Sigit Krisyanto: Brigadir di Ladang Butternut

  • Home
  • trubus
  • Sigit Krisyanto: Brigadir di Ladang Butternut
Sigit Krisyanto: Brigadir di Ladang Butternut 1

Di luar tugas sebagai polisi, Sigit Krisyanto mengebunkan butternut. Omzetnya Rp50-juta per tiga bulan.

Pagi menjadi polisi, sore menjadi petani. Itulah profesi ganda Sigit Krisyanto. Sebelum berangkat kerja, warga Desa Gemolong, Kecamatan Gemolong, Kabupaten Sragen, Provinsi Jawa Tengah, itu memberi petunjuk kepada tiga karyawan yang mengelola kebun labu butternut. Ia juga memantau perkembangan tanaman dari 8 mitra petani butternut dan 15 mitra petani melon.

Sigit memanfaatkan telepon pintar untuk memantau para mitra yang jaraknya berjauhan itu. Mereka mengirim gambar kondisi kebun masing-masing. Selain di Sragen, petani mitranya juga tersebar di Kabupaten Pati, Kudus, Jambi, dan Kalimantan Selatan. Polisi berpangkat brigadir kepala (bripka) itu pun berangkat ke kantornya di Polsek Juwangi, Kabupaten Boyolali, Jawa Tengah.

Bermitra

Bripka Sigit Krisyanto optimis masa depan butternut akan panjang di Indonesia.

Bripka Sigit Krisyanto optimis masa depan butternut akan panjang di Indonesia.

Sigit Krisyanto membudidayakan 500 tananam butternut di lahan 1.000 m². Dua tahun terakhir, tanaman kerabat melon itu amat sohor sebagai komoditas eksklusif. Panen perdana ketika tanaman berumur 5—6 bulan dan berakhir 2—3 pekan kemudian. Sigit menuai total 2,5 ton dalam satu musim tanam. Menurut Sigit dengan perawatan bagus 60—70% termasuk kelas A dengan ciri bentuk buah baik, ukuran besar, dan kulit mulus.

Adapun selebihnya atau 30—40% termasuk kelas B. Namun, konsumen di berbagai daerah memiliki patokan berbeda ketika membeli buah. Ada yang meminta buah besar, lebih dari 1 kg dan ada yang menyukai buah kecil kurang dari 1 kg. Pada Oktober 2016 harga jual butternut kelas A mencapai Rp20.000—Rp25.000 per kg, sedangkan kelas B hanya Rp15.000—Rp20.000 per kg. Sementara bobot sebuah butternut mencapai 500—1.200 g.

Dengan harga butternut kelas A saja rata-rata Rp25.000 per kg, omzetnya minimal Rp30-juta juta plus Rp15-juta dari grade B per sekali panen. Atau total Rp45-juta dalam 5—6 bulan. Sigit mengatakan, biaya awal produksi memang tinggi karena harus membangun para-para tempat bergantung labu enak itu. Biaya sekitar Rp10-juta per 1000 m². Laba bersihnya minimal Rp35-juta per 5—6 bulan.

Baca juga:  Potret Pasar Labu Butternut

Dalam setahun Sigit 2 kali membudidayakan tanaman anggota famili Cucurbitaceae itu. Ia menanam kerabat peria itu menyesuaikan permintaan. Sigit pernah membudidayakan 500—1.000 tanaman. Ia pun melihat lokasi tanah yang akan ditanami. Selain dari lahan sendiri, Sigit juga memperoleh pasokan buah dari para petani mitra. Kerja sama saling menguntungkan itu terjalin sejak setahun silam karena tingginya permintaan butternut.

Ketika dari lahan sendiri tak mencukupi, maka Sigit pun bekerja sama dengan para petani mitra di berbagai daerah. Untuk menemui mitra itu, Sigit tidak sungkan mengeluarkan dana dari kocek pribadi. Sigit meminjamkan modal berupa benih, pupuk, dan pestisida tanpa mengambil untung. Para petani mitra mengembalikan modal setelah panen. Itulah sebabnya Sigit mengontrol penanaman sejak penyemaian, penanaman, pemupukan, hingga panen.

