Bulir sorgum hasil penanaman di Gunung Kidul

Bulir sorgum hasil penanaman di Gunung Kidul

Sorgum menghijaukan perbukitan dan memandirikan petani.

Lahan di Desa Purwodadi, Kecamatan Tepus, Kabupaten Gunung Kidul, Yogyakarta, minim hara dan lapisan atas tanah amat tipis. Sudah begitu curah hujan rendah. Itu bukan aral bagi para petani untuk menanam sorgum Sorghum bicolor. Mereka membudidayakan komoditas anggota famili Poaceae itu di lahan 2 ha di 3 lokasi terpisah, yakni di Dusun Ngudal seluas 0,5 ha, Plemahan (0,75 ha), dan Toyarati (0,75 ha). Bibit berasal dari Badan Tenaga Nulir Nasional (Batan).

Dalam 6—7 pekan, kerabat padi itu tumbuh setinggi orang dewasa. Dua bulan pascatanam, sorgum mulai berbunga meski kemarau menyengat. Ketika tanaman anggota famili rumput-rumputan itu berumur 4 bulan, petani memanen bulir sorgum sebagai bibit untuk penanaman berikutnya. Dari kejauhan, permukaan perbukitan di Tepus yang biasanya kering dan cokelat berdebu, pada musim kemarau 2013 tampak hijau. Sorgum terbukti adaptif di daerah beriklim kering dan curah hujan rendah.

 

Sorgum berproduksi optimal di tanah tandus

Sorgum berproduksi optimal di tanah tandus

Benih

Penanaman sorgum irit benih maupun pupuk. Sehektar lahan hanya memerlukan 4,5—5 kg benih dengan jarak 15 cm antartanaman dan 70 cm antarbaris. Total populasi 95.000 tanaman per ha. Petani menanam dengan menugal alias tanam benih langsung. Lantaran menanam di permulaan kemarau, petani menyiram 0,25 liter air per tanaman setiap 3 hari sampai tanaman berumur 21 hari setelah tanam (hst). Selanjutnya, sorgum setinggi 0,5—0,75 m itu tidak perlu penyiraman sampai panen pada umur 4 bulan.

Para petani di Gunung Kidul hanya memberikan pupuk kandang kotoran sapi. Mereka membenamkan 100 kg pupuk kandang per ha sebelum tanam. Kemudian mereka mengulang pemupukan setiap 2 pekan sampai tanaman berumur sebulan. Sebetulnya periset di Badan tenaga Nuklir Nasional (Batan), Prof Soeranto Human. menganjurkan pemberian pupuk secara berkala. Para petani memperoleh benih dari Soeranto Human. Menurut Soeranto pupuk sintetis itu berupa 100 kg Urea, 60 kg TSP, dan 60 kg KCl per ha. Pemberian 3 kali: sepertiga ketika tanam, sepertiga ketika tanaman berumur 3 minggu, sisanya ketika tanaman berumur 7 pekan.

Pengerudungan untuk melindungi butir dari serangan burung

Pengerudungan untuk melindungi butir dari serangan burung

Petani membenamkan pupuk di larik antarbaris lalu menutup kembali dengan tanah. Tanaman berbunga 2 bulan pascatanam. Pada 80 hst alias seminggu menjelang panen, bulir-bulir sorgum ranum itu mengundang kawanan burung untuk datang menyambangi. Untuk melindungi bulir, petani mengerudungi tangkai bulir. Hama lain seperti belalang diusir secara manual atau menggunakan biopestisida racikan mahasiswa Universitas Gunung Kidul, yang antara lain terbuat dari biji mimba dan bawang putih.

Baca juga:  Luka Bakar Tertutup Teripang

Pada bulan ketiga pascatanam, petani memanen bulir-bulir sorgum. Panen pertama pada Juli-Agustus 2012 itu menghasilkan hampir 3 ton bulir dari lahan 0,5 ha. Para petani memanfaatkan bulir-bulir itu menjadi benih untuk penanaman berikutnya. Sampai sekarang, lembaga swadaya masyarakat Kelompok Tani Muda Mandiri (KTMM) di Gunung Kidul terus memperbanyak benih untuk memperluas penanaman. Petani memanfaatkan daun untuk pakan ternak sejak tanaman berumur 3–4 pekan alias setinggi 1 m.

