berukuran 7 x 5 meter setinggi 11 meter.

Pengerjaan rumah walet itu selama 3 bulan. Selanjutnya Wahid melengkapi bangunan dengan amplifire dan 100 pengeras suara kecil untuk melantangkan suara-suara rekaman cericit walet. “Ada enam speaker dipasang di luar yang aktif pada pukul 05.30—19.00 untuk mengundang burung walet agar mau bersarang di gedung,” kata Wahid. Secara bertahap tapi pasti, mulai banyak burung berliur emas itu yang datang dan menginap di rumah waletnya.

Dua tahun pertama setelah gedung itu berdiri, Wahid memanen 8 ons sarang. Secara bertahap, seiring dengan banyaknya burung yang bersarang di gedung itu, produksi meningkat. Kini Wahid memetik 3—4 kilogram sarang walet sekali panen. Sarang itu terdiri atas bentuk mangkuk seharga Rp12,5 juta (th 2017), sarang sudut (Rp8,5juta), patahan sarang (Rp 5,5-juta), dan remukan sarang (Rp 6,5 juta) per kilogram.

“Dalam setahun saya bisa panen 3—4 kali dengan total pemasukan mencapai Rp50 juta (th 2017),” ujar Wahid. Ayah 3 putra itu mengatakan, pendapatan dari sarang walet itu menjadi tambahan penghasilan bagi keluarga selain dari berdagang kebutuhan pokok.

Dari usahanya itu, kini Wahid mampu membayai sekolah ketiga anaknya di bangku SD, SMA, dan perguruan tinggi. Kini ia membangun lagi rumah walet di bagian belakang bangunan lama.

Risiko kecil

Menurut praktikus walet asal Jakarta Barat, Eddy Setiawan, salah satu taktik untuk menekan modal awal dalam bisnis sarang walet adalah membangun rumah walet secara bertahap. “Itu akan sangat bermanfaat bagi peternak, karena pengerjaan bangunan akan berlangsung cepat dan langsung memulai untuk memancing walet supaya datang dan bersarang,” ujar Eddy Setiawan.

Tags:
Subscribe
Notify of
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments
0
Would love your thoughts, please comment.x