Permintaan besar
Menurut Sigit biaya produksi untuk pengadaan benih, pupuk, dan pestisida mencapai Rp5-juta—Rp8-juta di lahan 1.000 m² per periode tanam. Sigit memiliki standar tersendiri agar petani mampu menghasilkan buah berkualitas prima. Bila para petani mitra mengikuti saran-sarannya dalam membudidayakan butternut, maka jika gagal panen petani tidak menanggung biaya produksi. Mereka hanya rugi tenaga.

Namun, jika petani mitra menolak standar budidaya yang ia terapkan, maka petani juga menanggung kerugian sehingga harus mengembalikan biaya produksi itu. Oleh karena itulah Sigit memantau secara ketat cara kerja mereka karena tidak ingin rugi. Dari petani mitra yang mengelola total 1—1,5 ha lahan, ia memetik 2,5—3 ton buah per bulan. Sigit memang berupaya mengatur waktu tanam bergilir bagi para anggota agar panen berkesinambungan.

Dengan harga butternut kelas A rata-rata Rp20.000 per kg, dengan produksi 2.500 kg, omzetnya minimal Rp50-juta per panen atau Rp100-juta per tahun. Pria kelahiran Januari 1982 itu hanya mengutip laba butternut Rp2.000 per kg. Sigit memang mesti mengeluarkan biaya transportasi yang cukup besar. Karena labu cantik itu tahan simpan hingga 6 bulan, sehingga ia mengangkutnya setelah volumenya cukup banyak.

Sigit Krisyanto melakukan penyuluhan pengolahan butternut kepada ibu-ibu Pemberdayaan Kesejahteraan Keluarga.

Sigit Krisyanto melakukan penyuluhan pengolahan butternut kepada ibu-ibu Pemberdayaan Kesejahteraan Keluarga.

Dari kerja sama dengan mitra, omzet Sigit Rp5-juta per bulan. Ayah tiga anak itu mampu memasarkan hingga 2,5 ton butternut per bulan. Sigit menjual buah kelas A ke pasar swalayan di berbagai kota seperti Surakarta, Provinsi Jawa Tengah serta Malang dan Surabaya, Provinsi Jawa Timur. Permintaan buah butternut sejatinya lebih besar, hingga 5 ton per bulan. Namun, Sigit hanya mampu memasok 2,5 ton per bulan.

Baca juga:  Ladang Mutiara

Salah satu kendalanya ialah waktu. Dengan 8 petani butternut dan 15 petani melon binaan, waktunya sudah habis. Apalagi petani dan pedagang buah butternut dan melon hanya kegiatan sampingan. Pekerjaan sebagai polisi tetap yang utama. Ia bersyukur bahwa kegiatan memberi penyuluhan ke masyarakat sejalan tugasnya melakukan pembinaan, keamanan, dan ketertiban masyarakat.

Pria kelahiran 35 tahun silam itu juga mengolah labu butternut untuk mengantisipasi bila suatu saat harga anjlok. Bersama ibu-ibu Pemberdayaan Kesejahteraan Keluarga, mereka membuat lebih dari 20 penganan berbahan labu butternut. Dengan mengolah ia dan mitranya tetap mendapatkan nilai tambah dari olahan labu asal Amerika latin itu. Sigit mengolah butternut menjadi macam-macam makanan, seperti bolu, pasta, bipang, dan keripik pangsit.

Labu butternut terbukti lezat diolah menjadi beragam olahan bergizi tinggi. Pada pameran Fruit of Indonesia 2016 di Parkir Timur Senayan, Jakarta Pusat, Sigit mampu menjual 200 pak aneka penganan berbahan butternut, 300 kg butternut, dan 300 kg melon. Penjualan itu selama 4 hari ekshibisi. (Syah Angkasa)

Sumber : t r u b u s – o n l i n e . c o . i d

Tags:
Subscribe
Notify of
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments
0
Would love your thoughts, please comment.x