Simbiosis Jabon dan Kapulaga 1
Lahan tumpangsari jabon dengan kapulaga.

Lahan tumpangsari jabon dengan kapulaga.

Tumpangsari jabon dan kapulaga. Kapulaga memberikan tambahan penghasilan dan meningkatkan keseragaman jabon hingga 80%.

Nyaris tidak ada tanah terbuka di kebun jabon seluas 1,4 ha di Desa Pakuwon, Kecamatan Parungkuda, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat itu. Lantai kebun tertutup oleh rimbun daun kapulaga. Meskipun Dharmayugo Hermansyah menumpangsarikan dengan kapulaga, pertumbuhan 875 tanaman jabon tetap super. Sebanyak 80% tegakan Anthocephalus cadamba itu berdiameter lebih dari 20 cm.

Sudah begitu, 15% alias 130 pohon berukuran super mempunyai keliling batang di atas 100 cm. Sisanya, sebanyak 43 tanaman atau sekitar 5% berukuran kuntet dengan diameter kurang dari 15 cm. Pekebun lain biasanya hanya mampu memproduksi sekitar 70% jabon berdiameter batang di atas 20 cm, 30% sisanya berukuran kerdil. Dharmayugo menanam jabon pada Oktober 2011 atau 3,5 tahun silam. Sebelumnya lahan itu hanya ditanami singkong, jagung, dan kacang tanah.

Salah satu jabon tumpangsari berumur 3,5 tahun berukuran super.

Salah satu jabon tumpangsari berumur 3,5 tahun berukuran super.

Ternaungi tajuk
Dharmayugo menanam jabon lantaran tergoda harga yang menggiurkan. “Banyak industri kayu lapis atau pulp membutuhkan pasokan. Harga di pintu pabrik pengolahan kayu bisa mencapai Rp1,2-juta per m3,” kata pegawai sebuah kementerian itu. Minus biaya panen dan transpor, Dharma memperoleh sekitar Rp650.000—Rp700.000 per m3. Pilihan lain, menjual ke perusahaan penggergajian seharga Rp550.000—Rp600.000 per m3.

“Bedanya sedikit, nanti ambil yang paling praktis saja,” ungkap Dharmayugo. Sebelum menanam, Udin, pekerja di kebun Dharmayugo, membuat lubang tanam berukuran 50 cm x 50 cm x 50 cm lalu memasukkan kompos berbahan pupuk kandang dan tanah dengan perbandingan 1:1. Kompos berbahan 50 kg kotoran kambing bisa mengisi 3 lubang, sedangkan kompos berbahan 50 kg kotoran ayam bisa untuk 4 lubang. Selang 3 bulan, Udin menambahkan 50 g NPK per tanaman.

Baca juga:  Konsistensi Tolak Angin

Dharmayugo hanya menanam 875 jabon di lahan 1,4 ha lantaran jarak tanam longgar, 4 m x 4 m. Ia menanam kapulaga di antara tegakan jabon. Pada tahun pertama, Udin menanam kacang tanah di sela jabon. Selama 3 bulan menanam, ia memperoleh total 700 kg kacang tanah dari sekali penanaman. Dengan harga di kebun waktu itu Rp 4.000 per kg, omzet Udin Rp2,8-juta.

Irdika Mansyur, ahli Silvikultur dari Fakultas Kehutanan Institut Pertanian Bogor.

Irdika Mansyur, ahli Silvikultur dari Fakultas Kehutanan Institut Pertanian Bogor.

Pada Januari 2013, jabon mencapai umur setahun dengan tinggi 3—4 m dan mulai membentuk naungan. Dharmayugo pun mencari tanaman toleran naungan tetapi mempunyai nilai tinggi. Berdasarkan berbagai informasi, ia pun memilih kapulaga. Ia mendatangkan 3.000 bibit Amomum compactum dari Kota Ciamis, Jawa Barat. Pekebun itu menanam kapulaga di lubang berukuran 20 cm x 20 cm x 20 cm di sela jabon dengan jarak antarlubang tanam 1,5 meter.

