Budi Haryono, S.Si menemukan sistem hidroponik yang efisien

Budi Haryono, S.Si menemukan sistem hidroponik yang efisien

PT Indmira merancang perangkat hidroponik yang mampu menghemat biaya investasi hingga 50% dari biaya investasi hidroponik konvensional.

Di lahan 5.000 m² milik PT Indmira itu terdapat 30 perangkat hidroponik. Namun, rancangan perangkat hidroponik di lembaga riset dan konsultan pertanian di Kecamatan Pakem, Kabupaten Sleman, Yogyakarta, itu berbeda dengan perangkat hidroponik yang kerap dijumpai. Di PT Indmira, stirofoam menutupi talang-talang atau gully perangkat hidroponik teknik nutrient film technique (NFT).

Uniknya, gully pada perangkat hidroponik NFT di PT Indmira menggunakan pipa polivinil klorida (PVC) berdiameter 2,5 inci yang dibelah menjadi dua. Beberapa produsen sayuran hidroponik lain biasanya menggunakan pipa PVC utuh, lalu membolongi permukaan pipa sebagai lubang tanam. PT Indmira menempatkan gully dari pipa yang dibagi dua itu di permukaan rak besi berukuran 2 m x 8 m. Satu rak itu mampu menopang 16 batang pipa yang telah dibagi dua. Salah satu sisi rak berketinggian 80 cm, sisi lain 60 cm. Selisih ketinggian 20 cm itu membuat rak terlihat miring. Dengan kemiringan itu larutan nutrisi mudah mengalir dengan bantuan gaya gravitasi bumi.

Mulsa
Budi Haryono, S.Si, peneliti hidroponik PT Indmira, menutup talang pipa dengan stirofoam diselimuti mulsa. Menurutnya mulsa itu berfungsi memantulkan sinar matahari sehingga tidak hanya permukaan daun yang terpapar sinar matahari, tapi juga bagian bawah daun. Dengan begitu Budi berharap tanaman dapat berfotosintesis lebih optimal.

Tanaman kangkung tumbuh optimal meski menggunakan perangkat hidroponik yang efisien.

Tanaman kangkung tumbuh optimal meski menggunakan perangkat hidroponik yang efisien.

Budi menggunakan stirofoam untuk menutup gully karena stirofoam isolator yang baik. Efeknya larutan nutrisi di dalam pipa tidak menjadi panas meski terpapar sinar matahari. Suhu larutan nutrisi yang terlalu tinggi dapat membahayakan tanaman. Tatag Hadi membenarkan faedah positif penggunaan stirofoam dalam hidroponik. Menurutnya bahan itu juga dapat mencegah penguapan larutan nutrisi yang berlebihan sehingga pekebun tidak perlu terlalu sering mengganti atau menambahkan larutan nutrisi.

Budi lalu melubangi stirofoam berbalut mulsa itu untuk lubang tanam. Jumlah lubang tanam pada setiap rak berbeda tergantung jenis tanaman. Untuk penanaman selada, satu rak berukuran 2 m x 8 m terdiri atas 400 lubang tanam atau jarak tanam 20 cm x 20 cm. Jika yang ditanam kangkung cukup untuk 1.000 lubang tanam atau jarak tanam 12 cm x 12 cm. Jarak lubang tanam selada lebih renggang karena bertajuk lebar. Sosok kangkung lebih ramping sehingga lubang tanam lebih rapat.

Baca juga:  Sprinkler

Menurut Budi, perangkat hidroponik di PT Indmira sengaja dibuat sehemat mungkin. Penggunaan pipa yang dibelah dua salah satu siasat menghemat biaya investasi. Dengan membelah pipa menjadi dua, berarti biaya untuk membuat gully hanya separuh dari biaya gully pipa utuh. Budi juga memangkas biaya dengan tidak menggunakan netpot. Budi meletakkan tanaman di permukaan dasar pipa. Agar tanaman tidak hanyut terbawa aliran nutrisi, Budi memindahkan tanaman dari perangkat persemaian ke pembesaran setelah tinggi tanaman 8 cm. Dengan begitu tanaman tertahan batang yang menjulang.

