Siratu Udang Primadona 1

Udang galah baru siratu, produktivitas tinggi, tahan beragam penyakit, dan irit pakan.

Siratu, udang galah unggul dari Balai Besar Pengembangan Budidaya Air Tawar (BBPBAT) di Sukabumi, Jawa Barat.

Siratu, udang galah unggul dari Balai Besar Pengembangan Budidaya Air Tawar (BBPBAT) di Sukabumi, Jawa Barat.

Dua tahun terakhir, Ahya beralih membesarkan udang galah siratu. Dua belas tahun sebelumnya ia selalu membesarkan udang varietas lain. Menurut peternak udang di Desa Cimaja, Kecamatan Cikakak, Sukabumi, Jawa Barat, itu pertumbuhan siratu sangat cepat. Ia membudidayakan udang galah di kolam berukuran 600 m² terdiri atas 8 kolam. Kemampuan hidup siratu tergolong tinggi yaitu di atas 90% setelah tebar.

Jika Ahya menebar 10.000 benih maka udang yang dapat bertahan sampai pentokolan sebanyak 9.000 udang. Dari tiga kali panen itu Ahya memperoleh total 300 kg udang galah. Ayah tiga anak itu bisa memanen 80—100 kg sekali panen di setiap kolam. Ia menjual udangnya ke tempat pelelangan ikan Rp70.000—Rp75.000 per kg. Ahya mengatakan, “Harga itu bisa meningkat sampai Rp100.000—Rp120.000 di saat-saat tertentu seperti Tahun Baru.”

Udang unggul

Peneliti udang di BBPBAT di Sukabumi, Jawa Bara, Dasu Rohana.

Peneliti udang di BBPBAT di Sukabumi, Jawa Bara, Dasu Rohana.

Menurut Ahya pertumbuhan udang galah tampak makin cepat setelah 2,5 bulan tokolan alias pendederan. Pentokolan upaya memisahkan udang yang berukuran 10 gram, 5 gram, dan 2,5 gram. Biasanya peternak udang membeli udang galah dari fase juvenile yang berukuran 1 cm berbobot 1—3 gram. Harga bibit itu Rp40 rupiah per ekor. Pada tahap pentokolan udang sriratu, Ahya mendapatkan udang dengan bobot 10 gram sebanyak 25%—lazimnya hanya 10 %—dan sisanya 5 gram dan 2,5 gram.

Ia memisahkan ketiga ukuran udang itu di kolam berbeda. Setelah tahap pentokolan peternak hanya memerlukan waktu 2 bulan untuk panen pertama. Panen pertama di kolam yang memuat udang berukuran 10 gram saat proses pentokolan. Pada bulan berikutnya Ahya panen kedua di kolam berisi udang berukuran 5 gram dan bulan keempat panen ketiga di kolam dengan bobot 2,5 gram saat pentokolan.

Peternak udang galah varietas siratu di Desa Cimaja, Kecamatan Cikakak, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat.

Peternak udang galah varietas siratu di Desa Cimaja, Kecamatan Cikakak, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat.

Menurut periset di Balai Besar Pengembanagan Budidaya Air Tawar (BBPBAT) di Sukabumi, Provinsi Jawa Barat, Dasu Rohana, pasar meminta udang berukuran 30 atau 30 ekor dalam 1 kg. “Jadi udang yang dipanen bisanya berbobot sekitar 33 gram,” ujar Dasu. Siratu menjadi primadona baru sejak pemerintah merilis pada 16 April 2015. Para petambak kini beralih memelihara siratu, udang galah baru hasil pemuliaan Balai Besar Pengembanagan Budidaya Air Tawar (BBPBAT) di Sukabumi, Provinsi Jawa Barat.

Baca juga:  Naga Manis Lahan Gambut

Siratu memiliki pertumbuhan yang cepat dibandingkan dengan induknya. Macrobrachim rosenbergii itu dapat tumbuh 27,5 gram dalam waktu 2—2,5 bulan. Bandingkan dengan induknya hanya berbobot 2 gram dalam waktu yang sama. Menurut Dasu Rohana, seleksi individu untuk mendapatkan udang dengan pertumbuhan yang cepat.

Benih udang galah berukuran 1 cm.

Benih udang galah berukuran 1 cm.

Induk siratu berasal dari tiga sungai yang berbeda, yaitu Sungai Mahakam di Kalimantan Timur, Citanduy (Jawa Barat), dan Bone (Sulawesi Selatan). Dasu mengatakan, nama siratu diambil dari proses seleksi yang dilakukan yaitu seleksi individu. S singkatan dari Seleksi, I adalah Individu, sedangkan ratu adalah nama tempat asal yaitu Palabuhanratu, ibukota Kabupaten Sukabumi.

Setelah empat tahun menyeleksi, Dasu dan Susi Sorelia mendapatkan udang dengan pertumbuhan lebih cepat 33,68%. Artinya waktu panen siratu juga akan lebih cepat dibandingkan udang galah lainnya. Kelebihan lain siratu adalah bebas virus Macrobrachium rosenbergii nodavirus (MrNV) penyebab penyakit ekor putih atau white tail disease (WTD). Udang galah anyar itu juga tahan terhadap bakteri penyebab penyakit vibriosis.

Dalam budidaya, perkembangan larva udang galah siratu lebih cepat dari F2, sintasan tinggi pada fase pembesaran yaitu lebih dari 80%, dan toleransi lingkungan seperti tingkat keasaman air (pH), suhu, dan sanitasi tinggi yaitu lebih dari 95%. Dengan beragam keunggulan itu pantas jika Ahya dan para peternak lain memilih untuk membesarkan udang galah baru itu. Sejatinya masih ada kelebihan lain udang siratu.

Irit pakan

Udang galah ukuran konsumsi dengan bobot sekitar 33 gram per ekor.

Udang galah ukuran konsumsi dengan bobot sekitar 33 gram per ekor.

Selain itu rasio konversi pakan atau Feed Convertion Ratio (FCR) rendah sehingga irit pakan. Nilai FCR siratu di bawah nilai standar yang ditentukan untuk udang galah, yaitu hanya 1,75. Artinya untuk memproduksi 1 kg udang galah, peternak hanya memerlukan 1,75 kg pakan. Padahal, nilai standar rasio konversi pakan udang galah di Indonesia 2. Jika di bawah itu berarti lebih baik lagi.

Baca juga:  Showa Sanshoku Koi Terbaik

Pertumbuhan udang galah semakin baik jika oksigen tercukupi sekitar 4—5 ppm sehingga metabolisme dan nafsu makan baik. Dari berbagai keunggulan itu, tidak heran jika banyak peternak udang di berbagai daerah seperti Aceh, Bali, Bengkulu, dan Papua meminati siratu. Menurut Dasu permintaan benih udang galah varietas unggul itu sangat tinggi. Itulah sebabnya Dasu membatasi permintaan benih.

“Kadang kami hanya menyetujui setengah dari permintaan peternak. Contohnya, jika mereka minta 50.000 benih maka kami hanya akan menyetujui 25.000,” ujar Dasu. Selain karena ketersedian benih yang belum mencukupi, pembatasan permintaan benih itu juga dimaksudkan agar peternak dari semua daerah kebagian. “Sampai sekarang belum ada peternak yang bisa melakukan perbanyakan sendiri,” ujar periset 44 tahun itu. (Ian Purnama Sari)

Sumber : t r u b u s – o n l i n e . c o . i d

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *