Monadenium magnificum berumur 13 tahun milik Sugita Wijaya.

Monadenium magnificum berumur 13 tahun milik Sugita Wijaya.

Monadenium magnificum berumur 13 tahun milik Sugita Wijaya.Penghuni benua hitam incaran pehobi.

Monadenium memang kurang populer bila dibandingkan kerabatnya, euphorbia dan jatropha. Ahli Botani dari Inggris, Gordon Douglas Rowly, menyebut jumlah monadenium di dunia kurang dari 50 spesies. Semuanya menghuni daratan Afrika. Sosok monadenium beragam mulai dari cactiform, cereiform, geophytes, dan bercabang (parenial dan decidous). Bunganya kecil, berbentuk payung, asimetris, dan berwarna-warni.

Beberapa spesies monadenium akan menggugurkan daun saat masa dorman tiba. Batang monadenium bergetah putih susu khas tanaman keluarga Euphorbiaceae. Penduduk Kenya memanfaatkan getah itu untuk mengobati gangguan kulit seperti gatal-gatal, bisul, dan kutil. Monadenium menyukai tempat tumbuh dengan sinar matahari penuh. Lingkungan hidup yang teduh bisa menyebabkan batang dan daun melunak. Tanaman pun rentan terserang bakteri dan cendawan penyebab busuk.

M. mafingensis mendiami wilayah berpasir dan bersinar matahari penuh.

M. mafingensis mendiami wilayah berpasir dan bersinar matahari penuh.

Afrika
Sugita Wijaya, kolektor di Surabaya, Jawa Timur, mengoleksi 3 spesies monadenium yaitu Monadenium magnificum, M. orobanchoides, dan M. echinulatum. Ia memperoleh koleksinya itu dari sebuah nurseri di Jerman pada 2012. Kini ketiga monadenium itu berumur 13 tahun. Magnificum merupakan spesies endemik Republik Tanzania, Afrika timur. “Ia hidup di tanah-tanah kering dan minim air,” ujar Sugita.

Monadenium pertama kali dideskripsikan oleh Eileen Adelaide Bruce pada 1940. Di habitat asalnya, monadenium mampu tumbuh hingga 1,5 m. Di kediaman Sugita tanaman berumur 13 tahun itu berpenampilan eksotis. Bonggolnya gembung, berwarna cokelat, dan berkulit kasar. Pada permukaan batang muncul duri-duri mungil berwarna merah senada dengan warna daun.

Ciri khas magnificum daunnya oval, lebar, bergelombang, dengan tulang daun tebal berwarna hijau. Bunganya berwarna merah muda-gelap. Pehobi dapat memperbanyak magnificum lewat setek atau biji. Sementara itu, M. orobanchoides bersosok lebih unik. Peter Rene Oscar Bally berhasil mendeskripsikan tanaman yang menghuni wilayah selatan Republik Tanzania dan Zambia itu pada 1959. Sosok orobanchoides tergolong kerdil. Batangnya paling tinggi 6 cm, sedangkan bonggolnya hanya mampu membesar pada diameter 5 cm.

M. orobanchoides menghuni wilayah selatan Republik Tanzania dan Zambia.

M. orobanchoides menghuni wilayah selatan Republik Tanzania dan Zambia.

Orobanchoides berdaun oval dengan permukaan bagian atas berwarna hijau, sedangkan bagian bawah merah. Dedaunan itu tersusun berselang-seling pada batang berwarna merah. Bila memasuki masa generatif akan mengeluarkan bunga berwarna merah muda. Pehobi dapat memanfaatkan biji hasil penyerbukan untuk mendapatkan orobanchoides baru.

Baca juga:  Satu Bonggol 15 Bibit

Adapun M. echinulatum berasal dari barat laut Republik Tanzania dan Zambia. Tanaman yang dideskripsikan oleh Otto Stapf itu hidup di padang rumput savana dan hutan-hutan kering. Bonggol echinulatum berdiameter optimal 20 cm dan berwarna cokelat emas. sedangkan batangnya tumbuh hingga 30 cm. Di ujung batang akan muncul kumpulan bunga berwarna hijau dan putih. Sementara itu, daunnya oval, hijau, dan berbulu halus.

Bonggol Monadenium sp. tanzania membulat sempurna seperti bengkuang dengan kulit keriput berwarna cokelat.

Bonggol Monadenium sp. tanzania membulat sempurna seperti bengkuang dengan kulit keriput berwarna cokelat.

Matahari
Sugita Wijaya menuturkan monadenium tergolong sukulen yang gampang beradaptasi dan mudah dirawat. “Asalkan media tanam porous dan diletakkan pada ruang bersinar matahari penuh maka monadenium tumbuh sehat,” ujarnya. Ia mengandalkan media tanam campuran tanah subur dan pumice dengan perbandingan 1:1. Sugita menuturkan pumice paling tepat sebagai campuran media tanam di tempat bercuaca panas seperti Surabaya.

Pria berkaca mata itu menambahkan pupuk lambat urai untuk kebutuhan nutrisi dan menyiram dua kali sepekan atau ketika media terlihat mengering. Monadenium pun tumbuh sehat. “Lindungi tannaman dari luka mekanis atau gigitan serangga sebab bakteri penyebab busuk masuk melalui akar dan batang yang terluka,” ujarnya. Pehobi lain yang merawat monadenium adalah Fernando Manik di Jakarta Pusat.

M. echinulatum hidup di padang rumput savana dan hutan-hutan kering.

M. echinulatum hidup di padang rumput savana dan hutan-hutan kering.

Ia mendatangkan monadenium dari nurseri-nurseri di luar negeri. Salah satu klangenannya adalah M. mafingensis. Bruce James Hargreaves mendeskripsikan tanaman dari Malawi, Afrika bagian selatan, itu pada 1981. Mafingensis mendiami wilayah berpasir dan bersinar matahari penuh. Bonggolnya cokelat keriput dengan diameter 5 cm dan tinggi batang 24 cm. Daunnya hijau dengan semburat merah dan berbentuk oval dengan tepi keriting.

Baca juga:  Racik Sendiri Pakan Ikan

Ada juga Monadenium sp. tanzania yang berpenampilan unik. “Bonggolnya membulat sempurna seperti bengkuang dengan kulit keriput berwarna cokelat,” ujarnya. Daunnya bulat telur cenderung cekung. Fernando merawat monadenium pada media tanam campuran perlit, sekam bakar, dan pasir malang dengan perbandingan sama.

Alumnus Universitas Bina Nusantara itu meletakkan tanaman di tempat dengan sinar matahari penuh dan menambahkan pupuk lambat urai. Penyiraman hanya dilakukan sesekali saja. “Apabila media sudah terlihat kering itu berarti harus disiram,” ujarnya. Begitulah perawatan sederhana agar monadenium bersosok maksimal. (Andari Titisari)

 

Sumber : t r u b u s – o n l i n e . c o . i d