Mandiri

Periset di Batan, Prof Soeranto Human menguji multilokasi 4 varian sorgum hasil iradiasi: pahat, patir-9, patir-11, dan patir-13. Peruntukan keempatnya berbeda. Pahat menghasilkan bulir terbanyak, lebih dari 6 ton per ha sehingga cocok untuk pangan (lihat tabel: Pangan, Pakan, Energi). Adapun patir-11 dan patir-13 cocok untuk pakan ternak dan bioetanol lantaran memiliki batang setinggi lebih dari 3 m. Patir-11 bahkan menghasilkan lebih dari 31 ton biomassa per ha.

Sejak menanam sorgum, para petani berhenti mendatangkan daun atau batang jagung dari luar daerah seperti Bantul, Sleman, atau Klaten untuk pakan ternak sapi. Setiap sapi berbobot di atas  200 kg memerlukan 20 ikat daun jagung seharga Rp5.000 per ikat. Menurut Drs Ag Pat Madyana MSi, pengajar Universitas Gunung Kidul, Biaya pakan selama 6 bulan musim kemarau mencapai Rp18-juta. Itu setara harga sapi dewasa berbobot 600 kg. “Masyarakat menjadikan sapi sebagai investasi, tetapi mereka tidak sadar biayanya lebih mahal ketimbang harganya,” kata Pat.

Sorgum tumbuh subur lebih dari 3 meter di Gunung Kidul

Sorgum tumbuh subur lebih dari 3 meter di Gunung Kidul

Selain itu, mustahil bertani ketika kemarau. Hanya singkong yang ditanam pada awal musim hujan yang mampu bertahan. Namun, pertumbuhan singkong pun tidak optimal. Setiap tanaman paling banter hanya menghasilkan 2 kg umbi setahun pascatanam. Wajar kalau orang lantas menganggap Gunung Kidul, utamanya Kecamatan Tepus, sebagai daerah minus dan tertinggal. Setiap tahun warga beramai-ramai menjadi urban di kota besar, meninggalkan tanah kelahiran mereka sehingga menjadi daerah sepi dan terbelakang.

Baca juga:  Ikan Mas Punten Terlahir Kembali

Kini setelah penanaman sorgum, mereka memanfaatkan daun dan batang sorgum hasil penanaman sendiri. Belanja masyarakat untuk pakan pun bisa teralihkan untuk biaya sekolah anak, biaya pengadaan sarana dan produksi pertanian (saprotan) untuk penanaman sorgum pada musim hujan, serta peningkatan kualitas hidup. Penanaman sorgum juga mengubah wajah Kecamatan Tepus menjadi ijo royo royo pada musim kemarau. Kelak sorgum akan menghijaukan seluruh pelosok Kabupaten Gunung Kidul, mengubah imaji kering dan tandus menjadi hijau dan subur.

Harap mafhum selama ini Gunung Kidul identik dengan daerah tandus dan kering. Air menjadi barang langka dan berharga. Untuk memenuhi kebutuhan air sehari-hari, masyarakat mengandalkan air Sungai Oya yang mengalir di Gunung Kidul. Mereka berjalan menuruni tebing sungai, memenuhi jeriken berkapasitas 20 liter, lalu pulang dengan memanggulnya. Kondisi itu berubah sejak 2012 ketika para petani menanam sorgum. Penanaman Sorghum bicolor itu semula hanya di lahan seluas 2 ha di 3 lokasi terpisah. Kini penanaman sorgum meluas, hingga 4 ha. (Achid Supriyatno, pemerhati lingkungan di Gunung Kidul, Yogyakarta)

534_-135-3

 

 

Sumber : t r u b u s – o n l i n e . c o . i d