Udin membenamkan 500 g pupuk kandang ke dalam setiap lubang tanam. Tiga hari kemudian, ia menanam sebuah bibit per lubang tanam. “Pertumbuhannya cepat, 3 bulan bertunas,” kata Udin. Berselang setahun pada 2014, Dharmayugo mulai panen buah kapulaga. Sepanjang 2014, ia memperoleh 800 kg buah kapulaga basah. Dengan rendemen 10% dan harga kapulaga kering di tingkat agen berkisar antara Rp35.000—Rp40.000 per kg, jumlah itu setara Rp2,8-juta.

Salah satu jabon tumpangsari berumur 3,5 tahun berukuran super

Salah satu jabon tumpangsari berumur 3,5 tahun berukuran super

Empat kali panen
Menurut Udin, “Baru buah pertama saja sudah sebanyak itu, nantinya semakin tinggi. Apalagi umur produktif kapulaga tidak terbatas karena selalu muncul tunas dan rimpang baru yang dapat menghasilkan buah.” Menurut ayah dua anak itu kapulaga akan panen bagus pada musim kemarau. Sementara pada musim hujan banyak bunga rontok sehingga panen lebih sedikit. Dalam setahun Udin memanen kapulaga empat kali.

Baca juga:  Beras Hitam Jaga Ginjal

Setelah panen ia menyiangi daun tua atau rusak dan menaburkan pupuk NPK di sekitar rumpun kapulaga. Di lahan seluas 1,4 ha dengan populasi 3.000 rumpun itu ia menghabiskan 10 kg pupuk sehingga kebutuhan pupuk dalam setahun mencapai 40 kg. Menurut Dr Ir Irdika Mansur MForSc, dosen Departemen Silvikultur Fakultas Kehutanan Institut Pertanian Bogor, pemeliharaan tanaman tumpang menguntungkan bagi jabon sebagai sari (tanaman utama).

Dharmayugo Hermansyah mengebunkan jabon di Sukabumi, Jawa Barat.

Dharmayugo Hermansyah mengebunkan jabon di Sukabumi, Jawa Barat.

“Selain rutin dirawat sehingga bebas gulma, pupuk tanaman tumpang sedikit banyak ikut terserap oleh jabon. Jenis tanaman hutan lazimnya tidak banyak memerlukan pupuk sehingga kalau ada pupuk yang masuk maka peningkatan pertumbuhan sangat signifikan,” ujar Irdika. Kondisi jabon di lahan Dharmayugo sesuai ucapan Irdika. Pemupukan teratur turut mempengaruhi keseragaman ukuran dan kualitas pohon kerabat kopi itu.

Pemilihan tamaman tumpangsari juga merpengaruhi pertumbuhan jabon. Selain itu tanaman berdaun rapat akan menjaga tanah tetap lembap. Itu sesuai dengan kebutuhan jabon yang memerlukan cukup air untuk tumbuh.

Menurut Irdika selain kapulaga, tanaman rimpang yang memerlukan naungan antara lain kunyit dan lengkuas. Pertumbuhan jabon bagus kalau ditanam di tepi sungai yang mendapat resapan air. “Namun tidak di lahan yang sering tergenang air atau becek seperti bekas sawah,” ujar doktor dari Universitas Kent, Belgia, itu. Dharmayugo berencana memanen jabon sekitar 1,5—2 tahun lagi, atau ketika volume pohon mencapai 0,5—1 m3. “Namun tergantung perkembangan harga, kalau bagus ya saya jual,” ujar Dharmayugo. Ia tidak rugi karena biaya operasionalnya bisa tertutupi oleh hasil penjualan buah kapulaga. (Muhammad Awaluddin)

Sumber : t r u b u s – o n l i n e . c o . i d

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *