Keuntungan Sistem Akuaponik yang Hemat Lahan dan Air 1

Dengan akuaponik, kebutuhan sayuran dan ikan terpenuhi dari pekarangan sendiri.

Itulah yang dirasakan H Ramin Saaman di Kramatjati, Jakarta Timur, sejak 2005. Ia membangun 4 kolam semen masing-masing berukuran 4 m x 6 m dengan kedalaman air 40 cm. Di salah satu kolam, ia menanam kangkung dalam pipa berukuran tiga inci yang melekat di dinding. Enam talang air sepanjang satu meter yang berisi kangkung dan pakcoy ditopang penyangga kayu di tengah kolam.

Media tanam wolkaponik menggunakan campuran zeolit dan kompos.
Media tanam wolkaponik menggunakan campuran zeolit dan kompos.

Ramin memanen kedua sayuran berumur 21 hari itu dengan cara pangkas. Ia tidak menimbang bobot hasil panen itu, tetapi warung sayur di dekat kediamannya langsung membeli seharga Rp20.000 per talang (2015). Dari empat talang, ia memperoleh Rp80.000 per panen (2015).

Dengan cara pangkas, Ramin tidak perlu menanam ulang. Sepuluh hari berikutnya ia panen kedua, sementara panen ke-3—5 sepekan sekali.

Panen ikan

Setelah lima kali panen barulah Ramin menanam ulang sayuran. Singkatnya, pensiunan perusahaan farmasi multinasional itu memperoleh Rp400.000 dari 5 kali panen selama 31 hari, hanya dengan sekali menanam. Itu belum termasuk hasil dari kolam. Kolam itu berisi 800 ikan, terdiri atas nila dan patin. Pada bulan ke-6 pascatebar, Ramin panen. Bobot ikan rata-rata 0,5 kg dengan harga rata-rata Rp15.000 (2015).

Perangkat akuaponik bertingkat alias wolkaponik di BPTP Jakarta.
Perangkat akuaponik bertingkat alias wolkaponik di BPTP Jakarta.

Ayah lima anak itu meraup omzet Rp6-juta setelah 6 bulan atau rata-rata Rp1-juta per bulan (2015). Yang istimewa kakek 5 cucu itu tidak menaburkan pelet pabrik sebagai pakan. Ia hanya memberikan sayuran apkir dari pasar. Kediaman Ramin terbilang dekat dengan Pasar Induk Kramatjati. Total pendapatan per bulan dari kolam akuaponik itu mencapai Rp1,6-juta (2015).

Kompos kasar, campuran media tanam instalasi akuaponik di kediaman Ramin.
Kompos kasar, campuran media tanam instalasi akuaponik di kediaman Ramin.

“Lumayan untuk mengisi waktu,” kata pria yang lahir setelah tentara Jepang mengalahkan penjajah Belanda itu. Kini Ramin tidak lagi menjual sayuran dan ikan dari instalasi akuaponik. “Tetangga langsung mengambil sesuai keperluan mereka. Nanti pas panen pun saya bagi-bagikan begitu saja, sebagian dikonsumsi sendiri,” ungkap pria berusia 72 tahun itu.

Kediaman Ramin Saaman—termasuk kolam ikan dan instalasi akuaponiknya—memang menjadi percontohan program Kawasan Rumah Pangan Lestari. Lantaran tidak semua rumahtangga memiliki pekarangan, beberapa tetangga menjadi “langganan” kebun mini itu. Mereka memanen sesuai kebutuhan dengan cara memangkas, bukan mencabut. Kebun mungil itu sukses memangkas belanja harian keluarga Ramin dan para tetangga.

Baca juga:  Piraweh Ampalu: Buah Jambu Biji Merah Unggulan

Media tanam

Prinsip akuaponik adalah memadukan akuakultur alias budidaya ikan dan hidroponik sayuran atau buah. “Ikan menghasilkan amonia, sementara tanaman memerlukan nitrat dan nitrit,” kata Prof Jordan Hwang, praktikus akuaponik di Taiwan.

Kedua sistem itu dipadukan sehingga air bersih dari amonia dan sisa pakan sementara tanaman memperoleh nutrisi. Sistem hidroponik menjadi penyaring mekanis—kotoran padat—dan biologis air untuk ikan.

Akuaponik di Kawasan Rumah Pangan Lestari Kramatjati, Jakarta Timur.
Akuaponik di Kawasan Rumah Pangan Lestari Kramatjati, Jakarta Timur.

“Jantung” sistem akuaponik adalah bakteri nitrifikasi. Menurut Jordan populasi bakteri menentukan efektivitas pembersihan air dari amonia.

Rahasianya pemilihan media tanam yang mampu mempertahankan populasi makhluk liliput itu. Dalam Small-scale aquaponic food production—Integrated fish and plant farming, Christopher Somerville, konsultan Badan Pangan dan Pertanian Dunia (FAO) menuliskan bahwa setiap 200 g pakan ikan—setara 10 kg ikan—per hari memerlukan sistem penyaringan biologis sampai 300 liter.

Christopher menganjurkan penggunaan batu pecah—seperti yang digunakan untuk bahan bangunan—sebagai filter mekanis dan biologis sekaligus. Dengan konstruksi akuaponik media bed (lihat boks Sistem Akuaponik Anjuran FAO), media batu pecah mampu menyokong ikan hingga 20 kg tanpa perawatan rumit.

Itu berbeda dengan yang dilakukan Ramin Saaman. Ia menggunakan media tanam berupa kompos kasar dan cocopeat dengan perbandingan 1:2.

Kebutuhan sayuran dan ikan rumahtangga Ramin Saaman terpenuhi dari pekarangan.
Kebutuhan sayuran dan ikan rumahtangga Ramin Saaman terpenuhi dari pekarangan.

Kelebihan bahan itu adalah mampu menyimpan banyak air. Ramin hanya menyalakan pompa sirkulasi pada pagi dan sore hari. “Begitu air mengalir dari saluran keluar, pompa saya matikan karena itu menandakan media sudah basah,” kata Ramin. Ia tidak rutin mengganti bahan media, hanya menambahkan media baru ketika jumlahnya berkurang.

Menurut Dr Yudi Sastro SP MP, kepala seksi Kerja sama, Pelayanan, dan Pengkajian Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (KSPP BPTP) Provinsi DKI Jakarta, sejatinya amonia dari kotoran ikan cukup untuk menyokong kehidupan tanaman, terutama sayuran daun.

“Hitungan dasarnya, tangki air berisi 100 ikan berbobot 200—250 g menghasilkan nutrisi yang cukup untuk sayuran daun seluas 16 m2. Kompos hanya menjadi penyangga kalau sewaktu-waktu sebagian ikan dipanen,” kata doktor Mikrobiologi alumnus Universitas Gadjah Mada itu.

Tidak jernih

Yudi lantas mengajak wartawan Trubus Ian Purnama Sari ke halaman samping kantor BPTP. Di sana terpajang 3 instalasi akuaponik dengan rak sayuran lima tingkat yang aktif beroperasi. Rak sayuran berisi selada dan lettuce, sementara bak fiber 0,6 m x 1,2 m dengan air setinggi 30 cm berisi 100 lele. Rak terbuat dari talang polivinil klorida (PVC) dengan dua ukuran: 70 cm dan 50 cm.

Baca juga:  Menariknya Budidaya Ikan Arwana

Rak tanaman itu berisi pot plastik berdiameter 15 cm. Di dalam pot terdapat media tanam paduan zeolit dan kompos dari bekas media cacing dengan perbandingan 3:1. Pompa akuarium berdaya rendah menyedot air dari dasar bak melalui sebuah pipa PVC berdiameter ¾ inci. Air naik ke rak teratas, turun ke rak di bawahnya, demikian seterusnya sampai rak terbawah lalu kembali ke bak fiber.

“Air bebas amonia warnanya justru tidak jernih, agak kecokelatan. Itu air terbaik untuk ikan,” tutur Yudi. Menurut Ir Etty Herawati MSi, kepala BPTP DKI Jakarta, instalasi akuaponik di kantor itu beroperasi terus-menerus. “Sayuran dan ikannya dipanen ramai-ramai oleh rekan-rekan kantor atau tamu dari daerah,” tutur Etty.

Pernyataan Etty menegaskan bahwa instalasi akuaponik itu bekerja efektif, bukan sekadar pajangan yang diisi sayuran dan ikan dari pasar. Dalam ajang Pekan Flora-Flori Nusantara (PF2N) di Makassar, November 2014 lalu, wartawan Trubus Syah Angkasa melihat instalasi serupa di paviliun Balai Penelitian dan Pengembangan Pertanian (Balitbangtan).

Instalasi itu diberi nama wolkaponik, yang berasal dari kata wall gardening—berarti penanaman vertikal—dan hidroponik. “Tujuan wolkaponik memang memaksimalkan tempat yang ada. Luasan tidak sampai 2 m2 mampu menghasilkan sayuran dan ikan untuk konsumsi keluarga,” kata Yudi. Itu sebabnya akuaponik cocok diadopsi rumahtangga untuk memenuhi kebutuhan pangan harian.

Akuaponik di Balai Besar Pelatihan Pertanian Lembang
Akuaponik di Balai Besar Pelatihan Pertanian Lembang

FAO pun menjadikan akuaponik sebagai sarana pemenuhan kebutuhan harian rumahtangga di negara miskin atau usai dilanda konflik. Badan Pangan dan Pertanian Dunia itu merekomendasikan sistem akuaponik dengan konstruksi media bed. Bahan utamanya cukup 3 unit tangki bekas, pipa pvc, rangka besi, dan pompa akuarium berdaya rendah.

Untuk meningkatkan kadar oksigen terlarut, konstruksi media bed mengandalkan sistem bell siphon. Sejatinya tren akuaponik di tanahair bergaung sejak dua tahun silam, seiring kegandrungan orang terhadap penanaman hidroponik. Akuaponik menjadi jawaban bertani di lahan terbatas.

Kunci akuaponik adalah populasi bakteri nitrifikasi
Prof Jordan Hwang

Sumber : t r u b u s – o n l i n e . c o . i d

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *