Sorgum berpotensi sebagai bahan baku gula selain tebu.

Sorgum dapat menghasilkan gula menggantikan gula tebu.

Sorgum dapat menghasilkan gula menggantikan gula tebu.

Panas matahari kemarau di Kecamatan Tepus, Kabupaten Gunungkidul, Yogyakarta, terasa menyengat kulit. Untungnya angin laut selatan berembus dan rimbunan hijau tanaman sedikit meredakannya. Rimbunan hijau itu adalah tanaman jagung cantel alias sorgum. Sejak ditanam di sana pada 2013, sorgum mengubah imaji Tepus yang gersang menjadi hijau meskipun di puncak musim kemarau.

Meskipun petani tidak banyak menikmati biji jagung cantel itu lantaran didahului burung, tanaman itu mendatangkan manfaat lain. Petani di Tepus memanfaatkan batang sorgum setinggi pundak orang dewasa itu sekalian daun sorgum sebagai pakan ternak. Sapi yang biasanya merana akibat kurang makan ketika kemarau memperoleh cukup pakan berupa batang dan daun sorgum.

Olah sendiri
Sejatinya manfaat sorgum tidak sesempit itu. Petani sorgum bisa memangkas pengeluaran untuk membeli gula pasir lantaran sorgum yang mereka tanam sebenarnya bisa menghasilkan gula. Pembuatannya mudah, sederhana, dan bisa dilakukan ibu-ibu di rumah. Dalam batang sorgum terdapat cairan manis, seperti halnya tebu. Namun, cairan itu tersusun atas fruktosa dan pati sehingga pengolahan di tingkat rumah tangga hanya menghasilkan gula cair.

Pasalnya, untuk menghasilkan gula kristal, produsen harus memisahkan pati dengan proses yang cukup rumit agar gula dapat mengkristal menjadi gula pasir. Lagi pula petani tetap dapat menyimpan gula cair dan menggunakannya sewaktu-waktu seperti gula pasir. Masa panen terbaik sorgum untuk bahan gula adalah 80 hari. Sehari sebelum panen, potong malai bunga dan buang daun untuk meningkatkan kadar gula dalam batang sorgum.

Pilih batang sorgum yang sehat bebas serangan hama dan penyakit. Tebang batang sorgum kemudian giling menggunakan juice extractor, selanjutnya saring untuk memisahkan cairan manis dan kotoran kasar. Pascapenyaringan, segera masak cairan batang sorgum sebelum terfermentasi oleh bakteri. Fermentasi menyebabkan rasa cairan menjadi masam sehingga tidak bisa diolah menjadi gula.

Sorgum dapat menghasilkan berbagai macam olahan.

Sorgum dapat menghasilkan berbagai macam olahan.

Prosesnya seperti membuat gula merah, panaskan cairan di wajan atau wadah dengan permukaan luas untuk mempercepat penguapan air. Selama pemanasan, akan muncul buih hijau kecokelatan di permukaan. Saring dan angkat buih itu karena itu merupakan gumpalan pengotor halus yang tenggelam dan lolos dari penyaringan pertama. Lakukan berulang-ulang sampai cairan itu jernih.

Baca juga:  Penghalang Panas Dalam

Sebelum terjadi karamelisasi atau gosong, turunkan suhu dengan mengecilkan api pemanas. Biarkan lapisan kerak di tepi, jangan dikerok karena rasanya pahit. Bila tercampur akan mempengaruhi rasa gula cair yang diperoleh. Panaskan terus hingga mencapai kadar gula yang aman untuk disimpan. Prinsipnya, semakin sedikit volumenya, semakin tinggi kadar gula dan semakin panjang masa simpannya.

Lebih unggul
Kadar gula cair sorgum yang mencapai 60% biasanya memiliki kekentalan yang hampir sama dengan kekentalan madu lebah. Setelah pemasakan, biarkan cairan itu mendingin hingga suhu 60°C lalu tempatkan gula cair itu dalam wadah yang bersih. Tutup rapat wadah itu untuk mencegah kontaminasi bakteri dari luar dan tempatkan di tempat sejuk atau dingin.

Warna gula cair hasil pemanasan bisa berbeda tergantung varietas sorgum dan kandungan sukrosa, fruktosa, glukosa, atau amilum. Biomassa sisa perasan bisa menjadi pakan ternak lantaran masih mengandung serat kasar dan karbohidrat. Sejak  2008 Badan Tenaga Nuklir Nasional (Batan) memuliakan sorgum dengan teknologi iradiasi untuk memperoleh jenis unggul.

Hasilnya varietas sorgum yang sumber cairan manis dengan kandungan gula setara bahkan melebihi tebu. Pengalaman Rahardi Gautama, produsen gula cair di Jombang, Jawa Timur, indeks kemanisan gula cair asal sorgum itu 18—20° briks, melebihi gula tebu yang hanya 15° briks. Masa tanam sorgum sampai panen hanya 80—90 hari, menghasilkan 40 ton batang kupas (tanpa malai bunga dan daun) dengan rendemen gula cair 15%.

Tebu merupakan komoditas utama bahan baku gula pasir.

Tebu merupakan komoditas utama bahan baku gula pasir.

Itu setara 6 ton gula cair per musim tanam. Bandingkan dengan tebu yang masa tanamnya 9—12 bulan. Dalam waktu sama, sorgum sudah panen 3 kali. Produktivitas tebu tanahair maksimal 80 ton per ha dengan rendemen 7%—setara 5,8 ton gula pasir. Terbanting jauh di bawah sorgum yang dalam waktu sama panen 3 kali dengan total produksi 18 ton gula cair.

Baca juga:  Agar Mata Sehat

Jagung cantel alias sorgum itu dapat ditanam berlanjut tanpa jeda sehingga lebih ekonomis daripada tebu. Musababnya, dari pokok akan muncul 2—4 anakan baru yang dapat menghasilkan tanaman sorgum baru. Syaratnya, petani melakukan pemupukan pascapemanenan. Saat ini sorgum ditanam secara luas di beberapa tempat seperti Lamongan, Jawa Timur, seluas 240 ha, Tangerang Selatan (10 ha), dan Nusa Tenggara Timur (800 ha).

Sejak setahun terakhir PT Sedana Panen Sejahtera di Jombang, Jawa Timur, menanam sorgum di lahan 8 ha dan mengolahnya menjadi gula cair. Namun, pada musim hujan tingkat kemanisan gula cair berkurang dari 18—20° briks menjadi 15—16° briks. Pengolahan sorgum menjadi gula pasir seperti gula tebu dapat dilakukan dengan infrastruktur pabrik gula yang ada.

Tinggal menambahkan unit pemisah karbohidrat, pabrik dapat mengolah batang sorgum menjadi gula pasir. Dengan cara itu, biaya investasi dapat ditekan karena tidak perlu membangun pabrik gula yang benar-benar baru. Asal ada kemauan dan kebijakan yang mendukung, sorgum bisa menjadi sumber gula yang lebih menjanjikan daripada tebu. (Dr Ir Supriyanto, Dosen Fakultas Kehutanan Institut Pertanian Bogor dan Peneliti di Lembaga Penelitian Tanaman Kehutanan SEAMEO Biotrop)

Sumber : t r u b u s – o n l i n e . c o . i d