Menghemat rockwool
Budi juga menghemat penggunaan rockwool sebagai media semai. Pekebun hidroponik biasanya memotong rockwool untuk media semai berukuran 2,5 cm x 2,5 cm. Dengan ukuran itu menghasilkan 720 buah dari selembar rockwool 1 m². Budi memotong rockwool untuk media semai lebih kecil lagi, terutama untuk budidaya sawi. Dari selembar rockwool berukuran 1 m² menghasilkan 1.600 potong. “Potongan media semai memang menjadi lebih kecil. Namun, berdasarkan penelitian sejak 2012 sampai sekarang tanaman tumbuh dengan baik,” ujarnya.

Desain perangkat hidroponik hemat ala PT Indmira.

Desain perangkat hidroponik hemat ala PT Indmira.

Siasat lain untuk menghemat penggunaan rockwool adalah dengan meningkatkan populasi tanaman per lubang tanam. Caranya dengan membuat sayatan-sayatan diagonal di permukaan potongan rockwool untuk media semai, terutama untuk komoditas kangkung. Jarak antarsayatan sekitar 3 mm. Budi lalu memotong rockwool berukuran 2 cm x 2 cm. Pada setiap potongan media semai ukuran itu rata-rata terdiri atas 6 sayatan.

Biasanya, setiap potongan media semai hanya berisi 2—3 benih kangkung. “Dengan sayatan itu pekebun bisa mengisi potongan media semai dengan benih sebanyak-banyaknya. Yang penting benih tidak boleh tumpang tindih,” ujar alumnus Jurusan Kimia Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (MIPA) Universitas Negeri Yogyakarta itu. Saat berkecambah, akar muncul di sekeliling media dan tanaman akan tumbuh bergerombol ke atas.

Baca juga:  Paruh Bengkok Baru: Elok Suara dan Rupa

Pada masing-masing rak perangkat hidroponik, Budi memasang naungan yang ditopang tiang besi hollow. Menurut Budi naungan itu menggantikan peran greenhouse untuk melindungi tanaman dari paparan sinar matahari langsung dan air hujan. Pada bagian pinggir naungan dipasang kelambu untuk mencegah serangan hama. “Konstruksi besi hollow relatif lebih murah daripada baja ringan, tapi kekuatannya hampir sama,” katanya. Untuk naungan Budi menggunakan atap berbahan plastik dengan harga Rp16.000 per meter, bukan plastik ultraviolet (UV) yang harganya mencapai Rp35.000—Rp55.000 per meter.

Langgar pakem
Sebagai sumber nutrisi, Budi menggunakan AB mix yang ditampung dalam drum plastik berkapasitas 130 liter yang ditanam di bawah masing-masing instalasi. Ia menggunakan pompa air berdaya listrik 38 watt untuk mengalirkan larutan nutrisi ke perangkat hidroponik. Uniknya, Budi tidak menggunakan pH meter dan EC meter untuk mengukur tingkat keasaman dan konsentrasi larutan nutrisi. Ia hanya menggunakan takaran konsentrasi 5 ml AB mix per liter air. “Ukuran itu berlaku untuk semua umur tanaman dari kecil hingga siap panen,” ujar Budi. Takaran konsentrasi itu ia peroleh dari hasil penelitian. Penambahan konsentrasi nutrisi dilakukan jika ada tanaman yang terlihat layu atau menguning serempak.

Namun, pakar hidroponik di Jakarta, Yos Sutiyoso, tidak sepakat dengan pemberian nutrisi tanpa alat ukur pH dan EC meter. “Dalam hidroponik itu terdapat ukuran-ukuran yang harus diikuti. Tidak boleh sembarangan menyederhanakan sampai seekstrim itu,” ujarnya. Menurut praktikus hidroponik asal Kota Bandung, Jawa Barat, Charlie Tjendapati, dalam usaha hidroponik skala industri sering muncul teknik-teknik baru yang tidak sesuai dengan “pakem” berhidroponik. Charlie berpendapat hal itu sah-sah saja selama mampu menghasilkan produk berkualitas prima.

Budi menuturkan berbagai upaya efisiensi itu mampu menghemat biaya investasi hingga 50% dari total biaya investasi instalasi hidroponik yang lazim diterapkan. Toh hasilnya tetap optimal. Dari ke-30 perangkat hidroponik yang dimiliki PT Indmira, mampu menghasilkan 1,6 ton aneka jenis sayuran, seperti selada, caisim, pakcoy, dan kangkung, per bulan. Hasil panen sayuran itu untuk memasok pasar swalayan di Yogyakarta. (Muhammad Hernawan Nugroho)

Sumber : t r u b u s – o n l i n e . c o . i d